JAKARTA — Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus), spesies non-endemik yang sering ditemukan di perairan tawar Indonesia, kembali menjadi sorotan publik dan komunitas ilmiah di tahun 2026 ini akibat daya tahan hidupnya yang ekstrem serta ancamannya terhadap keseimbangan ekosistem lokal. Kemampuan adaptasi luar biasa, bahkan di lingkungan tercemar dan minim oksigen, menjadikannya predator yang sulit dikendalikan populasinya.
Fenomena invasi spesies ini telah berlangsung bertahun-tahun, namun urgensi penanganannya semakin terasa seiring dampak ekologis yang kian meluas. Keberadaan ikan sapu-sapu, yang dikenal dengan nama ilmiah lain seperti Pterygoplichthys pardalis atau Liposarcus pardalis, kini menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan habitat ikan-ikan asli di berbagai sungai dan danau di Indonesia.
Secara biologis, ikan sapu-sapu memiliki beberapa keunggulan adaptasi yang membuatnya begitu tangguh. Salah satunya adalah keberadaan organ pernapasan tambahan berupa lambung yang termodifikasi, memungkinkannya menghirup udara langsung dari permukaan air. Fitur ini krusial saat kondisi perairan mengalami defisit oksigen, seperti pada sungai yang tercemar limbah atau genangan air yang surut.
Daya tahan ikan ini tidak hanya terbatas pada kemampuan bernapas. Ia juga dikenal sebagai ikan yang sangat toleran terhadap fluktuasi kualitas air, termasuk kadar polutan kimia dan suhu ekstrem. Ini menjelaskan mengapa ikan sapu-sapu dapat bertahan hidup dan berkembang biak di perairan yang dianggap tidak layak bagi sebagian besar spesies ikan asli Indonesia.
Profesor Dr. Budi Santoso, seorang ahli ekologi perairan dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa karakteristik oportunistik ikan sapu-sapu merupakan faktor utama yang mempercepat penyebarannya. “Ikan ini adalah pemakan segala, mulai dari alga, detritus, hingga telur ikan lain. Kemampuannya membersihkan dasar perairan dari sisa-sisa organik justru menjadi bumerang, sebab ia juga memangsa sumber makanan dan telur ikan endemik,” ujar Prof. Budi dalam sebuah diskusi panel virtual awal Maret 2026.
Selain ancaman langsung melalui persaingan makanan dan predasi, ikan sapu-sapu juga berkontribusi pada kerusakan fisik habitat. Aktivitasnya menggali dasar sungai atau danau untuk mencari makanan dapat merusak sarang ikan lain serta mengikis tepi-tepi perairan, menyebabkan sedimentasi yang lebih parah.
Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada akhir tahun 2025 telah menginisiasi program pemantauan dan pengendalian spesies invasif di beberapa titik perairan krusial. Namun, skala permasalahan ini memerlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, mengingat laju reproduksi ikan sapu-sapu yang sangat tinggi.
Seekor induk ikan sapu-sapu betina mampu menghasilkan ribuan telur dalam sekali pemijahan. Ditambah dengan kurangnya predator alami di lingkungan baru, populasi ikan ini dapat meledak secara eksponensial dalam waktu singkat, menggeser dominasi ikan-ikan lokal yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis tinggi.
Upaya mitigasi yang sedang dijajaki meliputi metode penangkapan massal, edukasi masyarakat tentang bahaya pelepasan ikan non-endemik, serta penelitian lebih lanjut mengenai potensi pemanfaatan ikan sapu-sapu secara berkelanjutan. Beberapa komunitas bahkan mengolah ikan sapu-sapu menjadi pakan ternak alternatif atau pupuk organik, sebuah inisiatif yang patut didukung.
Namun, tantangan terbesar tetap pada mengubah persepsi masyarakat agar tidak lagi membuang ikan sapu-sapu ke perairan umum. Kesadaran kolektif adalah kunci untuk menghentikan laju invasi ini dan menjaga kelestarian keanekaragaman hayati perairan tawar Indonesia dari ancaman ikan sapu-sapu yang gigih.