ROMA – Dini hari Kamis, 12 Mei 2026, langit di atas Italia menyajikan pemandangan langka nan memukau: gerhana bulan parsial dengan dominasi rona merah darah yang spektakuler. Fenomena astronomi ini, yang melibatkan 96% cakram bulan diselimuti bayangan umbra Bumi, berhasil menyihir jutaan pasang mata yang terbangun lebih awal untuk menyaksikannya.
Gerhana bulan ini berlangsung selama beberapa jam, dengan puncaknya terjadi sekitar pukul 04.30 waktu setempat, menampilkan Bulan yang seolah berdarah di ufuk barat. Warna merah ini muncul akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi yang kemudian mencapai permukaan Bulan, sebuah proses yang telah lama dipahami oleh ilmu pengetahuan.
Para astronom dan pecinta antariksa di seluruh negeri telah menantikan momen ini dengan antusiasme tinggi. Prof. Giovanni Rossi dari Observatorium Astrofisika Milan menjelaskan bahwa kondisi atmosfer Bumi sangat memengaruhi intensitas warna merah yang terlihat. Semakin banyak debu vulkanik atau partikel di atmosfer Bumi, semakin gelap dan pekat warna merah yang akan dipantulkan Bulan, ujar Prof. Rossi, menggarisbawahi kompleksitas fenomena ini.
Masyarakat di berbagai kota, mulai dari Roma, Venice, hingga Naples, berkumpul di titik-titik pandang terbaik. Beberapa grup pengamat langit bahkan menggelar acara khusus, menyediakan teleskop bagi warga yang ingin melihat detail permukaan Bulan yang tersinari sebagian, menciptakan suasana kebersamaan yang unik.
Warna merah atau oranye kecokelatan pada Bulan terjadi karena fenomena yang disebut hamburan Rayleigh. Cahaya biru dan hijau dari spektrum matahari lebih banyak dihamburkan oleh atmosfer Bumi, sementara cahaya merah dan oranye berhasil menembus dan membiaskan ke Bulan, memberikan efek visual yang dramatis.
Meskipun gerhana bulan merupakan kejadian reguler, gerhana dengan cakupan bayangan Bumi hingga 96% seperti yang terjadi pada 12 Mei 2026 ini tergolong cukup langka dan selalu menjadi daya tarik tersendiri. Peristiwa serupa yang terakhir kali terlihat jelas di Eropa terjadi beberapa tahun silam, menjadikan momen ini istimewa bagi banyak pengamat.
Fenomena ini menjadi surga bagi para fotografer astrofotografi. Ribuan foto Bulan merah bertebaran di media sosial, menunjukkan keindahan dan keunikan kejadian tersebut dari berbagai sudut pandang. Banyak yang mengabadikan Bulan dengan latar belakang ikonik kota-kota di Italia, menciptakan karya seni yang memukau.
Berbeda dengan gerhana bulan total di mana seluruh Bulan masuk ke umbra Bumi, gerhana parsial ini masih menyisakan sedikit bagian Bulan yang tidak tertutup bayangan. Meski demikian, efek warna merah tetap dominan dan memukau, memberikan pengalaman visual yang mendalam.
Setelah gerhana bulan ini, komunitas astronomi di Italia dan dunia menantikan sejumlah peristiwa langit lain sepanjang tahun 2026, termasuk hujan meteor Quadrantid yang spektakuler dan gerhana matahari cincin di akhir tahun, menjanjikan lebih banyak keajaiban kosmik.
Observatorium dan planetarium di seluruh Italia memanfaatkan momen ini untuk edukasi publik. Mereka mengadakan sesi tanya jawab dan presentasi tentang tata surya, posisi planet, serta pentingnya menjaga lingkungan Bumi yang memengaruhi kualitas pengamatan astronomi, menumbuhkan minat generasi muda terhadap sains.
Analisis Redaksi: Peristiwa langit ini menyoroti ketertarikan publik yang tak lekang oleh waktu terhadap sains dan fenomena astronomi. Kemajuan teknologi fotografi dan media sosial memungkinkan penyebaran keindahan ini secara instan, menginspirasi apresiasi kolektif terhadap alam semesta. Kejadian ini juga menjadi pengingat halus akan pentingnya kesehatan atmosfer Bumi, yang secara langsung memengaruhi cara kita mengamati keajaiban kosmik ini.