JAKARTA — PT Pertamina (Persero) memastikan keamanan operasional kapal-kapal Republik Indonesia yang melintasi Selat Hormuz, menyusul peningkatan tensi geopolitik di kawasan Teluk pada tahun 2026. Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, menyatakan komitmen perusahaan untuk menjaga pasokan energi nasional tetap stabil melalui langkah-langkah mitigasi risiko yang ketat.
"Situasi di Selat Hormuz memang memerlukan kewaspadaan tinggi, namun kami dapat memastikan bahwa seluruh kapal berbendera Indonesia yang dioperasikan Pertamina berada dalam kondisi aman dan berlayar sesuai protokol keamanan yang telah diperbarui," ujar Nicke dalam konferensi pers virtual dari Jakarta, Senin (20/1/2026). Ia menekankan koordinasi intensif terus terjalin dengan berbagai pihak terkait, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Selat Hormuz, sebagai jalur maritim vital yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global, menjadi sangat krusial bagi Indonesia yang sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya dipenuhi melalui impor. Setiap gejolak di kawasan ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia dan berdampak langsung pada ketahanan energi nasional.
Pertamina telah menerapkan sejumlah protokol pengamanan tambahan. Ini mencakup peningkatan penjagaan di setiap kapal, pemantauan rute pelayaran secara real-time, serta penyiapan jalur alternatif jika sewaktu-waktu terjadi eskalasi yang tidak diharapkan. Teknologi navigasi dan komunikasi terkini turut dimanfaatkan untuk memastikan keamanan kru dan kargo.
Koordinasi aktif dilakukan bersama Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali, secara terpisah, menegaskan kesiapan unsur-unsur TNI AL untuk memberikan pengawalan dan perlindungan bagi kapal-kapal dagang Indonesia, termasuk kapal tanker Pertamina, jika diperlukan.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran dan Oman, Bapak Teuku Faizasyah, yang juga hadir dalam konferensi pers tersebut, menambahkan bahwa jalur diplomatik terus diintensifkan untuk memastikan kepentingan Indonesia terlindungi. "Pemerintah Indonesia secara aktif berkomunikasi dengan negara-negara regional dan kekuatan global guna meredakan tensi serta mencari solusi damai," jelas Teuku Faizasyah.
Gejolak di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah global, yang pada akhirnya akan memengaruhi harga bahan bakar di dalam negeri. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus memantau dinamika harga minyak dunia dan menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga energi domestik.
"Kami telah mengidentifikasi beberapa skenario terburuk dan menyiapkan respons yang memadai, termasuk diversifikasi pasokan dari sumber lain serta optimalisasi cadangan strategis," kata Arifin Tasrif, Menteri ESDM, dalam kesempatan berbeda. Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan energi terbarukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan impor.
Pakar keamanan maritim dari Universitas Indonesia, Dr. Yono Reksoprodjo, mengapresiasi langkah cepat Pertamina dan pemerintah dalam merespons situasi ini. "Kunci utamanya adalah mitigasi proaktif dan diplomasi yang kuat. Memiliki protokol yang jelas serta jalur komunikasi terbuka antarlembaga adalah esensial dalam menghadapi ancaman di area berisiko tinggi seperti Selat Hormuz," ujarnya.
Pertamina juga memastikan bahwa asuransi dan aspek legalitas seluruh kapal telah diperbarui untuk mencakup risiko konflik. Hal ini menjadi bagian integral dari strategi manajemen risiko perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks.
Meskipun demikian, Pertamina tetap optimistis bahwa situasi dapat dikelola dengan baik. Komitmen untuk menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat Indonesia merupakan prioritas utama, tanpa mengabaikan keselamatan jiwa dan aset perusahaan.
Kondisi kapal-kapal tanker yang digunakan Pertamina rata-rata memiliki sistem keamanan canggih, dilengkapi dengan teknologi deteksi dini ancaman, serta kru yang telah terlatih menghadapi berbagai skenario darurat. Pelatihan rutin dan simulasi telah menjadi bagian dari standar operasional prosedur.
Pemerintah Indonesia menyerukan kepada semua pihak yang bertikai di kawasan Teluk agar menahan diri dan mengedepankan dialog. Stabilitas kawasan sangat vital tidak hanya bagi negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga bagi seluruh perekonomian global yang sangat bergantung pada pasokan energi dari sana.
Pada akhirnya, Pertamina menegaskan bahwa hingga laporan ini diturunkan, tidak ada insiden signifikan yang menimpa kapal-kapal Indonesia di Selat Hormuz. Seluruh operasional pelayaran minyak dan gas tetap berjalan sesuai rencana dengan tingkat kewaspadaan maksimal. Keamanan pasokan energi nasional tetap terjaga berkat koordinasi multi-pihak yang solid dan strategi mitigasi risiko yang komprehensif.