DOHA – Folarin Balogun, penyerang muda berbakat yang memperkuat tim nasionalnya, harus meninggalkan lapangan setelah diganjar kartu merah langsung menyusut intervensi Video Assistant Referee (VAR) dalam pertandingan sengit Piala Dunia 2026. Insiden pelanggaran keras terhadap pemain Bosnia Muharemovic di pergelangan kaki ini sontak memicu perdebatan, terutama karena mengingatkan publik pada kontroversi keputusan VAR yang berbeda dalam kasus Lionel Messi di Piala Dunia sebelumnya.
Momen krusial tersebut terjadi pada menit ke-XX pertandingan, ketika Balogun mencoba merebut bola dari penguasaan Muharemovic. Namun, tekelnya terlalu tinggi dan keras, mengenai pergelangan kaki lawan secara signifikan. Wasit utama yang awalnya hanya memberikan kartu kuning, segera dipanggil oleh tim VAR untuk meninjau ulang insiden tersebut di monitor pinggir lapangan.
Tayangan ulang VAR memperlihatkan dengan jelas betapa berbahayanya pelanggaran Balogun. Gerakannya dinilai membahayakan integritas fisik Muharemovic, memenuhi kriteria untuk pelanggaran serius yang layak diganjar kartu merah. Setelah beberapa saat meninjau rekaman dari berbagai sudut, wasit akhirnya mengubah keputusannya, menarik kartu kuning dan menggantinya dengan kartu merah langsung yang memaksa Balogun keluar dari lapangan hijau.
Keputusan ini sontak menimbulkan reaksi beragam, baik dari bangku cadangan tim Balogun maupun para penggemar di stadion. Para komentator pertandingan segera menyoroti persamaan insiden ini dengan momen kontroversial di Piala Dunia sebelumnya, ketika megabintang Argentina, Lionel Messi, melakukan pelanggaran serupa pada pertandingan pembuka melawan Aljazair.
Kala itu, insiden Messi yang juga mengenai pergelangan kaki pemain lawan, luput dari tinjauan VAR yang ketat. Messi tetap berada di lapangan, dan keputusannya tidak ditinjau ulang secara mendalam oleh teknologi video. Perbedaan penanganan ini kini menjadi sorotan utama, memunculkan pertanyaan tentang konsistensi penerapan standar VAR di turnamen sekelas Piala Dunia.
Banyak pengamat sepak bola berpendapat bahwa VAR di Piala Dunia 2026 menunjukkan peningkatan keberanian dalam mengambil keputusan tegas, dibandingkan edisi sebelumnya. “Ini menunjukkan bahwa otoritas sepak bola berusaha belajar dari kesalahan masa lalu dan menerapkan keadilan yang lebih merata,” ujar seorang analis sepak bola senior dalam siaran langsung.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan standar ganda yang seolah masih membayangi. “Apakah ini berarti VAR hanya berani bertindak tegas terhadap pemain yang bukan mega bintang seperti Messi?” tanya seorang pengguna media sosial, mewakili keresahan sebagian publik yang menuntut transparansi dan keseragaman keputusan VAR. Perdebatan ini turut meramaikan lini masa digital, dengan tagar #VARConsistency dan #PialaDunia2026 menjadi tren.
Kehilangan Folarin Balogun tentu menjadi pukulan telak bagi timnya. Dengan absennya salah satu penyerang utama, strategi permainan tim kemungkinan besar harus diubah. Potensi sanksi larangan bermain dalam beberapa pertandingan ke depan juga menjadi ancaman serius, yang dapat memengaruhi perjalanan tim di fase grup yang krusial.
Manajemen tim dan pelatih diperkirakan akan segera merespons insiden ini, baik dengan mengajukan banding jika memungkinkan, maupun dengan menyiapkan pemain pengganti untuk menghadapi pertandingan berikutnya. Situasi ini menambah dinamika dan ketegangan di tengah persaingan ketat Piala Dunia 2026.
Kasus Balogun ini sekali lagi menegaskan peran VAR yang terus berkembang dalam sepak bola modern. Meskipun bertujuan meningkatkan keadilan, penerapannya masih sering memicu polemik. Insiden serupa, seperti keputusan kontroversial VAR yang mengiringi tersingkirnya beberapa tim unggulan di babak sebelumnya, menjadi bukti bahwa teknologi ini, meski canggih, tetap membutuhkan interpretasi manusia yang konsisten dan imparsial.
FIFA selaku badan tertinggi sepak bola dunia, menghadapi tantangan besar untuk memastikan bahwa VAR berfungsi sebagai alat bantu yang benar-benar adil dan bukan sumber kontroversi baru. Konsistensi dalam pelatihan wasit dan pembaruan pedoman VAR menjadi kunci untuk menjaga integritas kompetisi global.
Dengan Piala Dunia 2026 yang masih menyisakan banyak pertandingan krusial, publik berharap insiden seperti Balogun dan perbandingan dengan kasus Messi ini akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem VAR. Tujuannya adalah menciptakan turnamen yang tidak hanya spektakuler dalam kualitas permainan, tetapi juga menjunjung tinggi sportivitas dan keadilan di setiap keputusan wasit.