BERLIN – Ekonomi Jerman menghadapi ancaman deindustrialisasi serius, dengan 70 persen pekerjaan industri berada dalam bahaya, menurut peringatan keras anggota parlemen CDU, Volkmann. Ia menyoroti kehilangan hingga 15.000 pekerjaan industri setiap bulan dan mendesak pemerintah untuk mengambil kebijakan lebih tegas terhadap China guna mencegah keruntuhan sektor vital ini.
Volkmann, yang memiliki rekam jejak panjang dalam mengamati dinamika ekonomi global, secara gamblang menyatakan kekhawatirannya tentang masa depan manufaktur Jerman. Menurutnya, laju kehilangan pekerjaan ini bukan hanya statistik, melainkan representasi dari erosi fondasi ekonomi negara yang telah lama bergantung pada kekuatan industrinya.
'Setiap bulan, kita menyaksikan antara 10.000 hingga 15.000 pekerjaan di sektor industri lenyap. Ini adalah tren mengkhawatirkan yang, bila dibiarkan, akan membawa Jerman pada deindustrialisasi besar-besaran', ujar Volkmann dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan publik. Ia menekankan perlunya respons cepat dan terukur.
Ancaman yang disebutnya sebagai 'China-Schock' ini mengacu pada tekanan persaingan tidak adil dari Tiongkok, baik dalam hal harga produk, subsidi pemerintah, maupun transfer teknologi yang seringkali bersifat paksaan. Hal ini membuat banyak perusahaan Jerman kesulitan bersaing, bahkan di pasar domestik mereka sendiri.
Fenomena ini bukan hal baru. Selama beberapa dekade, Jerman telah menjadi motor ekonomi Eropa, didorong oleh sektor manufaktur yang inovatif dan berteknologi tinggi, mulai dari otomotif hingga mesin presisi. Namun, dominasi ekonomi China, terutama pasca-pandemi, mengubah lanskap global secara fundamental.
Volkmann menegaskan, pemerintah perlu mengadopsi strategi yang lebih agresif. Ini bukan sekadar tentang proteksionisme, melainkan tentang menciptakan lapangan bermain yang adil. Ia menyarankan berbagai langkah, mulai dari investigasi anti-dumping yang lebih ketat hingga dukungan substansial bagi inovasi domestik.
Hilangnya pekerjaan industri bukan hanya berdampak pada individu yang kehilangan mata pencarian, tetapi juga memicu efek domino pada rantai pasok, penyedia jasa, dan komunitas lokal. Kota-kota yang selama ini mengandalkan pabrik besar kini berisiko menghadapi stagnasi ekonomi dan masalah sosial.
Analisis ekonom terkemuka juga mendukung pandangan Volkmann. Sebuah laporan terbaru dari Institut Ekonomi Jerman (IW Koln) menunjukkan bahwa meskipun ekspor ke China penting, ketergantungan yang berlebihan tanpa kebijakan perlindungan yang memadai dapat menjadi bumerang. Isu energi, sebagaimana dibahas dalam artikel Peringatan Konsumen: Cadangan Gas Jerman Kritis, Harga Energi Melonjak Tajam?, juga menambah kompleksitas tantangan ekonomi yang dihadapi Jerman saat ini.
Kritik terhadap kebijakan pemerintah saat ini juga mencuat. Beberapa pihak menuduh koalisi yang berkuasa terlalu lunak terhadap praktik perdagangan Tiongkok, prioritas yang dianggap lebih condong pada stabilitas hubungan diplomatik daripada perlindungan ekonomi nasional.
Perdebatan ini semakin memanas menjelang pemilihan umum mendatang, di mana isu ekonomi dan pekerjaan dipastikan menjadi agenda utama. Partai-partai oposisi kemungkinan besar akan menjadikan 'China-Schock' sebagai senjata politik untuk menyerang inkonsistensi kebijakan pemerintah.
Analisis Redaksi: Peringatan Volkmann ini bukan sekadar retorika politik, melainkan cerminan kekhawatiran mendalam yang melanda sektor industri Jerman. Ketergantungan pada rantai pasok global dan persaingan yang tidak simetris menuntut respons kebijakan yang komprehensif. Kegagalan bertindak tegas berpotensi mengubah wajah ekonomi Jerman secara drastis, dengan implikasi jangka panjang bagi stabilitas sosial dan politik negara tersebut, serta memengaruhi ekonomi Eropa secara keseluruhan.