BERLIN – Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) memicu gelombang perdebatan sengit di seluruh Jerman setelah secara kontroversial menuding arsitektur modern sebagai tidak Jerman. Pernyataan ini, muncul seabad setelah puncak pergerakan modernisme di Eropa, melancarkan apa yang disebut sebagai Kulturkampf atau perang budaya baru, menargetkan fondasi identitas nasional melalui lensa estetika bangunan.
AfD, yang dikenal dengan agenda nasionalisnya, secara terbuka mempertanyakan legitimasi gaya arsitektur yang telah mendominasi lanskap urban Jerman selama beberapa dekade. Narasi partai tersebut berpusat pada klaim bahwa desain kontemporer, dengan garis-garis minimalis dan fungsionalitasnya, gagal mencerminkan jiwa dan tradisi arsitektur Jerman yang otentik.
Wacana ini tidak hanya terbatas pada kritik estetika semata. Banyak pihak menyinyalir bahwa ini merupakan upaya untuk mengukuhkan pandangan politik sempit yang memanipulasi sejarah budaya demi keuntungan elektoral menjelang tahun 2026.
Frasa setelah 100 tahun mengacu pada periode pasca-Perang Dunia I, ketika gerakan Bauhaus dan modernisme fungsional mulai mendapatkan pijakan kuat di Jerman. Arsitektur pada era tersebut merepresentasikan pemutusan dengan tradisi kekaisaran dan pencarian identitas baru setelah gejolak besar.
Periode tersebut ditandai dengan inovasi radikal dalam desain dan konstruksi, yang seringkali diinterpretasikan sebagai simbol kemajuan dan rasionalitas, namun juga dikritik sebagai sesuatu yang impersonal atau asing oleh kelompok konservatif pada masanya.
Kini, seabad kemudian, AfD berupaya membangkitkan kembali sentimen serupa, menginterpretasikan ulang warisan arsitektur sebagai arena pertempuran ideologis. Sebuah pernyataan dari juru bicara AfD, yang tidak disebutkan namanya namun dikutip luas, menyatakan bahwa kami tidak akan membiarkan Jerman kehilangan wajahnya oleh bangunan-bangunan tanpa karakter yang mengkhianati sejarah kami.
Partai tersebut tampaknya mengambil keuntungan dari ketidakpahaman publik akan nuansa sejarah arsitektur, menyederhanakan isu kompleks menjadi narasi yang mudah dicerna dan sarat prasangka. Mereka berharap masyarakat akan menerima pandangan sempit tentang budaya Jerman yang tersekonstruksi secara politis. Strategi ini mengingatkan pada strategi politik populis di Sachsen-Anhalt, tempat isu identitas seringkali dimainkan untuk meraih dukungan massa.
Para sejarawan seni dan arsitek terkemuka segera mengecam pernyataan AfD, menyebutnya sebagai distorsi sejarah dan upaya mempolitisasi bidang seni. Mereka berargumen bahwa arsitektur Jerman selalu merupakan hasil dari berbagai pengaruh dan evolusi yang dinamis.
Gagasan tentang arsitektur Jerman yang homogen dan murni adalah mitos berbahaya, ujar Profesor Lena Schmidt dari Universitas Humboldt, Berlin. Sejarah kita kaya akan percampuran gaya dan inovasi, bukan isolasi yang stagnan. Kritik juga datang dari partai-partai oposisi, yang menuduh AfD mengalihkan perhatian dari isu-isu substansial dengan menciptakan kontroversi budaya yang tidak perlu. Fenomena ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang penggunaan budaya sebagai alat untuk tujuan politik, sebuah taktik yang sering terlihat dalam debat identitas di negara-negara Eropa lain.
Analisis Redaksi: Langkah AfD mempolitisasi arsitektur modern sebagai tidak Jerman merupakan strategi yang cerdas namun berbahaya. Ini menunjukkan bagaimana partai populis terus berinovasi dalam mengeksploitasi sentimen publik dan ketidakpastian identitas di tengah masyarakat Eropa. Alih-alih berfokus pada solusi konkret, mereka memilih perang budaya yang mengandalkan prasangka, berisiko mereduksi diskusi penting tentang warisan budaya menjadi ajang polarisasi politik. Kredibilitas argumen mereka akan diuji oleh sejarawan dan pakar, namun dampak polarisasinya mungkin sudah terlanjur mengakar kuat di akar rumput.