TEHERAN — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global, sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai “terlalu banyak bicara” dari mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pernyataan provokatif ini disampaikan pada awal tahun 2026, memicu kekhawatiran baru di pasar energi dan koridor diplomatik internasional.
Ancaman ini bukan yang pertama kali dilontarkan oleh Teheran, namun konteksnya kini lebih mendalam menyusul serangkaian insiden di Laut Merah dan eskalasi regional yang berkelanjutan. Juru bicara Garda Revolusi Iran, Brigadir Jenderal Ramezan Sharif, menegaskan bahwa Teheran tidak akan ragu mengambil langkah-langkah drastis jika kepentingan nasionalnya terancam oleh retorika atau tindakan dari Washington, khususnya yang berasal dari kubu Trump.
“Kami telah berulang kali memperingatkan bahwa stabilitas regional adalah prasyarat bagi keamanan global,” ujar Brigadir Jenderal Sharif dalam sebuah konferensi pers di Teheran. “Ketika seseorang seperti Trump terus-menerus menabur benih kekacauan dengan kata-katanya, Iran memiliki hak dan kemampuan untuk melindungi kedaulatannya, termasuk melalui kendali atas Selat Hormuz.”
Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, merupakan titik chokepoint strategis yang dilalui sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia. Penutupan selat ini secara efektif dapat memblokir sebagian besar ekspor minyak dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, memicu krisis energi global yang berpotensi melumpuhkan ekonomi dunia.
Pernyataan Iran ini secara spesifik merujuk pada serangkaian komentar yang dilontarkan oleh Donald Trump dalam beberapa bulan terakhir di berbagai forum politik, di mana ia secara konsisten mengkritik kebijakan Timur Tengah pemerintahan petahana Presiden Biden dan mengisyaratkan pendekatan yang lebih keras terhadap Iran jika ia kembali berkuasa pada pemilu AS mendatang.
Analis geopolitik menduga bahwa ancaman Teheran ini merupakan upaya untuk meningkatkan daya tawar di tengah negosiasi tidak langsung mengenai program nuklir Iran dan sanksi ekonomi. Teheran berupaya menekan Amerika Serikat dan sekutunya agar melonggarkan sanksi yang masih memberatkan perekonomian mereka.
Kekhawatiran terhadap penutupan Selat Hormuz sontak memicu kenaikan harga minyak mentah di pasar global. Indeks Brent dan WTI mencatat kenaikan signifikan dalam hitungan jam setelah berita ancaman Iran tersiar. Investor bereaksi cepat terhadap potensi gangguan pasokan yang masif.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, melalui juru bicaranya, mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras retorika Iran dan menyebutnya sebagai “tidak bertanggung jawab serta mengancam stabilitas maritim internasional.” Washington mendesak Teheran untuk menahan diri dan mematuhi hukum internasional mengenai kebebasan navigasi.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyuarakan keprihatinan mendalam. Ia menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mencari solusi diplomatik guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut di salah satu kawasan paling sensitif di dunia.
Krisis Selat Hormuz bukan fenomena baru. Sepanjang sejarah, ancaman penutupan selat ini kerap digunakan Iran sebagai kartu truf strategis dalam menghadapi tekanan internasional. Setiap kali ancaman tersebut muncul, respons pasar dan komunitas internasional selalu serupa: kepanikan dan upaya meredakan ketegangan.
Para pengamat regional meyakini bahwa, terlepas dari retorika keras, Iran akan mempertimbangkan dengan sangat matang konsekuensi ekonomi dan militer yang tak terhindarkan jika Selat Hormuz benar-benar ditutup. Langkah tersebut dapat memicu respons militer dari negara-negara Barat dan Timur Tengah, serta sanksi yang jauh lebih berat.
Meski demikian, ancaman Iran ini tetap menjadi sinyal kuat bagi dunia bahwa stabilitas di kawasan Teluk Persia sangat rapuh. Dinamika politik domestik Amerika Serikat, ditambah dengan ambisi regional Iran, terus membentuk lanskap keamanan yang penuh tantangan di tahun 2026 ini.