ROMA – Lima puluh tahun silam, tepatnya pada 9 September 1976, dunia dikejutkan oleh wafatnya salah satu tokoh paling berpengaruh abad ke-20, Mao Zedong. Momen krusial ini tidak hanya menandai berakhirnya sebuah era di Tiongkok, tetapi juga terekam abadi melalui lensa seorang koresponden dari kantor berita ANSA. Foto yang diambilnya saat itu menjadi simbol global, mengabadikan duka cita mendalam jutaan rakyat dan mengubah persepsi dunia terhadap Tiongkok. Kini, sang jurnalis berbagi kisahnya di balik bidikan yang menggemparkan tersebut.
Koresponden ANSA, yang bertugas meliput peristiwa penting di Asia pada era itu, menghadapi tantangan besar. Tiongkok pada 1976 masih sangat tertutup bagi jurnalis asing, terutama terkait isu-isu sensitif seperti kondisi kesehatan pemimpin tertinggi. Berita kematian Mao menyebar secara terbatas, menciptakan kebingungan sekaligus duka yang mendalam di kalangan warga Tiongkok. Suasana ibu kota Beijing mencekam, dipenuhi barisan pelayat yang tak henti-hentinya.
Ini adalah momen yang sangat sulit, kenang sang koresponden. Akses sangat dibatasi, dan setiap gerakan kami diawasi ketat. Namun, naluri jurnalis menuntut kami untuk berada di tengah peristiwa, menangkap esensi dari apa yang sedang terjadi. Dengan peralatan seadanya dan keterbatasan informasi, ia berupaya mendokumentasikan skala duka cita yang melanda Tiongkok.
Foto ikonik tersebut menggambarkan lautan manusia di Lapangan Tiananmen, tempat upacara perkabungan nasional diselenggarakan. Jutaan warga berjejer, beberapa menangis tersedu-sedu, lainnya hanya terdiam dalam kesedihan yang mendalam. Ekspresi wajah mereka, dibingkai oleh spanduk-spanduk besar dan potret raksasa Mao, merefleksikan perpaduan antara kesetiaan, ketakutan, dan ketidakpastian akan masa depan. Jurnalis ANSA itu berhasil mengabadikan suasana yang sangat emosional.
Pengambilan gambar dilakukan secara sembunyi-sembunyi, menghindari perhatian otoritas yang mungkin akan menyita hasil liputan. Saya tahu ini adalah bidikan yang penting. Bukan hanya sekadar berita kematian, tetapi juga cerminan dari sebuah sistem dan dampaknya terhadap rakyat, ujarnya. Risiko yang diambilnya sepadan dengan hasil yang diperoleh.
Setelah berhasil mengirimkan filmnya, foto itu dengan cepat menyebar ke seluruh dunia melalui jaringan ANSA. Gambar tersebut menjadi bukti visual pertama yang kuat tentang respons publik Tiongkok terhadap kematian pemimpin mereka, yang sebelumnya hanya bisa diakses melalui laporan resmi yang terkontrol. Media-media internasional di seluruh penjuru dunia mencetak ulang foto ini di halaman depan, menjadikannya salah satu gambar paling ikonik dari tahun 1976.
Dampak foto ini sangat signifikan. Ia tidak hanya memberikan pandangan otentik tentang suasana di Tiongkok saat itu, tetapi juga memicu diskusi global mengenai warisan Mao dan masa depan Tiongkok pasca-Mao. Foto tersebut membuka mata dunia terhadap skala kesedihan yang tak terbayangkan, sekaligus mengisyaratkan potensi perubahan besar yang akan datang.
Mengenang peristiwa tersebut setengah abad kemudian, sang jurnalis menuturkan, Momen itu membentuk pemahaman saya tentang kekuatan jurnalisme visual. Sebuah gambar dapat menceritakan seribu kata dan melampaui hambatan bahasa atau ideologi. Fotonya bukan hanya sekadar dokumentasi, melainkan sebuah pernyataan sejarah.
Wafatnya Mao Zedong memang membuka babak baru bagi Tiongkok. Deng Xiaoping kemudian mengambil alih kekuasaan, melancarkan reformasi ekonomi yang radikal, dan secara bertahap membuka negara itu ke dunia luar. Namun, warisan ideologi Mao tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas politik Tiongkok hingga tahun 2026 ini, dengan potretnya masih terpampang di gerbang Tiananmen, simbol peringatan akan seorang pemimpin yang membentuk nasib satu perempat populasi dunia.
Analisis Redaksi: Peristiwa wafatnya Mao Zedong, yang kini telah berlalu lima dekade, tetap menjadi titik balik monumental dalam sejarah modern. Liputan jurnalis ANSA kala itu tidak hanya sekadar menyampaikan berita, tetapi juga memberikan perspektif visual yang mendalam pada saat akses informasi sangat terbatas. Ini menegaskan peran vital jurnalisme independen dalam merekam dan menyebarkan kebenaran, bahkan di bawah tekanan. Warisan Mao, meskipun kontroversial, terus membentuk lanskap politik dan sosial Tiongkok, memengaruhi dinamika global bahkan di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto di Indonesia dan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat. Foto tersebut menjadi pengingat abadi akan kekuatan individu dalam merekam sejarah besar.