TEHERAN — Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, melayangkan sindiran pedas kepada Amerika Serikat dan Israel setelah insiden penutupan Selat Hormuz baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa manuver tersebut merupakan bukti nyata kapabilitas militer Republik Islam Iran, sebuah pernyataan yang kembali menggaungkan ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia pada awal tahun 2026.
Dalam sebuah pidato yang disiarkan di media lokal, Mojtaba Khamenei mengklaim bahwa penutupan singkat jalur vital tersebut berhasil mengekspos kelemahan kekuatan Barat dan sekutunya di wilayah strategis. “Tindakan yang kami ambil di Selat Hormuz telah membuka mata dunia akan kenyataan siapa yang sebenarnya mengendalikan perairan ini. Upaya musuh untuk menguasai jalur perdagangan energi vital ini hanyalah ilusi,” tegasnya, merujuk pada respons lamban yang dianggapnya dari pasukan asing.
Selat Hormuz, yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Lebih dari seperlima pasokan minyak global melaluinya setiap hari, menjadikannya titik rawan konflik yang berpotensi memicu krisis ekonomi global jika terjadi gangguan signifikan.
Insiden penutupan sementara, yang berlangsung beberapa jam dan memicu kekhawatiran internasional, diyakini merupakan respons Iran terhadap sanksi ekonomi yang kian menekan dan dugaan provokasi militer oleh Amerika Serikat dan Israel di wilayah tersebut. Pemerintah Iran secara resmi menyatakan tindakan itu sebagai bagian dari latihan militer rutin, namun para analis melihatnya sebagai pesan politik yang kuat.
“Teheran telah lama menggunakan ancaman penutupan Hormuz sebagai alat tawar menawar strategis,” ujar Dr. Hamid Reza, seorang analis Timur Tengah dari Universitas Teheran. “Pernyataan Mojtaba ini bukan sekadar retorika, melainkan penegasan bahwa Iran memiliki kemampuan dan kemauan untuk menindaklanjuti ancamannya jika merasa terpojok.”
Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, yang bertanggung jawab atas keamanan di Teluk Persia, secara konsisten memamerkan kemampuan militer maritim mereka, termasuk armada kapal cepat, kapal selam mini, dan rudal anti-kapal. Kemampuan ini menjadi inti dari strategi pertahanan asimetris Iran yang dirancang untuk menanggulangi angkatan laut yang lebih besar dan berteknologi canggih seperti milik Amerika Serikat.
Di Washington, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyampaikan keprihatinan atas insiden tersebut dan menyebut tindakan Iran sebagai “destabilisasi”. Mereka menegaskan kembali komitmen terhadap kebebasan navigasi di perairan internasional dan memperingatkan konsekuensi serius bagi setiap upaya yang menghalangi jalur pelayaran sah.
Sementara itu, Israel, yang sering menjadi sasaran retorika keras Iran, belum memberikan komentar resmi mengenai pernyataan Mojtaba Khamenei. Namun, intelijen Israel dilaporkan terus memantau pergerakan militer Iran dengan seksama, terutama setelah penutupan singkat Selat Hormuz yang mengganggu jadwal pengiriman barang dagangan dan energi.
Beberapa negara Eropa menyerukan deeskalasi ketegangan dan dialog konstruktif untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang. Mereka khawatir bahwa setiap konfrontasi di Selat Hormuz dapat memicu reaksi berantai yang berdampak luas pada harga energi dan stabilitas ekonomi global.
Pernyataan Mojtaba Khamenei ini juga mengindikasikan semakin besarnya peran dan pengaruhnya dalam lingkaran kekuasaan Iran, terutama dalam urusan keamanan nasional. Analis politik memprediksi ia akan memainkan peran kunci di masa depan Iran, memperkuat kebijakan luar negeri yang tegas dan berani menantang hegemoni Barat.