Kyiv, Ukraina – Gelombang serangan rudal dan drone besar-besaran menggempur ibu kota Ukraina, Kyiv, pada awal tahun 2026. Agresi militer Rusia ini, yang disebut sebagai aksi balasan dendam, melibatkan peluncuran supermisil Oreshnik dan memantik kecaman keras dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky serta para pemimpin Eropa.
Serangan yang terjadi secara beruntun ini melumpuhkan sebagian wilayah kota, menyebabkan kepanikan dan kerusakan infrastruktur vital. Militer Ukraina melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berupaya keras menghalau puluhan proyektil, namun beberapa berhasil menembus dan mencapai target.
Pihak berwenang Rusia mengklaim serangan tersebut sebagai tanggapan atas tindakan provokatif Ukraina sebelumnya. Namun, detail mengenai insiden pemicu masih menjadi perdebatan sengit di kancah internasional. Analis militer mengidentifikasi serangan ini sebagai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung lama.
Presiden Zelensky, dalam pidato daruratnya, dengan tegas mengutuk serangan brutal terhadap warga sipil dan fasilitas non-militer. "Tindakan pengecut ini tidak akan mematahkan semangat kami. Ukraina akan membalas setiap tetes air mata yang jatuh akibat agresi ini," ujar Zelensky. Ia juga menyerukan komunitas internasional untuk memperketat sanksi terhadap Rusia.
Respon dari Eropa tidak kalah cepat. Kanselir Jerman, Olaf Scholz, melalui pernyataan resminya, menyatakan bahwa "Serangan terhadap Kyiv merupakan pelanggaran hukum internasional yang tidak dapat ditolerir. Solidaritas Eropa bersama rakyat Ukraina." Pernyataan serupa juga datang dari Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, yang menjabat pada tahun 2026.
Supermisil Oreshnik, yang diduga kuat turut diluncurkan, menambah dimensi ancaman baru. Rudal hipersonik ini, yang baru-baru ini dikembangkan Rusia, dikenal memiliki kecepatan luar biasa dan kemampuan manuver yang sulit diantisipasi oleh sistem pertahanan rudal konvensional. Kehadirannya dalam serangan ini menunjukkan peningkatan kapabilitas ofensif Rusia.
Laporan awal dari Kyiv mengindikasikan setidaknya puluhan korban tewas dan ratusan luka-luka. Tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan yang runtuh. Listrik padam di beberapa distrik, dan pasokan air bersih terganggu, memperburuk kondisi kemanusiaan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang masih menjabat pada tahun 2026, menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menyerukan penghentian segera tindakan permusuhan dan mendesak semua pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan sesi darurat untuk membahas situasi genting ini.
Serangan balasan ini menandai babak baru yang berbahaya dalam konflik Rusia-Ukraina, yang kini memasuki tahun keempatnya. Ketegangan global diperkirakan akan semakin meningkat, memicu kekhawatiran akan kemungkinan perluasan konflik di kawasan Eropa Timur.
Para analis geopolitik memprediksi bahwa insiden ini akan memicu respons lebih lanjut dari aliansi Barat, berpotensi pada peningkatan bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina. Namun, ada pula kekhawatiran bahwa langkah-langkah tersebut justru dapat memprovokasi eskalasi yang lebih besar.
Organisasi bantuan kemanusiaan internasional telah menyatakan keprihatinan mendalam atas dampak serangan ini terhadap jutaan warga sipil. Mereka menyerukan pembukaan koridor kemanusiaan yang aman dan akses tak terbatas bagi bantuan medis serta makanan ke area yang terdampak.
Peristiwa di Kyiv ini kembali mengingatkan dunia akan brutalitas konflik bersenjata dan pentingnya dialog diplomatik yang konstruktif. Namun, dengan situasi yang memanas, prospek penyelesaian damai tampaknya semakin jauh di awal tahun 2026.