BEIRUT — Seorang prajurit terbaik Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda untuk Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) dilaporkan gugur dunia beberapa hari lalu, tepatnya pada Jumat, 10 Januari 2026. Insiden tragis ini terjadi setelah korban menjalani perawatan intensif akibat luka serius yang diderita dalam serangan militer Israel di wilayah selatan Lebanon yang berbatasan dengan Israel.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta mengonfirmasi kabar duka tersebut, menyatakan bahwa prajurit atas nama Serda (Anumerta) Muhammad Hafiz gugur saat dirawat di Rumah Sakit Hammoud, Sidon. Serangan yang melukai almarhum sebelumnya menghantam Pos Observasi Sektor Timur UNIFIL, tempat pasukan perdamaian Indonesia bertugas, memicu keprihatinan mendalam atas keselamatan personel PBB di zona konflik.
Serangan yang disebut Israel sebagai “tanggapan terhadap ancaman keamanan” tersebut terjadi di tengah eskalasi ketegangan regional yang memanas sejak awal tahun 2026. Insiden ini, yang mengenai fasilitas PBB dan menyebabkan jatuhnya korban dari pasukan perdamaian, menuai kecaman keras dari berbagai pihak internasional dan mengancam stabilitas di garis biru perbatasan.
Juru Bicara UNIFIL, Andrea Tenenti, menyatakan dalam konferensi pers bahwa pihaknya telah meluncurkan investigasi menyeluruh atas insiden tersebut. PBB menegaskan kembali pentingnya penghormatan terhadap integritas dan netralitas pasukan penjaga perdamaian sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, serta menuntut akuntabilitas penuh dari pihak yang bertanggung jawab.
Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, melalui pernyataan resmi dari Istana Negara, menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya Serda (Anumerta) Muhammad Hafiz. Beliau menginstruksikan Kementerian Luar Negeri dan Markas Besar TNI untuk memastikan penanganan terbaik bagi jenazah dan keluarga korban, sekaligus mendesak PBB untuk mengambil langkah konkret demi perlindungan pasukan perdamaian.
Menteri Luar Negeri Ibu Retno Marsudi turut mengekspresikan kekecewaan dan kecaman keras atas serangan yang menargetkan pasukan perdamaian. Indonesia secara tegas mendesak semua pihak yang berkonflik di Lebanon Selatan untuk menahan diri dan menghormati mandat UNIFIL, serta memastikan keamanan dan keselamatan seluruh personel yang bertugas di lapangan.
Kontribusi Indonesia dalam misi UNIFIL telah berlangsung selama puluhan tahun, menempatkan ribuan prajurit TNI sebagai bagian dari pasukan perdamaian dunia. Pasukan Kontingen Garuda dikenal luas atas dedikasi, profesionalisme, dan pendekatan humanis mereka dalam menjalankan misi kemanusiaan dan penjaga perdamaian di Lebanon.
Insiden ini tidak hanya menjadi duka bagi keluarga dan institusi TNI, tetapi juga menjadi pengingat pahit akan risiko tinggi yang dihadapi pasukan perdamaian di zona konflik. Kepergian Serda (Anumerta) Muhammad Hafiz menambah daftar panjang korban yang jatuh demi menegakkan perdamaian dunia.
Pihak militer Indonesia telah memulai proses repatriasi jenazah almarhum Serda (Anumerta) Muhammad Hafiz ke Tanah Air. Upacara penghormatan militer direncanakan akan dilakukan di Lebanon sebelum jenazah diberangkatkan ke Indonesia, tempat ia akan dimakamkan dengan penghormatan penuh sebagai pahlawan bangsa.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Arif Satria, menyoroti insiden ini sebagai alarm bagi komunitas global untuk serius mencari solusi permanen bagi konflik Israel-Lebanon. “Gugurnya prajurit perdamaian adalah kegagalan kolektif kita dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian,” ujarnya.
Situasi keamanan di sepanjang perbatasan Israel dan Lebanon tetap sangat rentan. UNIFIL terus berupaya menjaga gencatan senjata dan mencegah eskalasi lebih lanjut, namun insiden seperti ini menunjukkan betapa tipisnya garis antara perdamaian dan konflik bersenjata di kawasan tersebut.
Indonesia menyerukan kepada semua anggota Dewan Keamanan PBB dan pihak terkait untuk memastikan investigasi yang transparan, adil, dan segera. Tuntutan ini penting tidak hanya untuk memberikan keadilan bagi almarhum dan keluarganya, tetapi juga untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang dan menjaga moral pasukan perdamaian global.