BERLIN – Aparat kepolisian Berlin pada Jumat, 26 Juni 2026, membubarkan sebuah pawai peringatan Asyura yang menampilkan anak-anak diikat dengan tali. Insiden tersebut segera memicu kecaman keras dari Senator Dalam Negeri Berlin yang menilai tindakan itu sebagai instrumentalisasi anak-anak, di tengah kondisi suhu udara ekstrem yang mencapai hampir 40 derajat Celsius.
Pawai yang diselenggarakan oleh komunitas Muslim Syiah tersebut berlangsung di beberapa ruas jalan protokol Berlin. Petugas kepolisian bertindak cepat setelah menerima laporan dan mengamati langsung sejumlah anak kecil, beberapa di antaranya terlihat mengenakan tali yang mengikat satu sama lain, berpartisipasi di bawah terik matahari yang menyengat.
Tindakan tegas diambil demi keselamatan dan perlindungan anak-anak. Menurut juru bicara kepolisian Berlin, keputusan untuk menghentikan pawai diambil setelah pertimbangan mendalam mengenai kesejahteraan para peserta, khususnya anak-anak, yang berisiko dehidrasi dan kelelahan akibat panas ekstrem.
Senator Dalam Negeri Berlin menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini. "Instrumentalisasi anak-anak dalam bentuk apa pun tidak dapat kami terima," tegas Senator Dalam Negeri Berlin dalam pernyataan resminya. "Kesejahteraan dan hak-hak anak adalah prioritas utama, dan kami tidak akan menoleransi praktik yang membahayakan mereka atau mengeksploitasi mereka dalam ritual keagamaan."
Pernyataan Senator ini menggarisbawahi komitmen pemerintah kota terhadap perlindungan anak, terlepas dari latar belakang budaya atau agama. Peristiwa ini membuka kembali diskusi mengenai batas-batas kebebasan berekspresi keagamaan di ruang publik, terutama jika melibatkan partisipasi rentan seperti anak-anak.
Perayaan Asyura merupakan momen penting bagi Muslim Syiah di seluruh dunia untuk memperingati kemartiran Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad. Ritual ini sering kali melibatkan prosesi duka cita dan manifestasi kesedihan yang mendalam. Namun, pelaksanaan ritual tersebut di Berlin memicu kontroversi serius.
Warga yang menyaksikan pawai tersebut turut menyuarakan keprihatinan. Beberapa pengguna media sosial membagikan rekaman video dan foto yang menunjukkan anak-anak dengan ekspresi lelah, memicu perdebatan sengit tentang etika melibatkan anak-anak dalam ritual yang berpotensi membahayakan fisik mereka.
Pemerintah kota Berlin berencana untuk mengadakan pertemuan dengan perwakilan komunitas Muslim Syiah guna membahas insiden ini dan mencari solusi agar kegiatan keagamaan dapat berjalan dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia, khususnya hak anak. Dialog diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Insiden ini menambah daftar kekhawatiran terkait isu hak anak dan implementasi peraturan di ruang publik, terutama saat terjadi gelombang panas ekstrem. Kondisi cuaca panas yang membara di Eropa memang telah menjadi perhatian serius, bahkan ribuan kematian diperkirakan terjadi akibat gelombang panas ekstrem yang membara di Eropa.
Pihak berwenang Berlin menegaskan bahwa langkah ini bukan upaya membatasi kebebasan beragama, melainkan penegasan prinsip perlindungan anak yang merupakan nilai fundamental dalam masyarakat Jerman. Penegakan hukum akan terus dilakukan untuk memastikan semua kegiatan publik mematuhi standar keselamatan dan etika yang berlaku.