WASHINGTON D.C. — Seorang mantan penasihat senior di pemerintahan Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan tajam kepada Tiongkok pada Rabu, mendesak Beijing untuk menjauhkan diri dari Republik Islam Iran guna mencegah eskalasi ketidakstabilan global. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait ambisi nuklir Iran dan perannya di kawasan Timur Tengah, sebuah isu yang berpotensi memperdalam keretakan hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Tokoh yang menolak disebutkan namanya namun dikenal dekat dengan lingkaran kebijakan luar negeri mantan Presiden Trump tersebut menekankan bahwa kedekatan Tiongkok dengan Teheran dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi perdamaian internasional. Ia menggarisbawahi kekhawatiran Washington mengenai dukungan finansial dan teknologi Tiongkok terhadap program-program kontroversial Iran.
"Investasi strategis Tiongkok di Iran, terutama dalam sektor energi dan infrastruktur, secara tidak langsung dapat memperkuat kemampuan rezim Teheran untuk melanjutkan program yang mengancam keamanan regional dan global," ujar sumber tersebut dalam sebuah diskusi tertutup yang bocor kepada media.
Peringatan semacam ini bukan kali pertama muncul dari lingkaran konservatif Amerika yang masih memiliki pengaruh signifikan dalam pembentukan kebijakan luar negeri. Sejak periode pemerintahan Trump berakhir, para pejabat dan analis yang terafiliasi dengan kebijakan luar negeri era tersebut secara konsisten menyuarakan keberatan atas hubungan ekonomi dan militer antara Tiongkok dan Iran.
Di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden saat ini, yang akan berakhir pada awal 2027, pendekatan terhadap Iran dan Tiongkok mungkin sedikit berbeda dalam taktik, namun kekhawatiran mendasar tentang program nuklir Iran tetap menjadi prioritas utama. Pernyataan dari "anak buah Trump" ini menunjukkan adanya konsensus bipartisan yang kuat di Amerika Serikat terkait isu krusial ini.
Iran, melalui Program Komprehensif Aksi Bersama (JCPOA) yang mandek, terus mengembangkan kapasitas pengayaan uraniumnya, memicu kekhawatiran global bahwa Teheran semakin mendekati ambang batas untuk mengembangkan senjata nuklir. Aksi ini menjadi pemicu utama bagi berbagai pihak untuk mendesak pembatasan hubungan luar negeri Iran.
Tiongkok, sebagai salah satu pembeli minyak terbesar dari Iran dan investor utama dalam inisiatif "Belt and Road", mempertahankan bahwa hubungannya dengan Teheran bersifat murni ekonomi dan tidak bertujuan untuk mengganggu stabilitas regional. Beijing selalu menyerukan dialog dan solusi diplomatik untuk masalah Iran.
Namun, para kritikus di Washington menilai bahwa pendekatan Tiongkok, yang cenderung memprioritaskan kepentingan ekonomi, mengabaikan dimensi keamanan dan hak asasi manusia yang menjadi perhatian utama Barat. Dukungan ekonomi Tiongkok dianggap memberikan "oksigen" politik bagi rezim Iran yang tengah menghadapi tekanan sanksi internasional.
Sumber tersebut menambahkan, "Tiongkok memiliki kesempatan untuk menjadi kekuatan stabilisasi di Timur Tengah, bukan sebaliknya. Memilih berpihak pada rezim yang tidak bertanggung jawab hanya akan merusak reputasi global mereka dan memicu reaksi keras dari komunitas internasional."
Analis geopolitik Dr. Indah Permata Sari dari Universitas Indonesia berpendapat bahwa tekanan dari Washington, bahkan dari mantan pejabat yang mewakili garis keras, merupakan indikasi jelas bahwa isu Iran tetap menjadi kartu penting dalam permainan catur global. "Amerika Serikat tidak ingin melihat aliansi anti-Barat yang kuat terbentuk di poros Beijing-Teheran," katanya.
Implikasi dari potensi aliansi yang lebih erat antara Tiongkok dan Iran bisa sangat luas, mencakup pasar energi global, dinamika militer di Teluk Persia, hingga perubahan signifikan dalam pengaruh Tiongkok di seluruh kawasan Timur Tengah. Hal ini akan mengubah peta kekuatan politik dan ekonomi regional secara drastis.
Peringatan ini diharapkan dapat mendorong Beijing untuk meninjau kembali kebijakannya, terutama mengingat ketidakpastian politik di Amerika Serikat menjelang pemilihan presiden 2028. Isu Iran kemungkinan besar akan menjadi poin penting dalam kampanye mendatang, di mana para kandidat akan bersaing menunjukkan ketegasan mereka di panggung dunia.