Tudingan Teror Rusia Tak Goyahkan AfD di Jerman Timur, Mengapa?

Stefani Rindus Stefani Rindus 02 Sep 2026 21:00 WIB
Tudingan Teror Rusia Tak Goyahkan AfD di Jerman Timur, Mengapa?
Ilustrasi: Tudingan Teror Rusia Tak Goyahkan AfD di Jerman Timur, Mengapa?

BERLIN – Tudingan terorisme terhadap Rusia oleh negara-negara Barat ternyata gagal menggoyahkan dukungan terhadap partai Alternatif untuk Jerman (AfD) di wilayah Sachsen-Anhalt, Jerman Timur. Pauline von Pezold, seorang reporter dari Politico, mengungkapkan fenomena ini berakar pada pandangan historis yang mendalam yang berbeda di kawasan tersebut terhadap Rusia, yang secara signifikan memengaruhi lanskap politik domestik Jerman pada tahun 2026.

Menurut von Pezold, Di Timur, orang memiliki pandangan yang sama sekali berbeda terhadap Rusia, dan ini tentu saja juga dipengaruhi secara historis. Pernyataan ini menyoroti kompleksitas sentimen publik di bekas Jerman Timur yang memiliki koneksi sejarah unik dengan Rusia, jauh berbeda dengan persepsi di wilayah Jerman Barat.

Hubungan historis ini merujuk pada era Republik Demokratik Jerman (DDR) yang berada di bawah pengaruh Uni Soviet. Selama puluhan tahun, warga Jerman Timur terekspos pada narasi politik dan budaya yang seringkali pro-Rusia atau setidaknya netral, membentuk persepsi yang berbeda dari pengalaman Jerman Barat yang lebih terintegrasi dengan blok Barat.

Partai AfD secara cerdik memanfaatkan narasi ini. Mereka seringkali memposisikan diri sebagai suara alternatif yang menentang kebijakan luar negeri pemerintah Berlin yang cenderung konfrontatif terhadap Moskow. Dengan mengadvokasi pendekatan yang lebih pragmatis atau bahkan bersahabat dengan Rusia, AfD berhasil menarik pemilih yang merasa termarjinalkan oleh arus utama politik.

Kontras mencolok terlihat bila dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya yang lebih vokal dalam mengutuk aksi Rusia, terutama pasca-konflik di Ukraina. Sebagaimana dilaporkan dalam artikel Eropa Siaga Penuh: Ancaman Hibrida Rusia Guncang Stabilitas, Aset Kremlin Diincar, ancaman hibrida Rusia telah menyebabkan banyak negara Eropa siaga penuh dan aset Kremlin menjadi sasaran. Namun, di Jerman Timur, resonansi terhadap ancaman ini tidak sekuat di bagian lain Eropa.

Pandangan von Pezold menegaskan bahwa narasi ini, yang melihat Rusia bukan sebagai musuh utama, justru sangat efektif di Jerman Timur. Hal ini bukan hanya soal politik identitas, tetapi juga refleksi dari kekecewaan terhadap unifikasi dan masalah ekonomi pasca-reunifikasi yang kerap disalahkan pada kebijakan Barat.

Pada tahun 2026 ini, di tengah ketegangan geopolitik yang terus membara, AfD terus menunjukkan performa elektoral yang kuat di Sachsen-Anhalt dan negara bagian timur lainnya. Keberhasilan mereka dalam mempertahankan basis dukungan ini mengindikasikan bahwa pesan mereka tentang Rusia, terlepas dari tuduhan teror, menemukan lahan subur di antara pemilih yang skeptis terhadap narasi resmi.

Tantangan besar kini menanti pemerintah federal Jerman di bawah Kanselir yang berkuasa. Mereka harus menemukan cara untuk menyatukan narasi nasional mengenai kebijakan luar negeri, khususnya terhadap Rusia, tanpa mengalienasi sebagian besar populasi di Jerman Timur. Berita mengenai Jerman Kecam Keras Rusia: Tipuan Telah Usai, Musuh Terbuka Kini dan Berlin Tuduh Rusia Otak Drone Leipzig, NATO Siap Respons Tegas menunjukkan betapa tajamnya perbedaan pandangan antara Berlin dan Moskow.

Potensi konflik domestik akibat perbedaan pandangan ini sangat nyata. Jika sentimen pro-Rusia di Jerman Timur terus menguat, hal itu dapat menciptakan keretakan yang lebih dalam dalam masyarakat Jerman dan mempersulit perumusan kebijakan luar negeri yang kohesif.

Oleh karena itu, strategi komunikasi dan politik yang lebih nuansa dibutuhkan untuk menjembatani kesenjangan ini. Mengabaikan akar sejarah dan sentimen masyarakat Jerman Timur hanya akan memperkuat posisi AfD dan memperlebar jurang pemisah.

Analisis Redaksi: Fenomena ini bukan sekadar anomali politik, melainkan cerminan dari dinamika sejarah dan sosial-ekonomi yang kompleks. Keberhasilan AfD dalam mempertahankan dukungan di Jerman Timur, meskipun ada tuduhan serius terhadap Rusia, menunjukkan bahwa politik identitas dan sentimen historis dapat mengalahkan narasi geopolitik konvensional. Ini menuntut pendekatan yang lebih holistik dari partai-partai mapan untuk memahami dan menanggapi kekhawatiran spesifik dari pemilih di wilayah tersebut, daripada sekadar menganggap mereka sebagai suara yang menentang.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.welt.de
Stefani Rindus

Tentang Penulis

Stefani Rindus

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Ad