BERLIN — Pakar studi Islam terkemuka, Susanne Schröter, melayangkan kritik tajam terhadap respons pemerintah Jerman pasca-insiden serangan pada Parade Hari Kebanggaan (CSD) 2026. Ia menegaskan adanya kelalaian dalam menghadapi ancaman serius dari ideologi Islamisme, yang menurutnya kerap diremehkan, dan secara langsung berdampak pada efektivitas perlindungan acara publik berskala besar.
Pernyataan Schröter ini muncul setelah serangkaian insiden yang mengguncang Jerman, termasuk teror van yang menghantam massa CSD di Berlin. Insiden ini, yang menewaskan satu orang dan memicu perburuan pelaku radikal, telah mengungkap kerentanan keamanan di tengah perayaan publik.
"Jika Anda memiliki banyak Islamis di negara ini, Anda hampir tidak bisa secara efektif melindungi acara semacam itu," ujar ilmuwan Islam tersebut, menegaskan bahwa jumlah individu yang berpotensi menjadi ancaman (Gefährder) tidak proporsional dengan kemampuan negara untuk menjamin keselamatan.
Ia secara khusus memperingatkan agar tidak meremehkan bahaya Islamisme. Menurut Schröter, sikap abai atau minimnya pemahaman mendalam tentang ideologi ekstrem ini berpotensi membuka celah bagi aksi teror serupa di masa mendatang, terutama dalam konteks acara yang mengumpulkan banyak orang.
Serangan terhadap CSD Berlin tahun 2026 bukan sekadar insiden tunggal. Ini merupakan salah satu dari beberapa peristiwa yang menggarisbawahi tantangan keamanan di Jerman. Berita sebelumnya mencatat bahwa Minivan Maut Renggut Nyawa dalam parade tersebut, memicu duka dan kecaman luas.
Kritik Schröter menyoroti pendekatan pemerintah dalam menangani 'Gefährder' atau individu yang berpotensi membahayakan. Ia menilai bahwa sistem yang ada belum cukup adaptif atau tegas untuk menetralisir ancaman ini secara proaktif sebelum mereka melancarkan aksinya.
Investigasi awal pasca-serangan CSD Berlin mengungkapkan motif radikal di balik insiden tersebut. Pihak berwenang juga sempat melakukan perburuan terhadap terduga dalang, seperti dilaporkan dalam artikel Jerman Geger! Abdul B. Buron, Diduga Dalang Teror CSD Berlin 2026.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang kohesi sosial dan kebebasan berekspresi di ruang publik. Acara seperti CSD, yang merupakan simbol keberagaman dan inklusi, menjadi target empuk bagi kelompok ekstremis yang menolak nilai-nilai tersebut.
Untuk itu, Schröter menekankan perlunya strategi yang lebih komprehensif, tidak hanya fokus pada penegakan hukum reaktif, tetapi juga pada pencegahan ideologi radikal. Hal ini mencakup pendidikan, deradikalisasi, dan pemantauan yang lebih ketat terhadap kelompok-kelompok ekstremis.
Pasca-teror CSD, keamanan di Jerman memang diperketat. Berlin Siaga: Jerman Perketat Perbatasan Usai Teror CSD 2026 menunjukkan respons pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun, Schröter berargumen bahwa langkah ini mungkin belum mengatasi akar masalah secara tuntas.
Tantangan menghadapi Islamisme di Jerman bukan hal baru, namun insiden 2026 kembali mengingatkan betapa rapuhnya keamanan jika ancaman ideologis ini tidak ditangani dengan serius dan berkelanjutan.
Ia menyerukan kepada masyarakat luas dan para pembuat kebijakan untuk tidak menutup mata terhadap realitas ini. Mengakui dan memahami skala ancaman merupakan langkah pertama yang krusial menuju solusi yang efektif.
Tanpa perubahan signifikan dalam strategi penanganan 'Gefährder' dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai Islamisme, keamanan acara publik di Jerman, serta di seluruh Eropa, akan terus berada di bawah bayang-bayang ancaman yang konstan. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah Jerman di tahun 2026 dan seterusnya.