DENPASAR — Mantan Gubernur Bali, I Wayan Koster, angkat bicara terkait fenomena antrean kendaraan bermotor yang memanjang hingga puluhan kilometer di Pelabuhan Gilimanuk. Koster mengungkapkan bahwa kepadatan arus mudik dan balik Lebaran tahun ini sungguh melampaui prediksi, bahkan ia sendiri tidak menduga tingkat keramaian tersebut. Pernyataan ini disampaikan Koster dalam sebuah kesempatan di Denpasar, Jumat (17/4/2026), menanggapi sorotan publik atas manajemen lalu lintas di pintu gerbang utama Pulau Bali.
Antrean panjang ini, yang dilaporkan telah menyebabkan ribuan kendaraan terjebak berjam-jam, menjadi polemik nasional. Kejadian ini tidak hanya mengganggu kelancaran perjalanan, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi serta kenyamanan bagi para pelintas yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa atau sebaliknya. Insiden ini terjadi saat puncak arus balik Lebaran 2026, ketika mobilitas masyarakat meningkat drastis setelah perayaan Idulfitri.
“Kita memang nggak nyangka seramai itu,” ujar Koster, menegaskan betapa tingkat kepadatan arus lalu lintas kali ini benar-benar di luar ekspektasi. Ia menjelaskan bahwa upaya antisipasi telah dilakukan, namun volume kendaraan yang masuk dan keluar Bali mencapai titik rekor, melebihi kapasitas infrastruktur yang ada, khususnya di area penyeberangan Gilimanuk.
Koster memaparkan, lonjakan volume kendaraan ini patut menjadi evaluasi serius bagi seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun pusat. Ia menyoroti pentingnya perencanaan jangka panjang yang lebih komprehensif untuk menghadapi potensi peningkatan mobilitas serupa di masa mendatang, terutama mengingat status Bali sebagai destinasi pariwisata utama.
Situasi di Gilimanuk, yang menjadi urat nadi penghubung Bali dengan Jawa, menunjukkan kerapuhan sistem transportasi saat dihadapkan pada beban puncak. Banyak warga mengeluhkan kurangnya informasi, minimnya fasilitas umum, serta penanganan darurat yang dinilai lambat di tengah antrean panjang yang membayangi.
Pemerintah Provinsi Bali, melalui Penjabat Gubernur yang menjabat saat ini, telah berkoordinasi intensif dengan berbagai instansi terkait, termasuk ASDP dan Kepolisian, untuk mencari solusi cepat. Beberapa langkah darurat seperti penambahan dermaga operasional dan rekayasa lalu lintas telah diterapkan, meskipun dampaknya belum sepenuhnya optimal.
Koster menambahkan, peristiwa ini harus menjadi pelajaran berharga. Ia menekankan perlunya peningkatan koordinasi antarlembaga dan investasi pada infrastruktur penyeberangan yang lebih modern serta berkapasitas besar. Menurutnya, revitalisasi pelabuhan dan peningkatan jumlah kapal penyeberangan adalah keharusan mutlak.
Selain itu, mantan Gubernur Bali ini juga menyarankan pengembangan opsi transportasi alternatif atau diversifikasi jalur masuk dan keluar Bali untuk mengurangi beban di Gilimanuk. Ide pembangunan jembatan Jawa-Bali, meski kontroversial, mungkin perlu dipertimbangkan kembali dalam konteks jangka panjang, atau setidaknya pengaktifan jalur laut langsung dari pelabuhan lain di Bali ke Jawa.
Beberapa ahli transportasi turut menggarisbawahi perlunya studi mendalam mengenai pola pergerakan massa selama musim liburan. Mereka menyarankan penerapan sistem reservasi tiket kapal secara daring yang lebih ketat, serta pemberlakuan tarif progresif untuk kendaraan guna mendistribusikan waktu keberangkatan.
Koster juga mengingatkan bahwa pariwisata Bali yang kembali menggeliat pascapandemi COVID-19 turut menyumbang pada lonjakan mobilitas. Keberhasilan program pemulihan ekonomi berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan domestik dan juga warga Bali yang kembali ke kampung halaman, sehingga tekanan pada infrastruktur menjadi tidak terhindarkan.
Pihak kepolisian setempat, dalam keterangannya, telah mengerahkan personel tambahan untuk mengurai kemacetan dan memastikan keamanan. Mereka berupaya maksimal untuk mengatur arus kendaraan agar tetap bergerak, walau lambat, serta mengantisipasi potensi konflik di antara para pengendara yang mulai kelelahan.
Kondisi ini memerlukan respons multisektoral yang terpadu. Bukan hanya soal menambah kapasitas fisik, tetapi juga membangun sistem manajemen lalu lintas yang adaptif dan prediktif, mampu mengantisipasi lonjakan tak terduga dengan strategi yang matang.
Melihat kembali pengalaman kepemimpinannya, Koster mengakui bahwa tantangan pengelolaan arus manusia dan kendaraan di Bali selalu kompleks. Namun, ia optimis bahwa dengan sinergi semua pihak, masalah serupa dapat diminimalisir di masa depan, demi kenyamanan dan kelancaran mobilitas masyarakat.