DOHA – Kontroversi menyelimuti persiapan tim nasional Amerika Serikat di Piala Dunia 2026 setelah pelatih kepala, Pochettino, memutuskan untuk tidak menyanyikan lagu kebangsaan “The Star-Spangled Banner” pada pertandingan pembuka turnamen hari Sabtu. Sikap ini memicu perdebatan sengit mengenai nasionalisme dan kebebasan berekspresi dalam ajang olahraga paling bergengsi.
Insiden tersebut terjadi sesaat sebelum peluit pertama ditiup, ketika para pemain dan staf kedua tim berdiri untuk mengumandangkan lagu kebangsaan masing-masing. Kamera menyorot Pochettino yang berdiri tegak, namun bibirnya tetap terkatup rapat, tidak mengikuti lirik lagu yang menjadi simbol identitas bangsa Amerika Serikat.
Keputusan Pochettino ini segera menarik perhatian luas, baik dari media maupun para penggemar yang memadati stadion. Di Amerika Serikat, menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan olahraga, terutama di ajang internasional seperti Piala Dunia, dianggap sebagai ekspresi patriotisme dan solidaritas.
Sejumlah pengamat sepak bola dan tokoh masyarakat mengekspresikan kekecewaan mereka, menganggap tindakan pelatih sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap nilai-nilai nasional. Namun, tidak sedikit pula yang membela, berargumen bahwa setiap individu memiliki hak untuk mengekspresikan diri, termasuk dalam bentuk protes non-verbal.
Hingga laporan ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari Pochettino mengenai alasan di balik keputusannya untuk tidak menyanyikan lagu kebangsaan. Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (USSF) juga belum mengeluarkan tanggapan terkait insiden yang potensial menimbulkan gejolak di internal tim.
Situasi ini mengingatkan pada sejumlah kasus di masa lalu, termasuk aksi kontroversial Robbie Williams di Piala Dunia 2018, yang menunjukkan bagaimana panggung olahraga kerap menjadi arena pernyataan sikap pribadi yang memantik reaksi publik luas.
Di tengah pusaran isu ini, sorotan juga tertuju pada kabar dari kubu Jerman. Penyerang nasional Jerman, Nick Woltemade, dilaporkan mengeluhkan bagaimana dirinya dinilai dan dievaluasi. Meskipun konteksnya berbeda, kedua insiden ini merefleksikan tekanan besar yang dihadapi para profesional di panggung sepak bola global.
Piala Dunia 2026, yang disebut-sebut akan menjadi salah satu yang paling spektakuler dengan pembukaan yang mengenang legenda Pelé dan Maradona, kini diwarnai dengan drama non-teknis. Harapan publik terhadap penampilan timnas Amerika Serikat, yang sebelumnya sempat digembar-gemborkan akan tampil solid, kini terbayangi pertanyaan seputar persatuan tim.
Insiden semacam ini berpotensi memengaruhi moral tim dan fokus para pemain di turnamen krusial. Terlebih lagi, dengan prediksi bahwa Jerman akan mendominasi fase gugur dan Rudi Völler menegaskan timnya 'sulit dikalahkan', tim lain dituntut untuk menjaga soliditas internal.
Bagaimana publik Amerika Serikat dan dunia merespons tindakan Pochettino ini dalam jangka panjang akan sangat menentukan. Apakah ini hanya gelembung sesaat atau akan menjadi isu yang mengganggu konsentrasi tim hingga final di Central Park, masih harus kita nantikan.