Senator Rusia Sentil AS: Anggap Iran Seperti Venezuela, Kini Keteteran

Angel Doris Angel Doris 29 Apr 2026 10:35 WIB
Senator Rusia Sentil AS: Anggap Iran Seperti Venezuela, Kini Keteteran
Senator Alexei Pushkov saat menyampaikan pandangannya di Moskow pada tahun 2026. Ia mengkritik keras kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran, menyoroti kesalahan kalkulasi Washington. (Foto: Ilustrasi/Net)

MOSKOW — Senator senior Rusia, Alexei Pushkov, melayangkan sentilan keras kepada Amerika Serikat (AS), menuding Washington terlalu naif dan keliru dalam menilai kekuatan Iran. Pushkov menyatakan AS salah kaprah mengira berhadapan dengan Iran akan semudah menangani Venezuela, sehingga kini keteteran di tengah memanasnya tensi geopolitik global pada tahun 2026.

Kritik pedas dari Kremlin ini muncul di tengah eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran, yang terus bergejolak di kawasan Timur Tengah. Pernyataan Pushkov, yang dikenal sebagai figur berpengaruh di Dewan Federasi Rusia, menyoroti pandangan Moskwa terhadap dinamika konflik yang kian kompleks.

Dalam komentarnya yang dikutip media Rusia pada pekan ini, Pushkov menegaskan bahwa AS membuat kekeliruan fatal dengan meremehkan kapabilitas militer dan ketahanan politik Iran. Menurutnya, ilusi bahwa Iran adalah negara yang rapuh seperti Venezuela telah menempatkan AS dalam posisi sulit dan penuh frustrasi.

“Mereka mengira Iran itu seperti Venezuela. Tapi ternyata tidak. Kekuatan dan daya tahan Iran jauh melampaui perkiraan Washington,” ujar Pushkov. Pernyataan ini secara implisit menyinggung kegagalan tekanan maksimum AS terhadap Iran yang tidak membuahkan hasil signifikan.

Analisis Pushkov mencerminkan kekhawatiran Rusia terhadap stabilitas regional, di mana eskalasi konflik antara AS dan Iran dapat memicu dampak global yang luas, terutama pada sektor energi dan keamanan maritim. Moskow kerap menyerukan dialog ketimbang konfrontasi militer.

Pernyataan senator ini juga bisa dibaca sebagai upaya Rusia untuk memperkuat narasi bahwa dominasi AS di kancah internasional mulai goyah, dan bahwa negara-negara lain, khususnya Iran, tidak gentar menghadapi tekanan dari Washington.

Ketegangan antara AS dan Iran telah berlangsung selama beberapa dekade, namun memuncak dalam beberapa tahun terakhir. Sanksi ekonomi yang berat dari AS dan respons agresif Iran di Selat Hormuz menjadi pemicu utama instabilitas yang tak kunjung mereda di tahun 2026.

Pushkov menambahkan bahwa pengalaman AS di Afghanistan dan Irak seharusnya menjadi pelajaran berharga tentang kompleksitas intervensi militer di negara berdaulat. Namun, tampaknya Washington belum sepenuhnya mengambil hikmah dari sejarah tersebut.

Pemerintahan Presiden AS yang baru menjabat pada awal tahun 2026 ini menghadapi tantangan besar untuk menavigasi krisis di Timur Tengah. Berbagai opsi, mulai dari diplomasi hingga pengerahan kekuatan, masih menjadi perdebatan sengit di Capitol Hill.

Di sisi lain, Teheran secara konsisten menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan akan terus mengembangkan kemampuan pertahanan diri mereka. Mereka menolak segala bentuk campur tangan asing dan menuntut pencabutan sanksi.

Para pengamat geopolitik internasional memandang pernyataan Pushkov sebagai sinyal bahwa Rusia siap memainkan peran lebih aktif dalam menyeimbangkan kekuatan di Timur Tengah, terutama dalam melindungi sekutunya atau negara-negara yang menentang hegemoni Barat.

Kritik ini datang di saat hubungan AS-Rusia sendiri tengah berada di titik terendah, dengan kedua negara saling tuding terkait berbagai isu mulai dari keamanan siber hingga konflik regional di Eropa Timur.

Situasi di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global, tetap menjadi titik api potensial. Insiden-insiden kecil dapat dengan cepat membesar menjadi konflik skala penuh yang berdampak pada ekonomi dunia.

Para ahli militer dan intelijen Barat mengakui bahwa Iran telah mengembangkan jaringan pertahanan asimetris yang kuat, termasuk rudal balistik, drone canggih, dan pasukan proksi di seluruh kawasan, yang dapat menimbulkan kerugian signifikan bagi setiap agresor.

Perbandingan dengan Venezuela bukan tanpa alasan, mengingat upaya AS untuk memaksakan perubahan rezim di Caracas yang juga terbukti sulit dan tidak membuahkan hasil sesuai harapan Washington.

Namun, konteks Iran, dengan sejarah peradaban ribuan tahun dan pengaruh regional yang dalam, jelas berbeda dengan Venezuela. Kemampuan Iran untuk memobilisasi dukungan internal dan regional tidak boleh diremehkan.

Senator Pushkov mendesak Washington untuk meninjau ulang strateginya di Timur Tengah dan mengedepankan solusi diplomatik yang realistis, bukan fantasi tentang “kemenangan mudah” atas negara berdaulat.

Perang melawan Iran bukan hanya akan menjadi bencana bagi kedua belah pihak, tetapi juga akan menyeret seluruh kawasan dan mengancam stabilitas global, memperburuk krisis kemanusiaan dan ekonomi yang sudah ada.

Moskwa menegaskan posisi bahwa penyelesaian krisis Iran harus melalui negosiasi multilateral dan penghormatan terhadap kedaulatan negara. Tanpa itu, ketegangan diyakini akan terus memburuk tanpa henti.

Dialog konstruktif antara semua pihak yang berkepentingan dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar yang rasional untuk mencegah bencana lebih lanjut di salah satu titik api paling berbahaya di dunia.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Angel Doris

Tentang Penulis

Angel Doris

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!