Spesialis Kanker Ungkap Risiko Tersembunyi: Empat Kunci Utama Cegah Penyakit!

Dodi Irawan Dodi Irawan 26 Jul 2026 23:59 WIB
Spesialis Kanker Ungkap Risiko Tersembunyi: Empat Kunci Utama Cegah Penyakit!
Ilustrasi: Spesialis Kanker Ungkap Risiko Tersembunyi: Empat Kunci Utama Cegah Penyakit!

JAKARTA – Dr. Skander Bouassida, seorang spesialis kanker terkemuka yang dulunya adalah perokok berat, secara tegas menyatakan bahwa banyak individu masih meremehkan faktor risiko sehari-hari yang krusial terhadap perkembangan sel kanker. Melalui pengalaman pribadinya dan keahlian medisnya, dokter ahli bedah ini membeberkan empat langkah nyata yang terbukti ampuh menurunkan peluang seseorang terserang penyakit mematikan tersebut, sekaligus menepis mitos yang salah kaprah di tengah masyarakat.

Transformasi personal Dr. Bouassida menjadi sorotan. Sebelum mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada penanganan dan pencegahan kanker, ia sendiri mengakui sebagai perokok berat. Pengalaman tersebut, katanya, memberinya perspektif unik tentang betapa dahsyatnya dampak kebiasaan buruk terhadap organ internal, khususnya usus besar.

"Saya telah menyaksikan secara langsung kerusakan parah yang diakibatkan oleh kebiasaan merokok pada usus pasien," ujar Dr. Bouassida dalam sebuah diskusi kesehatan di hadapan praktisi medis di Jakarta baru-baru ini. "Pengalaman itu memicu saya untuk lebih vokal dalam menyuarakan pentingnya pencegahan yang efektif, bukan hanya pengobatan."

Menurutnya, kunci utama dalam menekan risiko kanker tidak melulu bergantung pada faktor genetik semata, melainkan pada serangkaian keputusan gaya hidup. Ia menjabarkan empat pilar utama pencegahan yang harus diprioritaskan oleh setiap individu.

Pilar pertama adalah pola makan yang seimbang dan kaya serat. Dr. Bouassida menekankan konsumsi buah, sayur, dan biji-bijian utuh secara teratur, sembari membatasi asupan daging merah olahan serta makanan tinggi gula dan lemak jenuh. "Diet Mediterania atau pola makan nabati terbukti sangat efektif dalam mengurangi peradangan dan melindungi sel-sel tubuh," jelasnya.

Kedua, aktivitas fisik yang memadai. Kurangnya gerak atau gaya hidup sedenter berkorelasi langsung dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker. Olahraga teratur, bahkan intensitas sedang seperti berjalan cepat selama 30 menit setiap hari, dapat membuat perbedaan signifikan.

Ketiga, menghentikan kebiasaan merokok dan membatasi konsumsi alkohol. Dr. Bouassida menyoroti bahwa merokok bukan hanya penyebab utama kanker paru, tetapi juga meningkatkan risiko kanker di banyak organ lain, termasuk usus besar, tenggorokan, dan pankreas. Pembatasan alkohol juga esensial mengingat kaitannya dengan kanker hati dan payudara.

Pilar keempat adalah menjaga berat badan ideal. Obesitas diketahui merupakan faktor risiko signifikan untuk setidaknya 13 jenis kanker. "Lemak berlebih dalam tubuh memicu peradangan kronis dan produksi hormon yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker," paparnya.

Selain keempat pilar tersebut, Dr. Bouassida juga mengkritisi pemahaman publik tentang beberapa faktor risiko yang cenderung dilebih-lebihkan atau disalahpahami. Ia mencontohkan, obsesi terhadap "makanan super" tertentu tanpa perubahan gaya hidup holistik seringkali memberikan rasa aman yang palsu. "Kanker adalah penyakit multifaktorial; tidak ada satu pun makanan ajaib yang bisa mencegahnya sendirian," tegasnya.

Aspek krusial lain yang sering diabaikan adalah pentingnya deteksi dini melalui skrining rutin. Dr. Bouassida mengungkapkan antusiasmenya menyambut jadwal kolonoskopinya sendiri, sebuah prosedur yang sangat penting untuk mendeteksi polip atau lesi prakanker di usus besar sebelum berkembang menjadi kanker invasif.

"Saya tidak hanya menganjurkan, saya juga mempraktikkan. Kolonoskopi adalah salah satu alat paling kuat yang kita miliki untuk mencegah kanker usus besar," katanya. Prosedur ini, menurutnya, harus menjadi bagian dari agenda kesehatan rutin bagi individu di atas usia tertentu, sesuai rekomendasi medis terbaru tahun 2026.

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus kanker usus besar di Indonesia dalam satu dekade terakhir, menggarisbawahi urgensi pencegahan dan deteksi dini. Kampanye nasional 'Gaya Hidup Sehat 2026' juga terus mendorong masyarakat untuk mengadopsi kebiasaan positif demi kesehatan jangka panjang.

Tema kesehatan masyarakat memang selalu menjadi perhatian. Beberapa waktu lalu, dunia juga dikejutkan oleh kejadian tragis di Berlin ketika sebuah van maut menerjang massa CSD 2026, menyoroti isu keamanan publik. Kendati demikian, fokus pada pencegahan penyakit melalui gaya hidup tetap menjadi prioritas global, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai inisiatif kesehatan di seluruh dunia. Teror Van Hantam CSD Berlin: Satu Tewas, Motif Radikal Terkuak 2026.

Dr. Bouassida berharap pesannya dapat menjangkau khalayak luas, mengubah persepsi, dan memotivasi masyarakat untuk mengambil tindakan proaktif. "Pencegahan adalah investasi terbaik untuk masa depan kita," pungkasnya.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.welt.de
Dodi Irawan

Tentang Penulis

Dodi Irawan

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Ad