BERLIN — Matthias Sammer, legenda sepak bola Jerman yang kini dikenal sebagai analis tajam, melancarkan kritik pedas terhadap Tim Nasional Jerman (DFB-Elf) pasca-kegagalan di Piala Dunia 2022. Ia membandingkan mentalitas skuad Jerman dengan Argentina, menegaskan adanya "budaya nyaman" yang telah mengikis determinasi juara dan menuntut adanya keinginan mutlak untuk meraih sukses, sekaligus menawarkan sejumlah solusi fundamental.
Dalam analisis mendalamnya, Sammer secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas performa tim yang dianggapnya jauh dari standar. Menurutnya, kegagalan tersebut bukan semata-mata masalah taktik atau individu, melainkan berakar pada fondasi budaya tim yang terlampau nyaman, kurangnya semangat juang yang membara, serta absennya tekad bulat untuk menjadi yang terbaik di kancah internasional.
Mantan pemain dan direktur olahraga Borussia Dortmund itu secara spesifik menyoroti perbedaan mencolok antara mentalitas pemain Jerman dengan semangat yang diperlihatkan Argentina saat menjuarai Piala Dunia. Argentina, dengan Lionel Messi sebagai motor, menunjukkan intensitas dan keinginan yang tak tergoyahkan, sebuah atribut yang Sammer rasakan telah lama hilang dari skuad Jerman.
"Ada budaya kenyamanan yang berbahaya di dalam tim," ujar Sammer, seperti dikutip dari laporan media terkemuka. "Mereka merasa terlalu betah, padahal dalam sepak bola level tertinggi, Anda tidak bisa hanya merasa nyaman. Anda harus haus akan kemenangan, haus akan penderitaan untuk mencapai tujuan besar."
Sammer melanjutkan dengan menekankan perlunya "keinginan mutlak untuk sukses" sebagai prasyarat utama. "Tanpa determinasi yang tak tergoyahkan, tanpa kemauan untuk melampaui batas dan mengorbankan segalanya demi kemenangan, tim tidak akan pernah mencapai potensi puncaknya. Ini bukan hanya tentang bakat, tetapi tentang mentalitas seorang juara," tegasnya.
Kegagalan DFB-Elf di Piala Dunia 2022, di mana mereka tersingkir di fase grup, menjadi titik balik kritik ini. Hasil mengecewakan tersebut memicu perdebatan sengit tentang arah sepak bola Jerman dan perlunya reformasi mendalam. Sammer percaya bahwa akar permasalahan ini jauh lebih dalam dari sekadar pergantian pelatih atau pemain.
Kritik Sammer ini tentu bukan tanpa dasar. Sejak menjadi juara dunia pada 2014, Timnas Jerman memang menunjukkan penurunan performa yang signifikan, puncaknya dengan dua kali berturut-turut tersingkir di fase grup Piala Dunia (2018 dan 2022). Ini mengindikasikan adanya masalah sistemik yang perlu diatasi segera.
Dalam pandangannya, solusi yang diperlukan meliputi peninjauan ulang filosofi pelatihan, penguatan mentalitas kompetitif sejak usia dini, dan penciptaan lingkungan yang menuntut keunggulan tanpa kompromi. Ia juga menyarankan agar para pemain lebih fokus pada esensi permainan daripada aspek-aspek di luar lapangan.
Meskipun Sammer tidak secara langsung menyebutkan nama-nama individu, kritiknya jelas mengarah pada struktur kepengurusan Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) dan para pelatih. Isu kepemimpinan dan strategi jangka panjang menjadi sorotan utama dalam upaya mengembalikan kejayaan Die Mannschaft.
Menjelang turnamen besar berikutnya pada 2026, tekanan untuk melakukan perubahan semakin meningkat. Analisis Sammer ini diharapkan dapat menjadi katalis bagi DFB untuk mengevaluasi kembali pendekatan mereka dan mengimplementasikan langkah-langkah konkret demi kebangkitan tim nasional. Perdebatan mengenai siapa yang paling cocok memimpin tim ke depan, misalnya terkait spekulasi DFB yang Gelontorkan Jutaan Euro untuk Klopp, menunjukkan betapa krusialnya fase ini bagi sepak bola Jerman.
Kehadiran sosok seperti Sammer yang berani bersuara keras, meskipun kadang kontroversial, sangat dibutuhkan dalam iklim sepak bola modern. Suara kritisnya berfungsi sebagai alarm bagi mereka yang mungkin telah terlena dalam zona nyaman, mengingatkan akan standar tinggi yang selalu diharapkan dari timnas sekelas Jerman.
Pada akhirnya, nasib Tim Nasional Jerman akan ditentukan oleh kemampuan mereka dalam menyerap kritik, melakukan introspeksi, dan beradaptasi. Apakah mereka mampu melepaskan diri dari "budaya nyaman" yang dikritik Sammer dan kembali menemukan "keinginan mutlak" untuk meraih kesuksesan, akan menjadi pertanyaan besar dalam beberapa tahun ke depan.