Warsawa — Pemikiran provokatif Witold Gombrowicz, penulis Polandia-Argentina, kembali mengemuka di tengah diskursus intelektual global tahun 2026. Gagasan Gombrowicz yang berani, terutama mengenai kritik terhadap identitas dan eksistensi bangsa, menawarkan perspektif segar dalam menghadapi polarisasi dan klaim superioritas yang masih kerap mewarnai dunia saat ini. Ia dikenal atas pandangannya yang ikonoklastik, menentang segala bentuk kekakuan dan formalitas, termasuk asumsi-asumsi kolektif tentang keagungan suatu bangsa.
Gombrowicz, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pengasingan, secara terang-terangan pernah menyatakan pandangannya tentang negara-negara besar Eropa. Menurutnya, „orang Rusia dan orang Jerman adalah inferior, konyol, dan barbar“. Pernyataan ini, yang diungkapkannya bukan sebagai hinaan personal, melainkan sebagai kritik terhadap konstruksi identitas nasional yang seringkali menekan individualitas dan pemikiran bebas, menjadi titik tolak diskusi yang mendalam mengenai esensi keberadaan manusia di tengah masyarakat yang terus berubah.
Lahir di Polandia pada 1904, Gombrowicz terpaksa mengungsi ke Argentina pada awal Perang Dunia II, sebuah pengalaman yang semakin memperkaya perspektifnya tentang keterasingan dan kebebasan. Lingkungan baru ini memberinya jarak yang diperlukan untuk secara lebih tajam mengamati dan mengkritik budayanya sendiri, serta budaya-budaya lain. Karyanya selalu mendorong pembaca untuk berani berpikir secara mandiri, meruntuhkan batasan-batasan konvensional, dan menolak kepalsuan sosial.
Dalam esainya, Gombrowicz seringkali menggarisbawahi bagaimana setiap bangsa, pada dasarnya, adalah sebuah “bentuk” yang dipaksakan. Bentuk ini bisa berupa sejarah yang diagungkan, tradisi yang kaku, atau kebanggaan nasional yang membabi buta. Kritiknya terhadap „inferioritas, kekonyolan, dan barbarisme“ bangsa Rusia dan Jerman kala itu harus dipahami sebagai metafora terhadap dogmatisme dan klaim superioritas yang menghambat kemanusiaan, bukan kritik rasial atau etnis dalam arti sempit.
Maka, tidak heran jika Gombrowicz disebut-sebut sebagai seorang visioner yang “bisa saja bermimpi tentang seorang Javier Milei” di eranya. Sosok Presiden Argentina yang radikal dan anti-kemapanan, yang kini menjabat pada tahun 2026, mencerminkan semangat Gombrowicz dalam menantang status quo, mengusik kenyamanan, dan meruntuhkan struktur yang dianggap mapan. Keduanya, dalam konteks masing-masing, berani berenang melawan arus pemikiran dominan.
Filosofi Gombrowicz berpusat pada perlawanan terhadap “kemudaan yang dipaksakan”, di mana individu dipaksa untuk terus-menerus menyesuaikan diri dengan peran dan ekspektasi sosial. Karyanya, terutama novel Ferdydurke, menjadi sebuah manifesto untuk merebut kembali kebebasan personal dari tirani bentuk. Ia mengajak setiap orang untuk merenungkan, apakah identitas yang mereka pegang teguh adalah hasil pilihan otentik atau hanya konstruksi yang dipaksakan oleh lingkungan.
Relevansi Gombrowicz di tahun 2026 tampak jelas ketika berbagai gerakan identitas dan nasionalisme kembali menguat di berbagai belahan dunia. Dalam konteks Eropa, misalnya, diskusi tentang jati diri bangsa, integrasi, dan keberlanjutan Uni Eropa seringkali diwarnai oleh klaim-klaim historis dan perbedaan kultural yang mendalam. Gombrowicz mengajarkan kita untuk melihat di balik klaim-klaim ini, mencari inti kemanusiaan yang lebih universal.
Kritiknya terhadap “bentuk” juga relevan dalam dunia seni dan budaya. Ia akan mempertanyakan otentisitas dari pameran atau koleksi seni yang hanya mengagungkan masa lalu tanpa inovasi kritis. Seperti pada pameran “Abad Ke-20 Italia Bersemi Kembali” di Roma yang menampilkan 50 karya seni eksklusif, Gombrowicz mungkin akan menuntut lebih dari sekadar apresiasi, melainkan sebuah dialog yang jujur tentang makna di baliknya.
Dalam konteks sosial-politik kontemporer, pemikirannya dapat menjadi lensa untuk menganalisis dinamika masyarakat. Misalnya, ketika Jerman bergolak dengan anjloknya dukungan partai tertentu dan reformasi pemerintah yang dikritik publik, Gombrowicz akan melihat ini sebagai bagian dari proses di mana “bentuk” lama sedang dipertanyakan dan “bentuk” baru berusaha muncul, seringkali dengan segala kekonyolannya.
Warisan intelektual Gombrowicz bukan hanya sekadar catatan sejarah sastra, melainkan sebuah panggilan abadi untuk pembebasan pikiran. Karya-karyanya, yang melintasi genre dan batas geografis, terus menginspirasi generasi baru untuk berani mempertanyakan, meruntuhkan dogma, dan merayakan kebebasan individual dalam menghadapi kompleksitas dunia modern. Melalui Gombrowicz, kita belajar bahwa keberanian berpikir adalah kunci untuk evolusi manusia yang sejati.