PARIS – Sosiolog terkemuka, Francois Dubet, baru-baru ini menyuarakan pandangannya yang tajam melalui kolom opini di Le Monde, menyatakan bahwa meskipun tidak ada masa depan yang bisa dibayangkan di luar institusi pendidikan, sekolah itu sendiri tidak mampu memberikan jaminan pasti terhadap masa depan individu. Pernyataan ini muncul di tengah gelombang protes pelajar sekolah menengah di Prancis yang menyoroti kondisi pembelajaran yang memprihatinkan dan krisis eksistensial terhadap makna studi yang telah terdistorsi oleh kebijakan massifikasi.
Mobilisasi para pelajar di berbagai kota di Prancis, seperti yang dilaporkan dalam Gelombang Protes Mahasiswa Guncang Prancis, bukan sekadar respons atas fasilitas yang kurang memadai. Dubet menekankan bahwa inti dari kegelisahan mereka jauh lebih dalam, menyentuh esensi dari tujuan pendidikan di era modern.
Dalam analisisnya, Dubet menjelaskan bahwa perluasan akses pendidikan (massifikasi) mengubah lanskap studi secara fundamental. Dahulu, pendidikan tinggi menjanjikan mobilitas sosial vertikal yang jelas. Kini, dengan semakin banyaknya lulusan, nilai jaminan tersebut kian tergerus.
Fenomena massifikasi memang berhasil meningkatkan angka partisipasi, namun secara paradoks juga melahirkan ketidakpastian. Harapan yang tinggi seringkali berbenturan dengan realitas pasar kerja yang tidak selalu sejalan dengan kualifikasi yang dimiliki lulusan.
Pertanyaan mendasar yang kini dihadapi adalah, apa sebenarnya makna dari belajar bertahun-tahun jika tidak ada kepastian yang menanti di ujungnya? Ini menciptakan dilema bagi generasi muda, yang merasa terperangkap antara keharusan menempuh pendidikan dan keraguan akan relevansinya.
Dubet juga tidak mengabaikan keluhan pelajar mengenai kondisi fisik dan kualitas pengajaran. Ruang kelas yang padat, fasilitas yang usang, dan tekanan kurikulum yang berat menjadi pemicu langsung protes. Namun, ia kembali menegaskan, itu hanyalah puncak gunung es.
Membandingkan dengan era sebelumnya, Dubet berpendapat bahwa pendidikan telah kehilangan sebagian aura sakralnya sebagai tangga sosial yang pasti. Masyarakat kontemporer menuntut adaptabilitas dan keterampilan yang tidak selalu sepenuhnya terakomodasi oleh sistem pendidikan tradisional.
Konteks Prancis, dengan sejarah panjang protes mahasiswa dan reformasi pendidikan yang kompleks, menjadi lahan subur bagi refleksi sosiologis semacam ini. Pemerintah Presiden Emmanuel Macron pun menghadapi tekanan untuk menjawab tuntutan yang berakar pada ketidakpuasan mendalam ini. Artikel lain seperti Guncangan Pendidikan Prancis: Ketidaksetaraan Picu Protes Massif Pelajar Tahun 2026 mengindikasikan isu ini telah menjadi sorotan publik luas.
Meskipun demikian, Dubet tidak menawarkan fatalisme. Ia mengisyaratkan bahwa pembenahan tidak hanya pada kurikulum atau fasilitas, melainkan juga pada restrukturisasi filosofi pendidikan agar lebih responsif terhadap dinamika sosial ekonomi abad ke-21.
Analisis Redaksi: Pernyataan Dubet menggarisbawahi urgensi reformasi pendidikan yang holistik, melampaui perbaikan infrastruktur semata. Tantangan terbesar adalah mengembalikan kepercayaan publik pada nilai fundamental pendidikan sebagai alat pencerahan dan pembentukan karakter, bukan sekadar mesin pencetak tenaga kerja. Negara-negara, termasuk Prancis, harus segera merumuskan kebijakan yang menjamin relevansi pendidikan agar lulusan tidak hanya terdidik, tetapi juga berdaya menghadapi masa depan yang serba tidak pasti.