BRUSSELS — Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO yang baru, menyerukan agar aliansi militer transatlantik itu mengakhiri ketergantungan strategis yang "tidak sehat" terhadap Amerika Serikat. Pernyataan tegas ini disampaikan dalam forum strategis di markas besar NATO pada pertengahan 2026, menandai dorongan signifikan bagi negara-negara anggota Eropa untuk memperkuat kapasitas pertahanan mandiri di tengah lanskap geopolitik global yang semakin bergejolak.
Seruan Rutte mencerminkan kekhawatiran yang berkembang di kalangan pemimpin Eropa mengenai stabilitas komitmen Amerika Serikat terhadap keamanan benua itu, terutama setelah dinamika politik internal AS yang penuh ketidakpastian. Pernyataan ini secara eksplisit menggarisbawahi urgensi bagi Eropa untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam pertahanan kolektif.
"Kita tidak bisa terus-menerus menggantungkan keamanan kita pada satu negara saja, bahkan jika negara itu adalah sekutu yang paling kuat sekalipun," ujar Rutte, dalam pidatonya yang disorot luas. Ia menegaskan bahwa era di mana Eropa dapat berpuas diri dengan kontribusi Amerika Serikat yang dominan telah berakhir, menuntut pergeseran paradigma pertahanan.
Mantan Perdana Menteri Belanda itu menyoroti bahwa ketergantungan yang berlebihan ini telah menciptakan asimetri dalam pembagian beban, di mana banyak negara Eropa masih belum memenuhi target belanja pertahanan sebesar 2% dari PDB. Situasi ini dinilainya melemahkan kapabilitas kolektif aliansi dalam menghadapi ancaman modern yang kompleks.
Dalam visi Rutte, penguatan otonomi strategis Eropa bukan berarti menjauh dari Amerika Serikat, melainkan memperkuat NATO sebagai keseluruhan. Dengan kapasitas Eropa yang lebih tangguh, aliansi akan menjadi lebih resilient dan mampu menghadapi spektrum ancaman yang lebih luas, mulai dari agresi militer hingga ancaman hibrida dan siber.
Ia menekankan pentingnya investasi yang lebih besar dalam pengembangan teknologi pertahanan, inovasi militer, dan peningkatan kesiapan tempur. Kolaborasi lintas negara Eropa dalam proyek-proyek pertahanan bersama, seperti pengembangan sistem rudal atau platform udara tak berawak, menjadi kunci untuk mencapai tujuan ini.
Historisnya, isu pembagian beban telah menjadi poin perdebatan sejak berakhirnya Perang Dingin. Namun, desakan Rutte pada 2026 ini datang pada saat krusial, di mana konflik di Eropa Timur masih berlanjut dan ketegangan global terus meningkat, menuntut respons yang cepat dan terkoordinasi.
Para analis politik dan militer menyambut baik pernyataan Rutte sebagai langkah realistis. Mereka berpendapat bahwa penguatan pilar Eropa dalam NATO akan memberikan legitimasi yang lebih besar bagi aliansi dan mengurangi potensi kerentanan terhadap perubahan kebijakan domestik di negara anggota mana pun.
"Ini bukan tentang memecah belah, melainkan tentang memperkuat solidaritas melalui kapasitas yang lebih seimbang," tambah Rutte, mencoba menepis anggapan bahwa seruannya bisa ditafsirkan sebagai upaya untuk melemahkan ikatan transatlantik. Ia justru melihat ini sebagai jalan untuk kemitraan yang lebih matang dan setara.
Inisiatif ini diperkirakan akan memicu diskusi intensif di antara negara-negara anggota NATO, khususnya mengenai bagaimana mengimplementasikan strategi baru yang efektif. Tantangan terbesar adalah bagaimana mengatasi perbedaan kepentingan nasional dan memastikan komitmen finansial yang berkelanjutan dari semua pihak.
Rutte mengakhiri pidatonya dengan optimisme, menyatakan bahwa Eropa memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan pertahanan yang lebih dominan. "Masa depan keamanan kita ada di tangan kita sendiri," pungkasnya, mendorong para pemimpin Eropa untuk bertindak dengan tekad yang baru.