Sambaran Petir Lumpuhkan KRL Green Line: Ribuan Penumpang Terdampak

Edward DP Situmorang Edward DP Situmorang 05 May 2026 04:12 WIB
Sambaran Petir Lumpuhkan KRL Green Line: Ribuan Penumpang Terdampak
Petugas PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sedang melakukan pemeriksaan serta perbaikan jaringan listrik aliran atas (LAA) di jalur KRL Green Line setelah insiden sambaran petir pada 18 Mei 2026. (Foto: Ilustrasi/Net)

JAKARTA — Jalur Kereta Rel Listrik (KRL) Green Line lumpuh total pada Senin, 18 Mei 2026, setelah sambaran petir menghantam jaringan listrik aliran atas (LAA) di sekitar Stasiun Palmerah. Insiden krusial ini menelantarkan ribuan penumpang dan mengganggu mobilitas esensial warga ibu kota yang mengandalkan transportasi publik tersebut. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) langsung mengerahkan tim respons darurat untuk evakuasi dan perbaikan.

Gangguan operasional mulai terdeteksi sekitar pukul 14.30 WIB. Seluruh perjalanan KRL yang melintasi jalur dari dan menuju Stasiun Tanah Abang pada Green Line terhenti mendadak. Beberapa saksi mata melaporkan terlihatnya percikan api dan kepulan asap tipis dari instalasi LAA tak lama setelah kilat menyambar, menimbulkan kekhawatiran di kalangan penumpang.

Ribuan komuter yang biasa menggunakan jalur ini untuk aktivitas harian mereka sontak menumpuk di berbagai stasiun, termasuk Kebayoran Lama, Pondok Ranji, dan Sudimara. Antrean panjang tak terhindarkan di loket pengembalian tiket serta area penjemputan transportasi daring, mencerminkan frustrasi publik atas insiden tak terduga ini.

Juru Bicara KCI, Aditia Kusuma, menjelaskan bahwa insiden terjadi saat hujan deras disertai petir melanda kawasan Jakarta Selatan dan sekitarnya. “Petir mengenai instalasi LAA kami secara langsung, menyebabkan putus aliran listrik dan kerusakan parah pada beberapa komponen vital sistem persinyalan. Prioritas utama kami adalah keselamatan seluruh penumpang dan pemulihan jalur secepat mungkin,” tegasnya dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan sore hari.

Tim teknis gabungan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan KCI segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengecekan menyeluruh dan penanganan awal. Proses evakuasi penumpang dari kereta-kereta yang terhenti di tengah jalur juga dilakukan dengan protokol keamanan yang ketat, meskipun memerlukan waktu signifikan.

Untuk mengantisipasi penumpukan penumpang lebih lanjut, KCI mengimbau masyarakat agar mencari moda transportasi alternatif. Layanan pengembalian bea tiket atau penggantian rute perjalanan juga dibuka penuh di seluruh stasiun terdampak, guna meminimalisir kerugian dan ketidaknyamanan penumpang.

Selain kerusakan pada LAA, sistem persinyalan di beberapa titik vital jalur Green Line juga dilaporkan mengalami gangguan. Komplikasi ini mempersulit upaya pengaturan lalu lintas kereta, bahkan setelah perbaikan awal pada sistem kelistrikan dapat dilakukan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem, termasuk intensitas hujan lebat yang disertai petir, di wilayah Jabodetabek. Kondisi cuaca ini menjadi faktor pemicu utama insiden yang melumpuhkan sebagian besar operasional KRL Green Line.

Meskipun insiden sambaran petir langsung pada infrastruktur kereta api cukup jarang terjadi, riwayat serupa pernah tercatat dengan dampak yang bervariasi. Namun, insiden kali ini dianggap lebih signifikan mengingat terjadinya pada jam sibuk, menambah kompleksitas penanganan dan dampak sosial.

Tim teknis bekerja secara maraton, berkejaran dengan waktu untuk memulihkan operasional. KCI menargetkan pemulihan sebagian jalur agar dapat beroperasi kembali sebelum jam pulang kerja, meski kemungkinan besar masih akan terjadi keterlambatan dan pembatalan perjalanan hingga malam hari.

Manajemen KCI menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan dan gangguan mobilitas yang dialami para penumpang. Perusahaan berjanji akan terus melakukan evaluasi dan meningkatkan ketahanan infrastruktur KRL terhadap potensi dampak cuaca ekstrem di masa mendatang.

Insiden ini menjadi pengingat kritis akan pentingnya mitigasi risiko infrastruktur transportasi publik terhadap kondisi alam yang tidak terduga, terutama di tengah perubahan iklim global.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Edward DP Situmorang

Tentang Penulis

Edward DP Situmorang

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!