TOKYO — Jepang kembali menghadapi ujian alam yang dahsyat ketika gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,8 mengguncang sebagian besar wilayah Honshu pada Selasa dini hari, 17 Februari 2026. Guncangan hebat, berpusat di lepas pantai prefektur Fukushima dengan kedalaman sekitar 60 kilometer, seketika melumpuhkan ibu kota Tokyo. Gedung-gedung pencakar langit bergoyang keras, memicu kepanikan dan evakuasi darurat massal di berbagai lokasi strategis.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) segera mengeluarkan peringatan tsunami untuk beberapa wilayah pesisir timur, termasuk Fukushima, Miyagi, dan Iwate, dengan potensi gelombang mencapai satu meter. Peringatan ini, meskipun relatif kecil, cukup untuk mengaktifkan protokol evakuasi di daerah-daerah rawan, menghidupkan kembali memori pahit bencana 2011.
Di jantung Tokyo, getaran kuat terasa selama lebih dari satu menit. Para pekerja yang sedang shift malam di gedung perkantoran dan penghuni apartemen bertingkat melaporkan benda-benda berjatuhan dan dinding berderak. Transportasi umum, termasuk layanan kereta bawah tanah dan shinkansen, segera dihentikan untuk pemeriksaan keamanan infrastruktur, menyebabkan penumpukan penumpang dan kemacetan di beberapa titik kota.
"Saya sedang tidur nyenyak, lalu tiba-tiba seluruh ruangan bergetar seperti akan roboh," tutur Hiroshi Tanaka (45), seorang manajer logistik yang tinggal di apartemen lantai 20 di kawasan Shinjuku. "Ini adalah salah satu gempa terkuat yang saya rasakan dalam beberapa tahun terakhir. Semua orang segera berhamburan keluar."
Pemerintah Jepang, di bawah koordinasi Perdana Menteri Fumio Kishida, segera mengaktifkan pusat krisis bencana. Kishida mengimbau seluruh warga untuk tetap tenang dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang, terutama mereka yang berada di zona peringatan tsunami. Prioritas utama adalah keselamatan jiwa dan penilaian cepat terhadap skala kerusakan.
Sejumlah laporan awal menyebutkan adanya pemadaman listrik sporadis di beberapa distrik Tokyo dan prefektur sekitarnya. Jaringan komunikasi seluler juga sempat mengalami gangguan akibat lonjakan penggunaan, namun secara bertahap mulai pulih. Otoritas setempat mengerahkan tim penyelamat untuk melakukan patroli dan inspeksi awal terhadap jembatan, terowongan, serta bangunan-bangunan tinggi.
Meskipun Jepang dikenal dengan standar konstruksi anti-gempa yang canggih, intensitas guncangan kali ini menimbulkan kekhawatiran. Video yang beredar di media sosial menunjukkan tiang-tiang lampu jalan bergoyang hebat dan air kolam meluap dari batasnya, menggarisbawahi kekuatan alam yang sedang bekerja.
Seismolog dari Universitas Tokyo, Profesor Kenji Sato, menjelaskan bahwa gempa ini berasal dari pergerakan lempeng tektonik di Palung Jepang. "Ini adalah zona aktif yang secara historis memang sering menghasilkan gempa besar. Kedalaman gempa yang tidak terlalu dangkal sedikit banyak mengurangi dampak langsung di permukaan, tetapi magnitudonya tetap signifikan dan memerlukan kewaspadaan tinggi," ujarnya dalam konferensi pers virtual.
Komunitas internasional juga mulai menyatakan keprihatinan dan menawarkan bantuan. Beberapa negara tetangga dan organisasi bantuan kemanusiaan telah menyampaikan kesiapan mereka untuk mendukung upaya pemulihan jika diperlukan, sembari memantau perkembangan situasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau cedera serius dalam skala besar. Namun, otoritas terus melakukan penyisiran dan pemeriksaan di daerah-daerah terdampak. Serangkaian gempa susulan dengan kekuatan lebih rendah masih terus terasa, menambah ketidakpastian bagi warga yang kini harus menghadapi potensi ancaman berkelanjutan.
Pihak berwenang mengingatkan publik untuk menghindari area pesisir yang terkena peringatan tsunami dan memastikan jalur evakuasi tetap terbuka. Informasi terkini akan terus disampaikan melalui saluran resmi pemerintah dan media massa terpercaya.