NIZZA — Tepat sepuluh tahun setelah serangan teror brutal yang mengguncang kota pesisir Nizza, Perancis, pada 14 Juli 2016, Eropa kembali menundukkan kepala dalam duka kolektif. Peringatan satu dekade tragedi yang merenggut 86 jiwa tidak bersalah ini berlangsung khidmat pada 14 Juli 2026, ditandai dengan serangkaian upacara emosional dan, yang paling mencolok, 86 sorotan cahaya biru yang menerangi Promenade des Anglais sebagai simbol keabadian bagi para korban. Momen hening pun mengawali pertandingan krusial antara Perancis dan Spanyol, menyatukan seluruh bangsa dalam ingatan.
Serangan mengerikan sepuluh tahun silam terjadi ketika seorang teroris mengendarai truk seberat 19 ton ke kerumunan orang yang sedang merayakan Hari Bastille di Promenade des Anglais. Insiden tersebut menyebabkan ratusan lainnya luka-luka dan menyisakan trauma mendalam bagi kota serta seluruh Perancis. Ini merupakan salah satu serangan teror paling mematikan dalam sejarah modern negara itu, yang mengubah secara drastis persepsi publik tentang keamanan di ruang terbuka.
Pada peringatan kali ini, suasana di Nizza diliputi kesedihan mendalam namun juga semangat ketahanan yang tak tergoyahkan. Ribuan warga berkumpul, membawa bunga dan lilin, membuktikan bahwa kenangan akan para korban tidak akan pernah pudar. Kehadiran mereka menegaskan solidaritas kuat yang menjadi ciri khas kota ini pasca-tragedi.
Puluhan sorotan cahaya biru yang memancar ke langit dari Promenade des Anglais menjadi titik fokus utama acara peringatan. Setiap sinar mewakili satu nyawa yang terenggut, sebuah tugu peringatan visual yang melintasi kegelapan malam, mengingatkan dunia akan kehilangan yang tak terukur namun juga harapan yang terus membara.
Pejabat tinggi pemerintah Perancis, termasuk Presiden saat ini, Emmanuel Macron, dan Wali Kota Nizza, Christian Estrosi, memimpin upacara penghormatan tersebut. Dalam pidatonya, Presiden Macron menyerukan persatuan dan kewaspadaan berkelanjutan terhadap ancaman ekstremisme, sembari menegaskan komitmen negara untuk melindungi warganya dan memperjuangkan nilai-nilai republik.
Estrosi, yang telah menyaksikan langsung dampak serangan itu, menyoroti pentingnya pendidikan dan pencegahan untuk menangkal radikalisme. Ia menekankan bahwa Nizza akan terus menjadi simbol ketahanan dan persatuan, tidak akan pernah menyerah pada teror. Warganya berdiri teguh, menghadapi masa depan dengan harapan, namun tidak melupakan masa lalu.
Sebelum pertandingan persahabatan tingkat internasional yang dinanti-nantikan antara tim nasional Perancis dan Spanyol, seluruh stadion terdiam selama satu menit penuh. Momen hening ini bukan hanya untuk mengenang para korban Nizza, tetapi juga sebagai refleksi atas semua aksi teror yang telah menyerang Eropa. Ini adalah simbol persatuan dalam sepak bola, menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan lebih besar dari segala perbedaan.
Tragedi Nizza pada 2016 mendorong reformasi besar-besaran dalam kebijakan keamanan nasional Perancis, memperkuat pengawasan intelijen, dan meningkatkan kehadiran pasukan keamanan di ruang publik. Pelajaran dari peristiwa tersebut terus membentuk strategi anti-terorisme di seluruh Eropa, menunjukkan bagaimana sebuah serangan dapat mengubah paradigma keamanan global.
Masyarakat internasional juga turut serta dalam peringatan ini, mengirimkan pesan solidaritas dari berbagai penjuru dunia. Kedutaan besar dan perwakilan asing di Perancis mengeluarkan pernyataan belasungkawa, menunjukkan bahwa perjuangan melawan terorisme adalah tanggung jawab bersama yang melintasi batas negara.
Memperingati sepuluh tahun tragedi Nizza bukan sekadar mengenang duka, melainkan juga menegaskan kembali komitmen Perancis dan masyarakat internasional untuk terus berjuang melawan ekstremisme. Dengan semangat pantang menyerah dan persatuan yang kokoh, Nizza tetap berdiri sebagai mercusuar harapan, membuktikan bahwa memori para korban akan selamanya menjadi kekuatan pendorong untuk masa depan yang lebih aman dan damai.