JAKARTA — Gelombang keluhan siswa sekolah dasar (SD) pasca pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) 2026 menuai perhatian publik. Mayoritas siswa mengungkapkan soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) Numerasi memiliki tingkat kesulitan yang ambigu: 'gampang-gampang susah'. Fenomena ini mencuat setelah sejumlah siswa membagikan pengalaman mereka di berbagai platform media sosial, memicu diskusi intensif mengenai efektivitas dan relevansi materi ujian dalam sistem pendidikan.
Keresahan para siswa SD ini bukan tanpa alasan. Banyak di antara mereka merasa dilema ketika menghadapi soal yang sekilas tampak mudah namun memerlukan penalaran mendalam dan pemahaman konsep yang kuat. Hal ini menciptakan ketidakpastian dalam menjawab, yang berujung pada rasa frustrasi setelah ujian.
“Beberapa soal itu terlihat sederhana, tapi ketika dicoba, rasanya otak harus bekerja ekstra keras. Bingung mana yang benar-benar mudah dan mana yang menjebak,” tutur Raihan (10), seorang siswa kelas V SD di bilangan Jakarta Selatan, sambil menghela napas pasca ANBK.
Orang tua pun tidak tinggal diam menanggapi curhatan anak-anak mereka. Banyak yang menyuarakan keprihatinan atas tekanan yang dialami putra-putri mereka. Mereka berharap evaluasi pendidikan dapat lebih mempertimbangkan tahapan perkembangan kognitif anak usia SD.
“Anak saya jadi sering murung setelah ANBK. Dia bilang soal numerasinya bikin pusing. Kami khawatir ini justru menghilangkan semangat belajar mereka,” ujar Ibu Nina, salah satu orang tua siswa di Bekasi, mengungkapkan kekhawatirannya.
Pakar pendidikan turut menganalisis fenomena 'gampang-gampang susah' ini. Menurut Dr. Seto Mulyadi, seorang psikolog pendidikan senior, kesulitan ini mungkin timbul dari transisi Kurikulum Merdeka yang menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), termasuk dalam literasi numerik.
“Soal TKA Numerasi dirancang untuk mengukur kemampuan bernalar, bukan sekadar menghafal rumus. Bagi siswa SD, transisi dari pembelajaran yang lebih terstruktur ke pendekatan ini memang butuh adaptasi,” jelas Dr. Seto dalam diskusi publik mengenai pendidikan anak di awal tahun 2026.
ANBK 2026 sendiri merupakan bagian dari upaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk mengevaluasi kualitas sistem pendidikan secara komprehensif, bukan hanya hasil belajar siswa secara individu. TKA Numerasi bertujuan mengukur kemampuan siswa dalam mengaplikasikan konsep matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.
Data awal dari survei internal Kemendikbudristek, yang dirilis pada Maret 2026, menunjukkan bahwa persentase keluhan terkait TKA Numerasi meningkat sekitar 15% dibandingkan pelaksanaan ANBK tahun sebelumnya. Angka ini menjadi indikator penting bagi evaluasi kebijakan pendidikan.
Dampak psikologis dari tekanan ujian yang tidak sesuai dengan persepsi kemampuan diri dapat mempengaruhi motivasi belajar jangka panjang siswa. Rasa percaya diri dapat menurun, dan kecemasan terhadap mata pelajaran numerik bisa berkembang jika tidak ditangani dengan tepat.
Menanggapi hal ini, Kemendikbudristek melalui juru bicaranya menyatakan komitmen untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki format serta konten TKA Numerasi. Mereka juga akan meningkatkan pelatihan bagi guru agar dapat lebih adaptif dalam mengajarkan literasi numerik sesuai Kurikulum Merdeka.
Program penguatan literasi numerik di sekolah-sekolah dasar diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kurikulum dan kemampuan serap siswa. Peran guru menjadi krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan menantang, tanpa menimbulkan tekanan berlebihan.
Beberapa rekomendasi muncul dari berbagai pihak, termasuk saran untuk memperbanyak simulasi soal dengan tingkat kesulitan bervariasi serta menyediakan panduan bagi orang tua. Hal ini bertujuan agar mereka dapat mendampingi anak-anak dengan lebih efektif dalam menghadapi tantangan asesmen.
Pada akhirnya, keluhan 'gampang-gampang susah' ini menjadi cerminan bahwa sistem evaluasi pendidikan memerlukan penyesuaian yang berkelanjutan. Tujuannya adalah memastikan bahwa tes bukan hanya alat ukur, tetapi juga instrumen yang mendukung pengembangan potensi anak secara optimal dan holistik.
Evaluasi berkala terhadap Asesmen Nasional, khususnya pada TKA Numerasi, sangat penting untuk menyelaraskan tujuan kebijakan dengan realitas di lapangan. Masa depan pendidikan Indonesia bergantung pada bagaimana sistem mampu beradaptasi dan merespons suara dari generasi penerus.