BERLIN – Sistem peradilan Jerman menghadapi tantangan serius pada tahun 2026. Asosiasi Hakim Jerman (Deutscher Richterbund) secara tegas mendesak pemerintah untuk segera menambah personel yudisial. Desakan ini muncul setelah lonjakan signifikan dalam jumlah kejahatan yang bermotivasi politik, menyebabkan tumpukan kasus yang belum terselesaikan meningkat hingga 50 persen sejak tahun 2020.
Pernyataan dari Richterbund menekankan bahwa kondisi saat ini telah mencapai "waktu tertinggi" untuk bertindak, mengingat rekor jumlah kasus kejahatan politik yang membanjiri meja pengadilan. Situasi ini tidak hanya membebani hakim dan jaksa, tetapi juga mengancam kecepatan dan efektivitas penegakan hukum di seluruh negeri.
Presiden Richterbund, Sven Rebehn, dalam keterangan persnya yang dirilis awal pekan ini, menyatakan bahwa sistem peradilan Jerman berada di ambang krisis. "Kami menyaksikan peningkatan dramatis dalam kejahatan politik, dari ekstremisme kiri hingga kanan, serta ancaman digital dan disinformasi. Tanpa penambahan personel, kualitas dan kecepatan proses hukum akan terganggu secara fundamental," ujar Rebehn.
Sejak tahun 2020, data menunjukkan bahwa jumlah perkara yang tertunda di pengadilan telah melonjak secara mengejutkan. Peningkatan sekitar 50 persen ini mencerminkan betapa parahnya tekanan terhadap infrastruktur peradilan yang ada. Banyak kasus yang seharusnya ditangani dengan cepat kini tertunda, memperpanjang penderitaan korban dan menunda kepastian hukum bagi pelaku.
Kondisi ini diperparah oleh kompleksitas kasus kejahatan politik yang seringkali memerlukan investigasi mendalam, bukti digital yang rumit, serta seringkali melibatkan jaringan terorganisir. Sumber daya manusia yang terbatas membuat proses penanganan kasus-kasus tersebut menjadi lambat, bahkan berpotensi menghambat upaya penegakan hukum terhadap aktor-aktor yang mengancam demokrasi.
Ancaman terhadap demokrasi Jerman tidak hanya datang dari luar, namun juga dari dalam, sebagaimana terlihat dari insiden Gestur Ekstrem Kanan Nodai Bundestag. Kasus-kasus semacam ini menuntut respons hukum yang cepat dan tegas, yang semakin sulit diwujudkan dengan beban kerja yang berlebihan.
Pemerintah federal dan negara bagian diminta untuk segera mengalokasikan anggaran yang memadai guna merekrut lebih banyak hakim, jaksa, serta staf pendukung administratif. Rebehn mengingatkan bahwa investasi pada sistem peradilan adalah investasi krusial bagi stabilitas dan keamanan negara.
Para ahli hukum dan pengamat politik juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Profesor Klaus Schmidt dari Universitas Heidelberg mengemukakan, "Penundaan dalam proses hukum dapat mengikis kepercayaan publik terhadap sistem peradilan. Jika keadilan terasa lamban, masyarakat mungkin mencari solusi di luar jalur hukum, yang berpotensi memicu ketidakstabilan sosial."
Peristiwa seperti upaya konsolidasi kelompok tertentu di beberapa wilayah, seperti yang disorot dalam berita tentang Aktivis Geruduk Ribuan Rumah di Erfurt, Tolak Konsolidasi AfD Jerman 2026, menunjukkan bahwa polarisasi politik masih menjadi tantangan nyata. Kondisi ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan kasus kejahatan bermotivasi politik, mulai dari vandalisme hingga kekerasan fisik.
Richterbund menegaskan bahwa keputusan untuk memperkuat yudisial tidak bisa ditunda lagi. Mereka menuntut rencana konkret dan garis waktu yang jelas dari pemerintah untuk merealisasikan penambahan personel ini sebelum situasi semakin memburuk dan menimbulkan konsekuensi yang lebih luas bagi tatanan hukum Jerman.
Tegaknya supremasi hukum menjadi pilar utama sebuah negara demokrasi. Tanpa sistem peradilan yang kuat dan efisien, fondasi ini akan rapuh. Oleh karena itu, seruan dari Asosiasi Hakim Jerman ini bukan sekadar permintaan, melainkan peringatan serius bagi masa depan hukum dan ketertiban di jantung Eropa.