SEKADAU — Senin sore, 16 November 2026, ketegangan menyelimuti wilayah udara Kalimantan Barat setelah helikopter PK-CFX dilaporkan hilang kontak saat melintasi Kabupaten Sekadau. Pesawat nahas yang membawa delapan individu, terdiri dari awak dan penumpang, itu terakhir terdeteksi di sekitar pukul 15.30 WIB sebelum jejaknya lenyap dari pantauan radar.
Insiden ini segera memicu respons tanggap dari otoritas penerbangan dan tim SAR gabungan. Operasi pencarian besar-besaran pun dilancarkan untuk melacak keberadaan helikopter tersebut di tengah medan yang dikenal menantang dan minim akses.
Helikopter PK-CFX, jenis EC135, dioperasikan oleh PT Dirgantara Jaya Abadi dan dijadwalkan terbang dari Pontianak menuju Sintang. Rute penerbangan ini merupakan koridor penting untuk konektivitas antar kota di provinsi Kalimantan Barat, yang seringkali mengandalkan transportasi udara untuk mobilitas.
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsdya TNI (Purn) Henry Susanto, dalam konferensi pers virtual dari Jakarta, mengonfirmasi pengerahan tim. “Kami telah mengaktifkan seluruh potensi pencarian dan pertolongan, termasuk mengerahkan helikopter SAR dan tim darat dari Pos SAR Pontianak dan Sintang,” ujar Henry, Selasa (17/11/2026) pagi, menunjukkan keseriusan penanganan.
Operasi pencarian melibatkan elemen TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta relawan lokal. Area fokus pencarian meliputi hutan lebat, perbukitan terjal, dan jaringan sungai di sekitar titik terakhir helikopter terdeteksi, mencakup sebagian besar wilayah Kabupaten Sekadau dan sekitarnya.
Kondisi cuaca pada saat kejadian dilaporkan cukup bervariasi, dengan potensi hujan deras dan kabut tebal di beberapa titik. Faktor geografis yang didominasi hutan primer yang belum terjamah dan minimnya infrastruktur jalan darat menjadi tantangan signifikan bagi mobilitas dan efektivitas tim SAR.
Delapan individu yang berada di dalam helikopter meliputi dua pilot berpengalaman, dua teknisi penerbangan, dan empat penumpang sipil. Informasi awal mengindikasikan penumpang sipil kemungkinan merupakan perwakilan perusahaan atau pekerja yang sedang dalam perjalanan dinas penting.
Insiden ini langsung menarik perhatian publik dan pemerintah pusat. Pemerintah pusat, melalui juru bicaranya, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini dan memerintahkan seluruh sumber daya negara dimobilisasi secara maksimal untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan.
PT Dirgantara Jaya Abadi selama ini dikenal sebagai operator penerbangan dengan rekam jejak keselamatan yang relatif baik di Indonesia. Namun, insiden semacam ini selalu memunculkan evaluasi ulang terhadap standar operasional prosedur dan protokol keselamatan penerbangan yang berlaku.
Pengamat penerbangan terkemuka, Prof. Dr. Budi Santoso dari Universitas Indonesia, menilai bahwa penyelidikan menyeluruh terhadap kotak hitam helikopter, jika berhasil ditemukan, akan krusial untuk mengungkap penyebab pasti kejadian. “Faktor cuaca ekstrem, kemungkinan kerusakan mekanis, atau human error, semuanya akan menjadi fokus utama investigasi mendalam,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, setiap jam berlalu menipiskan harapan untuk menemukan korban dalam keadaan selamat, namun tim SAR tetap berkomitmen penuh. Keluarga korban kini menanti dengan cemas kabar terbaru dan perkembangan dari lokasi pencarian yang sulit dijangkau.
Otoritas terkait juga mengimbau masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah pencarian untuk memberikan informasi jika menemukan puing-puing, tanda-tanda keberadaan helikopter, atau hal mencurigakan lainnya, demi mempercepat proses evakuasi dan pengungkapan misteri ini.