ZURICH — Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), Gianni Infantino, secara mengejutkan melontarkan wacana ekspansi jumlah peserta Piala Dunia hingga 64 tim untuk edisi mendatang, sebuah langkah yang berpotensi mengubah lanskap sepak bola global secara fundamental. Pernyataan ini muncul setelah beberapa negara “kecil” menunjukkan performa menjanjikan dalam turnamen akbar sebelumnya, memicu diskusi intens mengenai inklusivitas dan representasi di panggung dunia.
Wacana ini bukan sekadar retorika biasa. Infantino melihat potensi besar dari partisipasi tim-tim yang sebelumnya dianggap remeh, seperti Curacao, Uzbekistan, atau Yordania, yang telah memberikan warna baru serta kejutan di kompetisi tingkat global. Pengalaman tersebut, menurutnya, menggarisbawahi urgensi untuk memberikan kesempatan lebih luas bagi setiap federasi anggota FIFA.
Jika terealisasi, perluasan ini akan melampaui format 48 tim yang telah ditetapkan untuk Piala Dunia 2026, mendorong batas-batas logistik dan infrastruktur yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keputusan final mengenai format 64 tim ini kemungkinan besar akan memengaruhi edisi Piala Dunia 2030 atau bahkan 2034, dengan dampak signifikan pada jadwal pertandingan, stadion, serta akomodasi.
Para pendukung gagasan ini berpendapat bahwa 64 tim akan mewujudkan inklusivitas sejati. Lebih banyak negara akan memiliki impian untuk berpartisipasi, memicu perkembangan sepak bola di seluruh penjuru dunia. Ini juga bisa berarti peningkatan pendapatan dari hak siar dan sponsor, yang dapat dialokasikan kembali untuk pengembangan akar rumput.
Namun, kritikus mengkhawatirkan beberapa implikasi negatif. Kualitas turnamen dikhawatirkan akan terdilusi dengan masuknya tim-tim yang mungkin belum memiliki daya saing setara. Beban fisik dan mental bagi para pemain juga akan meningkat drastis, mengingat jumlah pertandingan yang bertambah dan durasi turnamen yang memanjang.
“Ekspansi ini adalah pedang bermata dua,” ujar Dr. Karina Wijaya, pengamat sepak bola internasional dari Universitas Global Jakarta, dalam wawancara eksklusif. “Di satu sisi, ini adalah kemenangan untuk universalitas sepak bola. Namun, tantangan operasional dan potensi penurunan standar kompetisi adalah hal yang tidak bisa diabaikan. FIFA harus memiliki strategi mitigasi yang sangat matang.”
Pertimbangan logistik menjadi poin krusial. Penyelenggaraan Piala Dunia dengan 64 tim memerlukan setidaknya 16-20 stadion berstandar internasional, belum termasuk fasilitas latihan dan akomodasi yang memadai untuk puluhan ribu atlet, ofisial, dan suporter. Negara-negara calon tuan rumah harus mempersiapkan diri jauh lebih intensif.
Wacana ini sejalan dengan visi Infantino untuk “demokratisasi” sepak bola, di mana setiap negara, terlepas dari ukurannya, memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing di panggung tertinggi. Ini bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang diplomasi budaya dan pengakuan global.
FIFA sendiri dikenal adaptif terhadap perubahan format demi relevansi dan jangkauan global. Diskusi internal dan konsultasi dengan federasi anggota akan menjadi fase berikutnya sebelum proposal ini menjadi keputusan final. Publik sepak bola akan menanti dengan antusias bagaimana visi ambisius ini akan diwujudkan.
Keputusan untuk memperluas Piala Dunia menjadi 64 tim akan menandai tonggak sejarah baru dalam evolusi turnamen paling bergengsi di dunia ini. Baik manfaat maupun tantangannya harus dipertimbangkan secara cermat agar esensi dan kualitas sepak bola tetap terjaga sembari merangkul dunia yang lebih luas.