JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merampungkan analisis perhitungan astronomi yang menunjukkan titik konjungsi kunci penentu awal bulan suci Ramadan, menyediakan basis data primer yang krusial sebelum Sidang Isbat Kementerian Agama dilaksanakan. Prediksi ilmiah ini penting untuk memproyeksikan posisi hilal, menentukan kapan ijtimak atau konjungsi telah terpenuhi, yang menjadi syarat fundamental dimulainya puasa.
Analisis BRIN dan BMKG ini memanfaatkan metode hisab mutakhir, berfokus pada kapan Bulan dan Matahari berada pada posisi bujur ekliptika yang sama. Momen ini, yang dikenal sebagai konjungsi, adalah penanda berakhirnya bulan sebelumnya dan awal potensi bulan baru. Kredibilitas data yang disajikan kedua lembaga negara ini menjadikannya rujukan utama bagi penetapan kalender Hijriah di Indonesia.
Kepala Pusat Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Dr. Prasetio, menjelaskan bahwa perhitungan mereka memproyeksikan waktu konjungsi terjadi pada sore hari tertentu, yang berarti hilal (bulan sabit muda) akan sangat sulit, atau bahkan mustahil, terlihat pada waktu magrib di sebagian besar wilayah Indonesia. Ketinggian hilal dan elongasi Bulan dari Matahari menjadi dua variabel utama yang diperhitungkan secara rigid.
“Kami menggunakan model perhitungan termutakhir yang menggabungkan data orbit presisi tinggi. Ketinggian hilal yang sangat rendah saat Matahari terbenam di hari konjungsi menunjukkan bahwa kriteria imkanur rukyat MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) kemungkinan besar belum terpenuhi,” ujar Dr. Prasetio, merujuk pada standar batas visibilitas hilal.
BMKG, melalui Deputi Bidang Geofisika, turut memvalidasi data ini dengan menyediakan informasi kondisi atmosfer dan visibilitas cuaca di berbagai titik pengamatan strategis. Data BMKG mencakup proyeksi kemungkinan adanya tutupan awan, kelembaban, dan potensi polusi udara yang dapat menghalangi upaya rukyat (pengamatan fisik) hilal.
Sinkronisasi data antara hisab (perhitungan) dan potensi rukyat (pengamatan) adalah inti dari kerja kolaboratif ini. Meskipun hisab dapat memprediksi secara pasti posisi benda langit, faktor alam seperti cuaca sangat menentukan keberhasilan pengamatan visual, yang merupakan syarat penetapan dalam tradisi Islam di Indonesia.
Pentingnya perhitungan sains ini terletak pada upaya Pemerintah untuk mencapai kesatuan dalam penentuan hari besar keagamaan. Dengan data yang kuat dan terukur, disparitas pandangan di masyarakat dapat diminimalisir, memberikan pijakan yang solid sebelum keputusan final Sidang Isbat diumumkan.
Metode hisab yang digunakan BRIN tidak hanya menghitung posisi geometris Bulan, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor koreksi lain, termasuk paralaks dan refraksi atmosfer, yang sering diabaikan dalam perhitungan manual tradisional. Akurasi ilmiah ini memastikan bahwa data yang diserahkan kepada Kementerian Agama sangat presisi.
Sebagai informasi tambahan, kriteria MABIMS mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar hilal dapat diterima melalui rukyat. Jika hasil perhitungan BRIN dan BMKG menunjukkan angka di bawah ambang batas ini, potensi besar awal Ramadan akan ditetapkan berbeda dari hari konjungsi tersebut.
Seluruh analisis astronomi yang dikeluarkan oleh BRIN dan BMKG ini merupakan masukan teknis dan ilmiah. Keputusan resmi penetapan awal Ramadan, termasuk penentuan apakah puasa dimulai pada hari yang sama atau ditunda, tetap berada di tangan Kementerian Agama setelah mempertimbangkan laporan rukyat dari seluruh penjuru Nusantara.