Jenewa— Kota Jenewa, Swiss, pada tahun 2026 dilanda ketegangan serius menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-7, menyusul eskalasi demonstrasi anti-globalisasi yang berujung pada kekerasan. Aksi protes yang awalnya berlangsung damai mendadak berubah ricuh, diwarnai pelemparan batu, aksi vandalisme, dan respons aparat keamanan yang menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.
Insiden ini terjadi beberapa jam sebelum para pemimpin negara-negara anggota G-7 dijadwalkan tiba di Jenewa untuk membahas isu-isu ekonomi global, perubahan iklim, dan stabilitas geopolitik. Ribuan demonstran dari berbagai kelompok, termasuk aktivis lingkungan, serikat pekerja, dan organisasi anti-kapitalisme, berkumpul menyuarakan penolakan terhadap agenda KTT yang mereka nilai tidak memihak kepentingan rakyat kecil dan merusak lingkungan.
Awalnya, pawai demonstrasi bergerak teratur melintasi jantung kota, diiringi orasi dan spanduk berisi tuntutan. Atmosfer terasa penuh semangat namun terkendali, dengan pengawasan ketat dari kepolisian Jenewa. Namun, memasuki sore hari, situasi mulai memanas ketika sekelompok kecil provokator mencoba menerobos barikade keamanan di dekat zona terlarang KTT.
Bentrokan tak terhindarkan. Para demonstran, sebagian di antaranya mengenakan penutup wajah, mulai melemparkan proyektil ke arah aparat. Polisi, yang siaga penuh, segera merespons dengan tembakan gas air mata dan peluru karet guna membendung gelombang massa yang semakin agresif. Jalan-jalan utama yang sebelumnya dilalui pawai damai, kini diselimuti asap putih pedih dan teriakan massa.
Aksi vandalisme turut mencoreng citra protes. Beberapa fasilitas publik, termasuk halte bus dan pertokoan, menjadi sasaran perusakan. Kaca-kaca pecah, coretan grafiti memenuhi dinding, dan keranjang sampah dibakar, menambah suasana mencekam di jalanan kota. Petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api kecil yang muncul di beberapa titik.
Pihak kepolisian Jenewa menyatakan bahwa penggunaan gas air mata merupakan langkah terakhir untuk mengamankan kawasan vital dan melindungi warga sipil serta properti. "Kami telah berulang kali memperingatkan demonstran untuk tidak melewati batas yang telah ditetapkan. Tindakan kekerasan tidak akan ditoleransi," ujar seorang juru bicara kepolisian dalam sebuah pernyataan pers. Beberapa individu telah diamankan terkait insiden tersebut.
Jenewa, sebagai salah satu kota pusat diplomasi internasional, sering kali menjadi lokasi penyelenggaraan KTT penting, yang kerap pula diiringi protes massal. KTT G-7 kali ini, yang melibatkan para pemimpin dari Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Jepang, dan Kanada, bertujuan mencari solusi kolektif atas tantangan global, namun justru diawali dengan demonstrasi yang berujung pada kekacauan.
Banyak warga Jenewa mengungkapkan kekecewaan mereka atas kerusuhan yang terjadi. Meskipun mendukung hak untuk berdemonstrasi, mereka menyesalkan aksi kekerasan dan perusakan yang merugikan kota. Lalu lintas dialihkan, layanan transportasi publik terganggu, dan sejumlah bisnis terpaksa tutup lebih awal demi keamanan.
Insiden di Jenewa ini mengingatkan pada gelombang protes serupa yang kerap mengiringi pertemuan-pertemuan besar internasional, di mana aspirasi damai seringkali dibajak oleh elemen-elemen anarkis. Peristiwa ini juga mencerminkan meningkatnya frustrasi publik terhadap kebijakan global yang dianggap tidak inklusif, seperti yang juga terlihat dalam Api Amarah Anti-Migran Lahap Belfast: Irlandia Utara Kembali Bergejolak beberapa waktu lalu.
Pihak penyelenggara KTT G-7 menegaskan bahwa agenda pertemuan tidak akan terpengaruh oleh kerusuhan. Langkah-langkah keamanan di sekitar lokasi utama KTT diperketat secara signifikan, dengan penambahan personel dan pengawasan canggih. Para pemimpin dunia diharapkan tetap fokus pada pembahasan substansial untuk mengatasi krisis ekonomi dan isu-isu mendesak lainnya.
Malam ini, suasana di Jenewa masih diselimuti ketegangan. Petugas kebersihan bekerja keras membersihkan puing-puing, sementara kepolisian tetap berjaga. Dunia menantikan bagaimana KTT G-7 akan berjalan di tengah bayang-bayang protes dan kerusuhan, serta dampaknya terhadap citra diplomasi multilateral.