Pejabat senior pemerintah Amerika Serikat baru-baru ini secara mengejutkan menyatakan bahwa akuisisi Greenland merupakan satu-satunya solusi strategis guna menjamin perlindungan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di tengah eskalasi aktivitas maritim di wilayah Arktik. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas pergerakan angkatan laut yang kian intens di sekitar pulau otonom tersebut, memicu ketegangan diplomatik dengan Denmark dan pemerintah Greenland yang tegas menolak usulan pembelian itu, sembari membuka peluang negosiasi mencari titik temu.
Washington berulang kali menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai peningkatan aktivitas angkatan laut oleh kekuatan global, khususnya Rusia dan Tiongkok, di sekitar perairan strategis Greenland. Laporan intelijen menyebutkan bahwa aktivitas maritim yang sangat aktif tersebut mengancam keseimbangan keamanan regional dan global.
Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, dalam konferensi pers virtual pada awal tahun 2026, menekankan urgensi pengamanan jalur laut Arktik yang vital. "Stabilitas Arktik krusial bagi keamanan transatlantik. Kehadiran militer yang intens di sana menuntut respons tegas," ujarnya, tanpa merinci nama negara yang dimaksud.
Kopenhagen, ibu kota Denmark, segera mengeluarkan respons keras terhadap gagasan pembelian Greenland. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, menegaskan status Greenland sebagai bagian integral dari Kerajaan Denmark. "Greenland bukan untuk dijual. Warga Greenland memiliki hak penentuan nasib sendiri," tegas Rasmussen di hadapan parlemen Folketing.
Pemerintah otonom Greenland, melalui Perdana Menteri Múte Bourup Egede, juga menyuarakan penolakan serupa. "Kami bukan objek transaksi geopolitik. Masa depan Greenland ditentukan oleh rakyat Greenland," kata Egede dalam pernyataan tertulisnya. Ia menambahkan, pihaknya terbuka untuk dialog, namun tidak untuk penjualan wilayah.
Ini bukan kali pertama Amerika Serikat menyatakan minatnya terhadap Greenland. Pada tahun 1946, Presiden Harry Truman pernah menawarkan 100 juta dolar AS untuk membeli pulau ini, yang juga ditolak mentah-mentah oleh Denmark. Sejarah mencatat betapa strategisnya Greenland bagi kepentingan militer dan ilmiah, terutama selama Perang Dingin.
Posisi geografis Greenland di persimpangan Atlantik Utara dan Samudra Arktik menjadikannya koridor laut yang esensial. Selain itu, potensi sumber daya alam yang melimpah, mulai dari minyak, gas, hingga mineral langka, semakin meningkatkan daya tarik Arktik bagi negara-negara besar, memicu persaingan geopolitik yang semakin memanas.
Seorang pejabat senior Departemen Pertahanan AS yang berbicara tanpa menyebut nama kepada media, menyatakan bahwa langkah akuisisi ini dianggap krusial untuk mencegah dominasi pihak-pihak yang berpotensi mengancam keamanan NATO. "Kami tidak bisa membiarkan celah keamanan di wilayah kritis ini. Pembelian adalah opsi tercepat dan paling komprehensif," jelasnya. Isu ini juga mengingatkan pada pandangan beberapa pihak yang menyoroti bahwa Amerika Serikat kerap berupaya memaksakan kehendak globalnya demi stabilitas yang diinterpretasikan sendiri.
Meski penolakan telah disuarakan, baik Denmark maupun Greenland menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi dengan Washington. Mereka berupaya mencari bentuk kompromi yang memungkinkan peningkatan kerja sama keamanan di Arktik tanpa harus melibatkan transfer kedaulatan. Diskusi difokuskan pada penguatan kemitraan strategis dan berbagi informasi intelijen.
Sekjen NATO, Jens Stoltenberg, pada awal tahun ini juga menegaskan pentingnya Arktik bagi keamanan aliansi. NATO terus memantau pergerakan di wilayah utara dan meningkatkan latihan militer di sana. Permintaan AS terhadap Greenland, menurut beberapa analis, dapat dilihat sebagai upaya ekstrem untuk memperkuat pertahanan sayap utara NATO.
Ketegangan di Arktik ini menambah daftar panjang dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. Ketika Moskow memperingatkan Polandia mengenai produksi drone Ukraina, atau ketika Eropa didesak untuk bersatu melawan Moskow, tergambar jelas pola peningkatan militerisasi di berbagai titik strategis dunia.
Di luar aspek geopolitik, perubahan iklim juga memainkan peran krusial. Mencairnya lapisan es Arktik membuka jalur pelayaran baru dan akses ke sumber daya, yang secara ironis semakin meningkatkan minat militer terhadap wilayah tersebut. Dampak ekologis jangka panjang dari peningkatan aktivitas ini masih menjadi perhatian serius.
Profesor Geopolitik dari Universitas Kopenhagen, Dr. Helene Thorning, berpendapat bahwa tawaran akuisisi ini mencerminkan kegelisahan Washington atas pergeseran kekuatan di Arktik. "Ini adalah manuver untuk menegaskan kembali dominasi AS di kawasan yang menjadi krusial dalam peta strategi pertahanan global 2026," jelasnya.
Meskipun Denmark dan Greenland telah menolak tegas, perundingan diplomatik diyakini akan terus berlanjut. Washington kemungkinan akan menawarkan paket insentif ekonomi atau investasi besar untuk meyakinkan pihak Greenland, meskipun kedaulatan tetap menjadi garis merah yang sulit dilanggar.
Dinamika di sekitar Greenland menggarisbawahi persaingan sengit negara-negara adidaya untuk menguasai wilayah strategis di dunia. Solusi diplomatik yang berimbang akan krusial untuk mencegah eskalasi konflik di Arktik, sebuah wilayah yang perlahan namun pasti menjadi medan perebutan pengaruh global.