JAKARTA — Sebuah riset terbaru di tahun 2026 mengungkap fakta mengejutkan: 73 persen dari seluruh pekerja di berbagai sektor di Indonesia, dan secara global, tetap menjalankan tugas profesional mereka saat sedang cuti liburan. Fenomena ini, yang sering kali disalahpahami sebagai akibat dominasi teknologi digital, justru disebut berakar pada kondisioning sosial yang mendalam.
Psikolog kerja terkemuka, Johann Weichbrodt, mengemukakan bahwa masalah utama bukanlah perangkat gawai atau konektivitas internet yang semakin canggih, melainkan ekspektasi dan norma masyarakat yang tanpa disadari menjerat individu dalam siklus kerja berkelanjutan. "Masalahnya bukan pada tekniknya, tetapi pada kondisioning sosial," tegas Weichbrodt dalam wawancara baru-baru ini, menggarisbawahi esensi dari permasalahan ini.
Weichbrodt menjelaskan, perangkap utama yang membuat karyawan sulit melepaskan diri dari pekerjaan selama liburan adalah adanya tekanan internal dan eksternal. Seringkali, individu merasa bersalah atau khawatir tertinggal jika tidak memeriksa email atau merespons pesan kerja, meskipun sedang dalam masa istirahat yang seharusnya privat.
Atasan memegang peranan krusial dalam membentuk budaya kerja ini. Jika pimpinan secara konsisten mengirimkan email atau meminta respons di luar jam kerja, bahkan saat karyawan libur, ini secara tidak langsung menciptakan ekspektasi bahwa semua orang harus selalu siaga. Lingkungan seperti ini secara bertahap mengikis batasan antara kehidupan profesional dan pribadi, menjadikannya abu-abu dan tidak jelas.
Fenomena ini semakin kompleks dengan munculnya Generasi Z di pasar kerja. Weichbrodt mengamati bahwa generasi ini memiliki karakteristik unik dalam berinteraksi dengan dunia kerja. Mereka dikenal menghargai keseimbangan hidup, namun ironisnya, juga tumbuh dalam era di mana konektivitas digital adalah kenormalan, membuat batas antara kerja dan non-kerja menjadi semakin kabur bagi mereka.
Pergeseran ekspektasi ini tidak hanya datang dari atasan, tetapi juga dari rekan kerja dan bahkan diri sendiri. Budaya kerja yang serba cepat dan kompetitif seringkali membuat individu merasa wajib untuk terus menunjukkan dedikasi, bahkan dengan mengorbankan waktu istirahat esensial.
Akibatnya, banyak karyawan mengalami apa yang disebut Weichbrodt sebagai "liburan palsu", di mana raga berada di tempat rekreasi, tetapi pikiran tetap terpaku pada urusan kantor. Kondisi ini tidak hanya menghambat pemulihan fisik dan mental, tetapi juga dapat memicu stres kronis dan kelelahan.
Untuk memutus siklus ini, Weichbrodt menyarankan agar individu secara sadar menetapkan batasan yang tegas. Ini termasuk mematikan notifikasi kerja, menonaktifkan aplikasi terkait pekerjaan dari gawai pribadi, dan berkomitmen untuk tidak memeriksa email selama durasi liburan. Komunikasi yang jelas dengan atasan dan rekan kerja sebelum cuti juga sangat penting untuk mengelola ekspektasi.
Lebih dari itu, peran perusahaan dalam membangun budaya yang mendukung istirahat sangatlah vital. Kebijakan yang eksplisit mengenai hak untuk sepenuhnya memutus hubungan kerja selama liburan, serta pelatihan bagi manajer tentang pentingnya menghormati batasan ini, perlu diimplementasikan secara serius pada tahun 2026 dan seterusnya.
Weichbrodt menyoroti bahwa perubahan ini bukan tentang menolak kemajuan teknologi, melainkan tentang menggunakannya secara bijak dan manusiawi. Teknologi seharusnya menjadi alat yang memudahkan, bukan belenggu yang mengikat individu pada pekerjaan tanpa henti. Kesadaran kolektif dan upaya bersama diperlukan untuk mengembalikan makna sejati dari liburan.
Apabila dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini berpotensi menurunkan produktivitas jangka panjang, meningkatkan angka _burnout_, dan mengurangi inovasi. Lingkungan kerja yang sehat adalah fondasi bagi karyawan yang bahagia dan produktif, serta pada akhirnya, bagi kesuksesan organisasi.
Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kerja dan bagaimana generasi mendatang akan menavigasi tuntutan profesional tanpa mengorbankan kesejahteraan pribadi. Pendidikan mengenai keseimbangan hidup dan kemampuan untuk "mematikan" pikiran dari pekerjaan menjadi keterampilan esensial di era modern.
Pada akhirnya, solusi terletak pada pemahaman bahwa liburan bukan sekadar hak, melainkan kebutuhan fundamental bagi kesehatan mental dan fisik. Mendorong budaya di mana "melepas diri" sepenuhnya saat liburan dihargai, bukan dicemooh, akan menjadi langkah revolusioner dalam dunia kerja kontemporer.