MOSKOW – Rusia menghadapi dilema strategis yang semakin mendesak. Di tengah kesulitan signifikan merekrut prajurit baru untuk konflik berkepanjangan di Ukraina, sinyal menguat menunjukkan bahwa Presiden Vladimir Putin mungkin tengah mempertimbangkan gelombang mobilisasi lain. Keputusan ini, jika terwujud, diperkirakan akan membawa konsekuensi politik yang masif di dalam negeri, menyoroti tekanan terhadap upaya perang Moskow pada tahun 2026.
Sejak invasi besar-besaran, pasukan Rusia terus mengalami attrition yang tinggi. Walaupun Kremlin telah berupaya menarik relawan dan merekrut melalui berbagai insentif finansial, jumlah rekrutan ternyata belum mampu menutupi kebutuhan garis depan yang terus membengkak. Sumber intelijen barat dan pengamat militer menyebutkan adanya indikasi, seperti peningkatan aktivitas di kantor-kantor pendaftaran militer dan perubahan regulasi tertentu, yang mengarah pada persiapan mobilisasi berskala lebih besar.
Mobilisasi parsial yang dilakukan pada September 2022 lalu telah memicu gelombang protes dan eksodus besar-besaran warga Rusia yang ingin menghindari panggilan wajib militer. Ratusan ribu pria meninggalkan negara itu, menciptakan gejolak sosial dan ekonomi yang signifikan. Pengalaman pahit ini menjadi pertimbangan utama bagi Putin dan lingkaran dalamnya, sebab mobilisasi kedua berpotensi mengguncang stabilitas domestik yang rapuh.
Biaya politik dari langkah tersebut akan sangat besar. Popularitas Putin, yang relatif stabil, dapat tergerus tajam jika ia kembali memaksa warga untuk berperang. Banyak keluarga masih merasakan dampak kehilangan anggota mereka di medan tempur, dan dorongan baru untuk mengirim generasi muda ke garis depan bisa memicu ketidakpuasan publik yang lebih luas.
Kebutuhan akan personel militer tambahan menjadi krusial untuk mempertahankan posisi di Ukraina, terutama setelah Barat terus menyuplai persenjataan canggih kepada Kiev. Artikel sebelumnya yang berjudul Rusia Terpuruk: Tank Era Perang Dunia II Dikerahkan, Barat Soroti Kemunduran Militer menyoroti tantangan logistik dan personel yang dihadapi Moskow.
Para analis militer di Eropa berpendapat bahwa tanpa suntikan pasukan segar, kemampuan ofensif Rusia akan semakin terbatas, dan bahkan pertahanan mereka bisa terancam. Namun, kualitas pelatihan dan moral pasukan yang dimobilisasi secara paksa seringkali dipertanyakan, yang pada akhirnya dapat menjadi bumerang di medan perang.
Internasional akan mengawasi ketat setiap gerakan Kremlin. Langkah mobilisasi baru kemungkinan besar akan memicu gelombang kecaman global dan sanksi tambahan dari negara-negara Barat. Hal ini juga dapat memperumit upaya Rusia dalam mempertahankan hubungan diplomatik dengan negara-negara yang selama ini bersikap netral.
Secara ekonomi, mobilisasi akan menambah beban berat. Anggaran negara harus dialokasikan untuk pelatihan, peralatan, dan tunjangan pasukan, sementara sektor sipil akan kehilangan tenaga kerja produktif. Hal ini bisa memperparah inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi Rusia yang sudah tertekan.
Dilema yang dihadapi Putin adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan militer mendesak dengan risiko politik dan sosial yang tak terukur. Sebuah sinyal kecil dari Kremlin bisa memicu gelombang mobilisasi masif, namun dampaknya bisa merusak tatanan sosial Rusia dalam jangka panjang.
Situasi ini juga berkaitan dengan ancaman yang pernah dilontarkan oleh Putin terkait penyitaan aset, seperti yang tercatat dalam berita Putin Ancam Balas Eropa, Penyitaan Kapal Rusia Picu Eskalasi Geopolitik. Ketegangan geopolitik diprediksi akan semakin memanas jika mobilisasi baru ini benar-benar terjadi, menandakan eskalasi konflik yang lebih luas.
Analisis Redaksi:
Keputusan untuk mengaktifkan gelombang mobilisasi kedua akan menjadi titik balik krusial bagi kepemimpinan Vladimir Putin. Di satu sisi, ia membutuhkan pasukan untuk mempertahankan keunggulan di Ukraina; di sisi lain, risiko gejolak sosial-politik di dalam negeri sangat nyata. Langkah ini juga akan memperkuat narasi Barat mengenai agresi Rusia dan bisa memicu perlawanan yang lebih terorganisir dari populasi yang enggan berperang. Dunia akan menahan napas menanti isyarat dari Kremlin yang bisa mengubah dinamika perang dan lanskap politik global secara drastis.