BUENOS AIRES – Sebuah prediksi mengejutkan dari legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona, yang dilontarkan pada tahun 2018, kembali viral dan menjadi perbincangan hangat jelang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Maradona, yang wafat pada tahun 2020, kala itu secara terang-terangan menyoroti potensi komersialisasi berlebihan oleh Amerika Serikat sebagai tuan rumah, bahkan menyebutkan kemungkinan empat babak pertandingan demi mengakomodasi iklan.
Pernyataan "Si Pibe de Oro" yang terekam dalam sebuah video viral enam tahun silam itu menyoroti kekhawatirannya terhadap tradisi dan esensi sepak bola yang bisa terkikis oleh kepentingan bisnis. "Amerika Serikat akan menyelenggarakan Piala Dunia dan mereka akan membuat empat babak demi iklan," ujarnya dengan nada sinis, mencerminkan ketidaksetujuannya terhadap gagasan tersebut.
Pada 2018, saat Piala Dunia di Rusia sedang berlangsung, FIFA baru saja mengumumkan bahwa edisi 2026 akan diselenggarakan di tiga negara Amerika Utara. Wacana untuk memperluas format turnamen dan eksplorasi potensi pasar iklan di Amerika Serikat memang telah mengemuka, namun belum sejelas atau sekontroversial yang diprediksi Maradona.
Memasuki tahun 2026, di mana persiapan semakin intensif, kekhawatiran yang dilontarkan Maradona ini kembali mengemuka di tengah publik sepak bola global. Berbagai diskusi mengenai format pertandingan, jumlah tim yang berpartisipasi, dan tentu saja, potensi pendapatan dari iklan menjadi topik yang tak terhindarkan. Banyak pihak membandingkan pernyataan Maradona dengan perkembangan terkini.
FIFA sendiri, sebagai badan tertinggi sepak bola dunia, secara konsisten berupaya memaksimalkan potensi finansial dari turnamen akbar ini. Ekspansi jumlah tim peserta menjadi 48, yang dimulai pada Piala Dunia 2026, bukan hanya bertujuan memperluas partisipasi negara, tetapi juga membuka peluang pasar yang jauh lebih besar bagi sponsor dan pengiklan. Langkah ini secara tidak langsung mengonfirmasi sebagian visi El Diez, sang legenda.
Prediksi Maradona mengacu pada model olahraga Amerika yang kerap menyisipkan jeda iklan dalam durasi pertandingan, seperti dalam ajang American Football atau basket NBA. Model ini sangat kontras dengan tradisi sepak bola internasional yang memiliki jeda paruh waktu tunggal. Kekhawatiran adalah bahwa budaya tersebut dapat merembes ke "olahraga paling indah" ini.
Para penggemar sepak bola di seluruh dunia menyuarakan keprihatinan serupa. Mereka khawatir, jika ramalan Maradona benar-benar terwujud, pengalaman menonton pertandingan akan terganggu secara signifikan. Esensi dari ritme permainan dan dinamika emosional yang dibangun selama 90 menit tanpa jeda, bisa rusak oleh interupsi komersial yang berlebihan.
Di balik kekhawatiran tersebut, ada realitas ekonomi yang tak dapat dipungkiri. Piala Dunia merupakan salah satu ajang olahraga terbesar di dunia yang menghasilkan miliaran dolar. Amerika Serikat, dengan pasar konsumennya yang masif dan industri periklanan yang sangat maju, dipandang sebagai lokasi paling potensial untuk memecahkan rekor pendapatan iklan dalam sejarah turnamen ini. Hal ini menjadi daya tarik kuat bagi FIFA dan para sponsor.
Meskipun Maradona dikenal karena kontroversinya di dalam maupun luar lapangan, pandangan tajamnya terhadap sepak bola seringkali terbukti visioner. Prediksinya tentang komersialisasi Piala Dunia 2026 ini menunjukkan bahwa ia memiliki pemahaman mendalam tentang arah perkembangan olahraga, bahkan jika itu bertentangan dengan idealismenya.
Pertanyaan besar yang kini dihadapi adalah bagaimana FIFA dan Komite Penyelenggara Piala Dunia 2026 akan menyeimbangkan antara tuntutan komersial dan menjaga integritas serta pengalaman otentik pertandingan sepak bola. Akankah ada kompromi yang membuat prediksi Maradona hanya sebagian kecil terwujud, ataukah dunia sepak bola akan menyaksikan era baru yang sarat iklan?
Hingga kini, belum ada pengumuman resmi dari FIFA terkait perubahan format jeda pertandingan untuk mengakomodasi iklan secara drastis seperti yang digambarkan Maradona. Namun, dengan semakin dekatnya Piala Dunia 2026, perdebatan ini akan terus mengemuka, menjadikan warisan pandangan Maradona sebagai pengingat akan batas antara olahraga dan bisnis. Penggemar menanti apakah ruh sepak bola akan tetap terjaga di tengah gempuran komersialisasi. Isu ini juga relevan dengan diskusi mengenai New York yang bersiap menghadapi panas ekstrem saat Piala Dunia 2026, menunjukkan dinamika kompleks seputar penyelenggaraan acara global tersebut. Diskusi mengenai performa tim nasional di Piala Dunia 2026, seperti desakan Klopp memimpin Jerman atau refleksi kekalahan Jerman, juga tak lepas dari sorotan publik yang haus akan sepak bola murni.