New York – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, secara tegas mengkritik kampanye disinformasi yang menyasar badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) dan menyerukan komitmen pendanaan sebesar 100 juta dolar AS, atau sekitar 1,5 triliun rupiah, untuk membantu rakyat Palestina. Seruan ini disampaikan Guterres dalam sebuah konferensi donor penting pada tahun 2026, menegaskan bahwa defisit pendanaan serius menghambat kemampuan organisasi memenuhi mandat kemanusiaannya.
Guterres menyatakan rasa jijiknya atas upaya berkelanjutan untuk “menyingkirkan dan merusak” UNRWA, sebuah badan vital yang menyediakan layanan penting bagi jutaan pengungsi Palestina. Pernyataan tersebut menyoroti tekanan politik dan keuangan yang terus-menerus dihadapi organisasi tersebut, yang diperparah oleh narasi yang bertujuan mendiskreditkan kinerjanya.
UNRWA, yang didirikan pada tahun 1949, memegang peranan krusial dalam memberikan bantuan kemanusiaan, pendidikan, perawatan kesehatan, dan layanan sosial lainnya kepada sekitar 5,9 juta pengungsi Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah. Tanpa dukungan finansial yang memadai, operasi penting ini terancam lumpuh, memicu kekhawatiran global.
Defisit pendanaan tidak hanya mengancam kelangsungan hidup program-program UNRWA, tetapi juga memiliki konsekuensi langsung pada kehidupan jutaan individu yang bergantung padanya. Layanan dasar seperti operasional sekolah, klinik kesehatan, dan distribusi makanan dapat terganggu secara signifikan, memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlarut-larut di wilayah tersebut.
Kampanye disinformasi yang disebut Guterres seringkali bertujuan mendiskreditkan UNRWA dengan menyebarkan narasi palsu atau yang menyesatkan mengenai operasional dan mandatnya. Tujuan utamanya adalah mengurangi dukungan internasional dan memutus aliran dana yang sangat dibutuhkan, sehingga memperburuk kondisi di lapangan.
Sejarah panjang operasional UNRWA telah diwarnai oleh berbagai tantangan politik dan tuduhan, yang sering kali tidak berdasar, yang bertujuan untuk melemahkan kredibilitasnya. Namun, badan ini terus berupaya untuk mempertahankan netralitas dan efektivitasnya dalam menyediakan bantuan.
Sekretaris Jenderal PBB mendesak komunitas internasional untuk tidak terpengaruh oleh kampanye disinformasi tersebut dan sebaliknya, meningkatkan dukungan bagi UNRWA. Ia menekankan pentingnya menjaga independensi dan integritas organisasi kemanusiaan sebagai pilar utama respons kemanusiaan global.
Permintaan dana sebesar 100 juta dolar AS ini ditujukan untuk menutup sebagian dari kekurangan anggaran operasional UNRWA, memastikan layanan esensial tetap berjalan tanpa hambatan. Dana ini krusial untuk menjaga stabilitas dan kesejahteraan pengungsi Palestina yang sangat rentan di tengah kondisi yang tidak menentu.
Situasi pendanaan UNRWA dan kampanye disinformasi memiliki implikasi geopolitik yang lebih luas. Melemahnya UNRWA dapat memicu ketidakstabilan regional yang lebih besar dan secara signifikan memperumit upaya penyelesaian konflik yang komprehensif di Timur Tengah.
Guterres menegaskan kembali komitmen PBB untuk mendukung rakyat Palestina dan menyerukan solidaritas global. Keberhasilan dalam mengatasi defisit pendanaan dan melawan disinformasi akan menjadi ujian bagi komitmen kolektif terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan universal yang harus dijunjung tinggi di tahun 2026 ini.