PARIS – Menjelang asesmen Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) 2025, lebih dari lima puluh tokoh terkemuka di Prancis, dipimpin oleh Kolektif Maths&Sciences, menyerukan penguatan mendesak pendidikan ilmiah dan teknik. Desakan ini muncul setelah Prancis menunjukkan penurunan performa signifikan dalam mata pelajaran sains, memicu kekhawatiran serius akan kesiapan negara menghadapi tantangan global di masa depan. Seruan tersebut dimuat dalam sebuah tulisan opini di harian terkemuka Le Monde.
Deklinasi Prancis dalam disiplin ilmu pengetahuan dan matematika telah menjadi sorotan selama beberapa tahun terakhir. Laporan PISA sebelumnya secara konsisten mengindikasikan tren penurunan, menempatkan sistem pendidikan Prancis di bawah tekanan untuk beradaptasi dan berinovasi. Para ahli melihat situasi ini sebagai peringatan dini akan potensi hilangnya daya saing dan kapasitas inovasi nasional.
Kolektif Maths&Sciences, sebuah kelompok advokasi yang beranggotakan ilmuwan, pendidik, dan pemimpin industri, secara lantang menyatakan urgensi ini. Mereka berpendapat bahwa hanya melalui edukasi masif yang mencakup pengetahuan ilmiah, keterampilan teknis, dan keahlian manual, Prancis dapat mempersiapkan generasi mudanya menghadapi kompleksitas zaman.
Pendidikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) merupakan fondasi esensial bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan dan inovasi. Dalam konteks global yang semakin kompetitif, negara-negara yang unggul dalam bidang ini cenderung memimpin dalam penelitian, pengembangan, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas tinggi.
Seruan tersebut tidak hanya berfokus pada jalur pendidikan tertentu, melainkan menekankan perlunya penguatan pengajaran ilmiah dan teknik di semua jalur pendidikan, dari tingkat dasar hingga menengah, dan sepanjang durasi wajib belajar. Ini menandakan bahwa reformasi yang komprehensif diperlukan, bukan sekadar penyesuaian parsial.
Aspek savoir-faire atau keahlian praktis, termasuk keterampilan manual, juga disorot sebagai komponen vital. Ini mencerminkan pengakuan bahwa pendidikan tidak hanya harus membekali siswa dengan teori, tetapi juga dengan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam konteks dunia nyata, mempersiapkan mereka untuk karier di sektor industri dan inovasi.
PISA, yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), mengevaluasi kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Hasil PISA seringkali menjadi barometer penting bagi kualitas sistem pendidikan suatu negara dan memengaruhi kebijakan pendidikan global. Artikel-artikel terkait menunjukkan bahwa penurunan skor PISA 2025 adalah krisis pendidikan global yang meluas.
Kondisi Prancis ini bukanlah anomali. Banyak negara di dunia sedang bergulat dengan tantangan serupa dalam meningkatkan kualitas pendidikan STEM. Pandemi global beberapa tahun lalu juga turut memperburuk kesenjangan belajar dan capaian akademik di berbagai belahan dunia, membuat tugas untuk memulihkan dan meningkatkan standar pendidikan menjadi semakin berat.
Kegagalan untuk mengatasi penurunan ini dapat memiliki implikasi jangka panjang yang serius bagi Prancis, termasuk ketergantungan pada teknologi asing, penurunan produktivitas, dan potensi pengangguran di sektor-sektor strategis. Selain itu, kesenjangan dalam pendidikan sains juga dapat memperlebar jurang sosial ekonomi.
Pemerintah Prancis kini dihadapkan pada tugas mendesak untuk merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan yang responsif. Investasi pada pelatihan guru berkualitas, pembaruan kurikulum yang relevan, serta penyediaan fasilitas laboratorium yang memadai akan menjadi krusial dalam upaya membalikkan tren negatif ini.
Analisis Redaksi: Desakan Kolektif Maths&Sciences menggarisbawahi realitas pahit bahwa kualitas pendidikan STEM di Prancis, dan di banyak negara maju lainnya, sedang berada di titik kritis. Respons yang lamban atau tidak memadai terhadap seruan ini berpotensi membahayakan kapabilitas inovatif dan daya saing ekonomi Prancis di masa depan. Ini bukan sekadar isu akademik, melainkan fondasi bagi kemandirian dan kemajuan nasional, menuntut visi strategis jangka panjang dari para pembuat kebijakan.