Xi Serukan BRICS Lawan Proteksionisme, Perdagangan Global Terancam?

Edward DP Situmorang Edward DP Situmorang 12 Sep 2026 22:00 WIB
Xi Serukan BRICS Lawan Proteksionisme, Perdagangan Global Terancam?
Ilustrasi: Xi Serukan BRICS Lawan Proteksionisme, Perdagangan Global Terancam?

BEIJING – Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menyerukan negara-negara BRICS untuk secara tegas menentang penerapan tarif arbitrer dan kebijakan proteksionisme dalam perdagangan global. Seruan ini disampaikan Xi dalam pertemuan puncak BRICS dua hari yang strategis, menegaskan pentingnya sistem perdagangan multilateral yang adil dan terbuka. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para pemimpin dari India, Rusia, dan Iran, menandai konsolidasi kekuatan ekonomi baru di tengah gejolak ekonomi dunia.

Pidato kunci Presiden Xi menyoroti peningkatan tren unilateralisme dan praktik proteksionis oleh sejumlah negara maju yang berpotensi merusak rantai pasokan global dan stabilitas ekonomi internasional. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah seperti itu hanya akan menghambat pertumbuhan ekonomi global dan memperburuk ketidaksetaraan.

Xi mengemukakan visi bagi BRICS – yang meliputi Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, serta anggota baru seperti Iran – sebagai kekuatan penyeimbang yang berkomitmen terhadap prinsip-prinsip perdagangan bebas dan investasi yang saling menguntungkan. Blok ini diharapkan menjadi garda terdepan dalam mempertahankan tatanan ekonomi yang inklusif.

Penerapan tarif tanpa dasar yang jelas dapat memicu perang dagang, yang pada akhirnya merugikan konsumen dan produsen di seluruh dunia. Presiden Xi menekankan bahwa tindakan sepihak semacam itu bertentangan dengan semangat kerja sama yang seharusnya diusung dalam ekonomi global yang saling terhubung.

Negara-negara BRICS harus menjadi pembela teguh multilateralisme dan berjuang untuk sistem perdagangan global yang terbuka, adil, dan tidak diskriminatif, ujar Xi, menegaskan kembali komitmen blok tersebut. Ia menambahkan, Kita harus menolak segala bentuk proteksionisme dan denda arbitrer.

Para pemimpin negara-negara anggota BRICS yang hadir, termasuk Perdana Menteri India dan Presiden Rusia, serta Presiden Iran, turut menyampaikan pandangan mereka tentang pentingnya solidaritas dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Kehadiran Iran, sebagai anggota baru, memperkuat posisi BRICS di kancah geopolitik dan ekonomi.

Situasi ini tidak lepas dari dinamika geopolitik yang terus berkembang, di mana negara-negara seperti Iran aktif memperjuangkan kedaulatan ekonominya di tengah tekanan internasional. Hal ini sejalan dengan pernyataan Presiden Iran Pezeshkian yang tegas menolak intimidasi Amerika Serikat demi keadilan global.

Pertemuan ini menjadi platform krusial untuk dialog dan koordinasi kebijakan di antara negara-negara anggota. BRICS memiliki potensi besar untuk membentuk narasi ekonomi global yang lebih berimbang, menantang dominasi blok-blok ekonomi tradisional.

Selama dua hari, agenda KTT BRICS mencakup berbagai isu, mulai dari penguatan kerja sama finansial dan infrastruktur, hingga pengembangan mata uang cadangan yang independen. Seluruh inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada sistem ekonomi yang ada dan membangun fondasi yang lebih stabil bagi negara-negara berkembang.

Meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang signifikan, BRICS juga menghadapi tantangan internal berupa keragaman kepentingan dan sistem politik. Namun, ancaman proteksionisme global tampaknya berhasil menyatukan mereka dalam satu suara untuk memperjuangkan perdagangan yang lebih adil.

Analisis Redaksi: Seruan Presiden Xi Jinping pada KTT BRICS kali ini menandai eskalasi retorika yang signifikan terhadap praktik proteksionisme global. Hal ini mencerminkan kekhawatiran mendalam negara-negara berkembang terhadap potensi fragmentasi ekonomi dunia yang dipicu oleh kebijakan unilateral. Solidaritas BRICS dalam isu ini dapat menjadi katalis perubahan dalam negosiasi perdagangan internasional, meski implementasi langkah konkret untuk melawan kekuatan ekonomi besar tetap menjadi tantangan serius. Keberhasilan mereka akan sangat bergantung pada kemampuan untuk menyelaraskan kepentingan internal dan menyajikan front persatuan yang kuat.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.ansa.it
Edward DP Situmorang

Tentang Penulis

Edward DP Situmorang

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Ad