JAKARTA — Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, baru-baru ini memperingatkan komunitas internasional mengenai risiko terburuk yang dapat muncul dari potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam sebuah forum diskusi strategis di Jakarta pada awal tahun 2026, ia secara lugas memaparkan skenario bencana global yang mengancam jika ketegangan di Timur Tengah berujung pada konfrontasi militer skala penuh.
Sugiono menegaskan bahwa konflik bersenjata langsung antara ketiga kekuatan tersebut tidak hanya akan memicu destabilisasi regional, melainkan juga berpotensi memicu gelombang krisis multidimensional yang dampaknya merembet jauh melampaui batas geografis kawasan. Peringatan ini datang di tengah meningkatnya retorika panas dan insiden-insiden di Selat Hormuz serta wilayah Levant.
Menurut Sugiono, dampak ekonomi akan menjadi pukulan telak pertama. Ia menyoroti kemungkinan lonjakan drastis harga minyak global, mengganggu rantai pasok energi dunia, serta memicu inflasi tak terkendali di berbagai negara. Skenario terburuk ini diprediksi dapat menyeret ekonomi global ke dalam resesi yang mendalam, menghambat pemulihan pasca-pandemi yang masih rapuh.
Dari perspektif kemanusiaan, Menlu Sugiono menyoroti potensi gelombang pengungsi besar-besaran yang akan membebani negara-negara tetangga dan Eropa. Konflik tersebut akan memperparah krisis kemanusiaan yang sudah ada, menciptakan jutaan individu kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian, serta memicu ketidakstabilan sosial-politik di negara-negara penerima.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi risiko intervensi kekuatan-kekuatan regional dan global lainnya, yang dapat mengubah konflik terbatas menjadi perang proksi yang meluas. Situasi ini, lanjut Sugiono, berpotensi menciptakan garis pertempuran baru yang kompleks, sulit dikendalikan, dan berujung pada fragmentasi keamanan di kawasan yang sudah rentan.
Menlu Sugiono juga menyampaikan kekhawatiran serius mengenai ancaman terhadap kebebasan navigasi di jalur pelayaran vital, terutama Selat Hormuz. Penutupan atau gangguan serius pada jalur ini akan melumpuhkan perdagangan internasional, mengganggu pasokan komoditas esensial, dan menimbulkan kerugian triliunan dolar bagi perekonomian dunia.
Dalam paparannya, Sugiono menekankan perlunya diplomasi preventif yang lebih kuat dan dialog konstruktif dari semua pihak yang terlibat. Indonesia, sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, secara konsisten menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian konflik melalui jalur negosiasi damai, menghindari segala bentuk provokasi yang dapat memperburuk keadaan.
Ia mengajak seluruh negara anggota PBB untuk bekerja sama dalam menekan pihak-pihak yang berkonflik agar menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Tanpa upaya kolektif, ia menilai dunia akan menghadapi konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki dari konflik yang tidak perlu dan merusak.
Indonesia, melalui berbagai kanal diplomatik, terus aktif mendorong upaya mediasi dan fasilitasi dialog antarpihak yang berseteru. Komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia dan stabilitas regional menjadi landasan utama dalam setiap pernyataan dan langkah diplomatik yang diambil oleh Menlu Sugiono.
Peringatan dari Menlu Sugiono ini berfungsi sebagai seruan mendesak bagi para pembuat kebijakan global untuk segera mengambil langkah konkret. Mengesampingkan perbedaan dan memprioritaskan dialog adalah satu-satunya jalan untuk mencegah bencana yang diprediksi akan mengubah tatanan global secara fundamental.