MADRID — Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, mendesak Republik Rakyat Tiongkok untuk secara aktif memanfaatkan pengaruh diplomatik dan ekonominya guna mengakhiri eskalasi "Perang Iran" yang mengancam stabilitas global, dalam pernyataan kerasnya dari Istana Moncloa, Madrid, pada awal tahun 2026. Seruan ini muncul menyusul kekhawatiran mendalam komunitas internasional terhadap pertempuran yang terus memanas di Timur Tengah, serta dampaknya terhadap jalur perdagangan internasional dan pasokan energi global.
Sanchez menekankan bahwa Beijing memegang kunci penting sebagai kekuatan global yang memiliki hubungan strategis dengan berbagai pihak di kawasan tersebut. "Dunia tidak dapat berdiam diri menyaksikan konflik ini terus memburuk," tegas Sanchez dalam konferensi pers, "China, dengan kapasitas diplomatik dan pengaruh ekonominya yang luas, memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk mendorong dialog dan deeskalasi."
Konflik di Iran, yang telah berlangsung sejak akhir tahun sebelumnya, kini memasuki fase kritis dengan peningkatan serangan lintas batas dan krisis kemanusiaan yang memburuk. Gejolak ini tidak hanya melibatkan aktor regional, tetapi juga memicu kekhawatiran intervensi kekuatan global, mempertaruhkan keamanan maritim di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sebagai salah satu mitra dagang terbesar Iran dan pemegang kursi permanen di Dewan Keamanan PBB, China memiliki posisi unik untuk memediasi atau setidaknya menekan pihak-pihak yang bertikai. Sejarah menunjukkan Beijing kerap memilih jalur non-intervensi militer, namun aktif dalam diplomasi ekonomi dan pembangunan infrastruktur, menjadikannya pemain krusial dalam krisis saat ini.
Bagi Spanyol dan Uni Eropa, ketidakstabilan di Timur Tengah berdampak langsung pada keamanan energi, arus migrasi, dan keamanan regional. Kenaikan harga minyak global dan gangguan rantai pasok telah mulai terasa, mendorong negara-negara Eropa untuk mencari solusi diplomatik yang cepat dan efektif.
Pernyataan Perdana Menteri Sanchez bukan hanya sekadar desakan moral, melainkan juga bagian dari upaya terkoordinasi antara Spanyol dan beberapa negara anggota Uni Eropa lainnya. Mereka bertekad untuk menyusun pendekatan yang lebih proaktif dalam menghadapi krisis geopolitik yang semakin kompleks ini.
Krisis di Iran berpotensi memicu gelombang ketidakpastian ekonomi global yang lebih besar, mengancam pemulihan pascapandemi yang masih rapuh. Analis politik internasional mencatat bahwa setiap langkah China akan diawasi ketat, mengingat posisinya sebagai penyeimbang kekuatan antara Barat dan negara-negara di Timur.
Profesor Elena Rodriguez, pakar hubungan internasional dari Universitas Complutense Madrid, berpendapat bahwa "desakan Spanyol ini mencerminkan frustrasi Eropa terhadap lambatnya respons global terhadap krisis yang membahayakan. Ini adalah panggilan untuk aksi yang konkret, bukan sekadar retorika."
Sebelumnya, sejumlah upaya diplomasi telah dilancarkan oleh PBB dan beberapa negara Teluk, namun hasilnya belum mampu meredakan tensi secara signifikan. Harapan kini banyak tertumpu pada kemampuan Beijing untuk membawa pihak-pihak terkait ke meja perundingan, atau setidaknya memfasilitasi gencatan senjata.
Madrid berharap seruan ini akan memicu respons positif dari Beijing dan memicu inisiatif diplomatik baru yang dapat mencegah konflik Iran meluas lebih jauh. Dunia menanti apakah China akan mengambil peran yang lebih tegas dalam menstabilkan salah satu kawasan paling bergejolak di dunia ini.