PARIS – Hasil asesmen internasional PISA (Programme for International Student Assessment) memantik perdebatan sengit mengenai relevansi sistem pendidikan global. Profesor matematika terkemuka, Francois Germinet, dalam esainya di media Le Monde, secara tegas menyatakan bahwa PISA bukan cerminan kegagalan anak-anak, melainkan potret buram dari visi sekolah yang usang, mendesak reformasi fundamental kurikulum demi masa depan.
Germinet, seorang intelektual Prancis yang berpengaruh, mengemukakan pandangan radikal tentang esensi keberhasilan. Menurutnya, kemampuan mengarang atau menciptakan akhir sebuah drama teater jauh lebih vital dalam menghadapi tantangan PISA dan kehidupan sesungguhnya, ketimbang sekadar menghafal karya-karya klasik seperti Racine. Pernyataan ini secara telanjang menyingkap celah antara tuntutan evaluasi standar dan kebutuhan pengembangan potensi kreatif siswa.
Kritik ini tidak datang tanpa dasar. Sejumlah pakar pendidikan global telah lama memperingatkan bahwa fokus berlebihan pada hafalan dan disiplin ilmu yang kaku dapat mematikan daya nalar serta inovasi pelajar. PISA, yang dirancang mengukur kemampuan siswa dalam matematika, sains, dan membaca, justru diinterpretasikan oleh Germinet sebagai sebuah kegagalan institusional dalam membekali generasi mendatang dengan keterampilan adaptif.
Ia menyerukan agar pengetahuan tidak lagi terpenjara dalam sekat-sekat disipliner yang artifisial. Germinet memandang bahwa kolaborasi lintas ilmu dan pemikiran holistik adalah kunci untuk memecahkan permasalahan kompleks dunia modern. Transformasi ini mengharuskan para pendidik dan pembuat kebijakan untuk berani melampaui paradigma pengajaran tradisional.
Lebih lanjut, profesor tersebut juga mendesak agar lingkungan belajar tidak lagi terbatas pada dinding-dinding kelas. Konteks dunia nyata, interaksi sosial, serta pengalaman langsung harus menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Langkah ini bertujuan menciptakan ruang eksplorasi yang lebih luas, membebaskan siswa dan guru dari rutinitas yang monoton.
Perdebatan mengenai PISA dan metode evaluasi pendidikan sebenarnya bukanlah hal baru. Setiap rilis hasil PISA kerap diiringi analisis kritis dari berbagai negara yang mencari formula terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Namun, pandangan Germinet membawa perbincangan ini ke level filosofis yang lebih mendalam, mempertanyakan pondasi utama dari apa yang kita anggap sebagai 'pendidikan yang berhasil'.
Dalam pandangannya, tujuan akhir dari pendidikan adalah mempersiapkan individu untuk membayangkan dan membangun dunia esok. Ini menuntut kapasitas untuk berinovasi, berpikir kritis, serta memecahkan masalah dengan pendekatan baru, bukan sekadar mereproduksi informasi yang telah ada. Sebuah visi yang menantang kemapanan sistem yang telah berakar selama puluhan tahun.
Indonesia, dengan berbagai upaya reformasi kurikulum yang telah digulirkan, juga menghadapi tantangan serupa dalam menyeimbangkan antara tuntutan akademik dan pengembangan karakter serta kreativitas. Esensi dari argumen Germinet dapat menjadi refleksi penting bagi pembuat kebijakan di Tanah Air untuk terus mengevaluasi efektivitas pendekatan pendidikan yang diterapkan.
Terkait upaya meninjau ulang evaluasi pendidikan, sejumlah negara bahkan telah mengambil langkah progresif. Sebagai contoh, di tahun 2026 ini, Prancis dan Quebec tengah mengkaji ulang sistem evaluasi akademik mereka di era kecerdasan buatan. Inisiatif ini selaras dengan gagasan Germinet untuk menyesuaikan pendidikan dengan lanskap teknologi dan sosial yang terus berubah.
Pergeseran paradigma ini bukan sekadar perubahan metode mengajar, melainkan redefinisi fundamental terhadap apa yang dianggap sebagai 'nilai' dalam pendidikan. Apakah kita mendidik untuk menghasilkan pekerja yang patuh pada sistem, atau inovator yang mampu mengubah dunia? Pertanyaan ini menjadi inti dari esai provokatif Germinet.
Reformasi yang diusulkan Germinet mensyaratkan kolaborasi erat antara pemerintah, institusi pendidikan, orang tua, dan masyarakat luas. Tanpa dukungan kolektif, upaya untuk membebaskan pendidikan dari belenggu konvensi akan menjadi sia-sia. Pembelajaran harus menjadi proses yang dinamis, relevan, dan memberdayakan.
Meskipun kritik terhadap PISA dan sistem pendidikan telah mengemuka sebelumnya, penekanan Germinet pada urgensi pengembangan kreativitas sebagai fondasi utama menandai sebuah titik balik penting. Ini adalah panggilan untuk tidak lagi terpaku pada metrik-metrik sempit yang seringkali gagal menangkap kompleksitas potensi manusia.
Masa depan pendidikan bergantung pada keberanian kita untuk melampaui batas-batas lama. Hanya dengan demikian, generasi mendatang akan benar-benar siap untuk menghadapi realitas global yang semakin dinamis dan tak terduga.
Analisis Redaksi: Pandangan Francois Germinet bukan sekadar kritik sporadis, melainkan sebuah seruan mendalam untuk revolusi pedagogi. Di tengah laju disrupsi teknologi dan kompleksitas global, fokus pendidikan harus bergeser dari akumulasi fakta menuju pembentukan kapasitas adaptif, kreatif, dan kritis. Kegagalan memahami esensi ini akan berarti menciptakan generasi yang cakap dalam menghafal sejarah, namun gagap dalam merancang masa depannya sendiri. Transformasi ini memerlukan keberanian politik dan intelektual.