ASSISI – Paus Fransiskus baru-baru ini melontarkan peringatan keras mengenai bahaya menciptakan “musuh buatan” sebagai strategi untuk mengukuhkan dan mempertahankan kekuasaan, sebuah pesan signifikan yang beliau sampaikan di hadapan ribuan pemuda di Assisi, Italia, pada tahun 2026. Dalam kesempatan bersejarah tersebut, Paus juga menegaskan bahwa esensi Kekristenan secara fundamental bertentangan dengan segala bentuk fundamentalisme.
Pernyataan Paus ini muncul saat dunia terus bergulat dengan berbagai konflik dan ketegangan yang seringkali berakar pada polarisasi dan stigmatisasi terhadap kelompok tertentu. Beliau menggarisbawahi bagaimana narasi permusuhan sengaja dibangun untuk memecah belah masyarakat, mengalihkan perhatian dari isu-isu substantif, dan pada akhirnya, memperkuat kontrol politik maupun sosial.
"Ketika seseorang ingin memaksakan kekuasaan mereka, mereka sering kali menemukan musuh atau menciptakan musuh," ujar Paus Fransiskus, menyoroti modus operandi yang telah terbukti sepanjang sejarah. Taktik ini, menurut beliau, sering digunakan oleh penguasa atau kelompok elite yang ingin membenarkan tindakan otoriter atau mengkonsolidasi dukungan dengan menyatukan massa melawan target bersama.
Acara di Assisi yang dihadiri oleh para generasi muda dari berbagai belahan dunia ini menjadi platform strategis bagi Paus untuk menyampaikan pesan perdamaian dan persatuan. Assisi, sebagai kota kelahiran Santo Fransiskus, selalu menjadi simbol dialog antaragama dan jembatan persaudaraan, semakin memperkuat resonansi dari ajaran Paus.
Lebih lanjut, Bapa Suci dengan tegas menyatakan, "Orang Kristen secara total berlawanan dengan fundamentalisme." Penegasan ini membantah pandangan keliru yang kerap menyamakan agama dengan ekstremisme. Beliau menjelaskan bahwa inti ajaran Kristus adalah kasih, pengampunan, dan toleransi, nilai-nilai yang mustahil bersanding dengan ideologi fundamentalis yang memecah belah.
Paus menyerukan kepada para pemuda untuk menjadi agen perdamaian dan menolak godaan fundamentalisme, baik dalam bentuk ekstremisme agama, ideologi politik yang kaku, maupun nasionalisme sempit. Ia mendorong mereka untuk mempraktikkan iman secara otentik, yang berarti menerima perbedaan dan membangun jembatan persahabatan, bukan tembok permusuhan.
Pesan Paus Fransiskus ini tidak hanya relevan bagi umat Kristiani, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Di tengah meningkatnya retorika kebencian dan perpecahan, seruan untuk melawan narasi musuh buatan menjadi sangat krusial. Ini adalah panggilan untuk refleksi kritis terhadap sumber informasi dan motivasi di balik setiap klaim permusuhan.
Tahun 2026 menjadi periode di mana isu fundamentalisme dan polarisasi semakin mencuat dalam diskursus global. Paus Fransiskus secara konsisten menyuarakan keprihatinan terhadap meningkatnya intoleransi dan mendorong dialog sebagai satu-satunya jalan menuju penyelesaian konflik yang berkelanjutan. Pesannya di Assisi berfungsi sebagai pengingat mendalam akan tanggung jawab bersama untuk menjaga kedamaian dan keadilan.
Beliau juga menyoroti bagaimana fundamentalisme dapat merongrong kebebasan beragama dan hak asasi manusia. Fundamentalisme, dalam konteks apapun, cenderung memaksakan interpretasi tunggal dan eksklusif, menolak pluralisme, dan seringkali berujung pada kekerasan atas nama dogma.
Keterlibatan para pemuda dalam acara ini adalah sinyal optimisme Paus terhadap masa depan. Dengan membekali generasi muda dengan pemahaman akan nilai-nilai universal dan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan manipulasi, diharapkan mereka dapat menjadi pemimpin yang membawa perubahan positif di tengah masyarakat.
Analisis Redaksi:
Pesan Paus Fransiskus dari Assisi ini bukan sekadar retorika keagamaan; ini adalah kritik tajam terhadap politik kekuasaan global yang kerap memanfaatkan ketakutan dan perpecahan. Penekanannya pada esensi Kekristenan yang antitesis terhadap fundamentalisme juga menjadi pembeda penting di tengah stigma terhadap agama. Implikasi dari pesan ini adalah dorongan bagi setiap individu, terutama kaum muda, untuk bersikap kritis, mempromosikan dialog, dan menolak segala bentuk manipulasi yang bertujuan memecah belah masyarakat demi kepentingan sempit.