JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) secara mengejutkan melesat signifikan pada perdagangan sesi hari ini, Kamis (29/10/2026), didorong oleh aksi beli masif pada saham-saham unggulan dari entitas bisnis Prajogo Pangestu dan Grup Bakrie. Penguatan ini membalikkan tren negatif yang sempat membayangi pasar selama beberapa waktu, memicu optimisme di kalangan investor dan analis ekonomi.
Pada penutupan perdagangan, IHSG tercatat menguat 1,85 persen atau 125,7 poin, mencapai level 6.940. Lonjakan ini menjadi performa harian terbaik sejak awal kuartal keempat tahun 2026, menandai pemulihan yang dinamis di tengah sentimen pasar yang fluktuatif akibat dinamika global.
Investor secara agresif memborong saham-saham sektor energi dan industri dasar yang terafiliasi dengan taipan Prajogo Pangestu. Emiten seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) kompak mengalami kenaikan harga yang substansial, menopang pergerakan indeks secara signifikan.
Tidak hanya itu, Grup Bakrie, melalui emiten-emiten andalannya seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD), turut memberikan kontribusi positif yang besar. Sentimen positif terhadap komoditas batu bara dan prospek pengembangan infrastruktur telekomunikasi menjadi pendorong utama apresiasi saham-saham tersebut.
Analis pasar modal dari Securitas Asia, Budi Santoso, menyoroti fenomena ini sebagai indikasi kekuatan fundamental beberapa konglomerasi besar di Indonesia. “Kenaikan ini bukan sekadar euforia sesaat. Ada narasi besar terkait kinerja finansial yang solid, proyek-proyek strategis yang mulai menunjukkan hasil, serta kepercayaan investor terhadap manajemen di balik entitas-entitas ini,” ujar Budi.
Penguatan IHSG ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2026 yang diperkirakan akan tetap resilient. Kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang relatif stabil juga memberikan kepastian bagi aliran investasi ke pasar saham.
Namun, beberapa pengamat mengingatkan akan potensi volatilitas yang masih dapat terjadi. Sentimen global, terutama dari kebijakan moneter negara-negara maju dan harga komoditas global, tetap menjadi faktor yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar.
"Meskipun hari ini pasar menikmati kenaikan signifikan, investor tetap perlu menerapkan strategi diversifikasi portofolio dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Fluktuasi harga komoditas masih dapat memengaruhi kinerja emiten-emiten tersebut di masa mendatang," tambah Budi Santoso.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau pergerakan pasar modal guna menjaga stabilitas dan kepercayaan investor. Program-program stimulus ekonomi yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di tahun 2026 juga diharapkan dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi sektor riil.
Aksi korporasi seperti akuisisi dan ekspansi bisnis yang dilakukan oleh emiten-emiten besar diprediksi akan menjadi salah satu motor penggerak utama IHSG di sisa tahun 2026. Hal ini memberikan sinyal positif bahwa ekonomi domestik memiliki daya tahan yang kuat menghadapi tantangan global.
Lonjakan IHSG hari ini menjadi kabar baik bagi ribuan investor ritel yang sempat merasakan tekanan jual. Diharapkan tren positif ini dapat berlanjut, membawa angin segar bagi pasar modal Indonesia dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Pergerakan saham Prajogo Pangestu dan Grup Bakrie akan terus menjadi sorotan utama, mengingat kapitalisasi pasar dan pengaruhnya yang besar terhadap indeks. Kinerja perusahaan-perusahaan ini seringkali dianggap sebagai barometer kesehatan ekonomi Indonesia.