Miami, Florida – Tim nasional Argentina memastikan tiket krusial menuju babak semifinal Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan perlawanan gigih Swiss dalam pertandingan perempat final yang berlangsung dramatis hingga babak perpanjangan waktu. Kemenangan tipis 1-0 ini menjadi sorotan utama, diwarnai ketegangan tinggi, kejeniusan taktik, dan insiden kontroversial yang melibatkan penyerang Swiss, Breel Embolo.
Laga yang digelar di Stadion Hard Rock pada malam yang mendebarkan tersebut mempertemukan dua kekuatan berbeda. Argentina, sebagai juara bertahan, menghadapi Swiss yang dikenal dengan pertahanan solid dan permainan disipliner. Sejak peluit awal ditiup, intensitas pertandingan terasa membara, dengan kedua tim saling melancarkan serangan namun kesulitan menembus barisan pertahanan lawan.
Megabintang Lionel Messi, kapten Albiceleste, menjadi magnet utama di lapangan. Meskipun ia tidak mencatatkan namanya di papan skor, pergerakan, visi bermain, dan umpan-umpan kuncinya secara konstan menjadi ancaman bagi pertahanan Swiss. Setiap sentuhan bola darinya memicu harapan di antara puluhan ribu suporter Argentina yang memadati stadion.
Swiss, di bawah asuhan pelatih Murat Yakin, menampilkan strategi yang efektif untuk meredam daya gempur Argentina. Mereka disiplin dalam menjaga lini tengah dan belakang, menutup ruang gerak para penyerang lawan, serta mengandalkan serangan balik cepat melalui sayap. Skema ini berhasil menjaga gawang mereka tetap perawan selama 90 menit waktu normal.
Titik balik dalam drama perempat final ini terjadi pada pertengahan babak kedua ketika Breel Embolo terjatuh di kotak penalti Argentina setelah berduel dengan bek lawan. Insiden tersebut memicu protes keras dari para pemain Swiss yang menuntut tendangan penalti. Namun, wasit Marco Guida, setelah meninjau tayangan VAR, memutuskan bahwa Embolo melakukan simulasi atau schwalbe, sehingga kartu kuning pun dilayangkan.
Keputusan wasit yang menegaskan simulasi Embolo ini menjadi perdebatan sengit di media dan kalangan pengamat sepak bola. Banyak yang menyebutnya sebagai salah satu momen paling kontroversial di Piala Dunia 2026. Peristiwa ini mengingatkan pada artikel "Drama Kartu Merah: Embolo Terdepak, Mimpi Swiss di Piala Dunia 2026 Hancur!" yang mengulas insiden serupa di fase grup, menunjukkan reputasi Embolo dalam insiden semacam ini.
Memasuki babak perpanjangan waktu, energi kedua tim mulai terkuras, namun semangat untuk meraih kemenangan tetap membara. Argentina meningkatkan intensitas serangan, mencoba segala cara untuk memecah kebuntuan. Swiss bertahan dengan gigih, berharap dapat memaksakan adu penalti.
Dan kemudian, momen magis itu tiba. Pada menit ke-118, ketika semua orang bersiap untuk babak adu penalti, Angel Di María muncul sebagai pahlawan. Menerima umpan terobosan cerdik dari Messi, Di María dengan tenang melesakkan bola ke sudut gawang Swiss, tak terjangkau kiper Yann Sommer. Gol sensasional ini memecah kebuntuan dan sontak disambut gegap gempita oleh para suporter Argentina.
Gol tunggal Di María menjadi penentu lolosnya Argentina ke empat besar, mengakhiri perlawanan heroik Swiss. Peluit panjang dibunyikan tak lama setelah gol, memastikan kegembiraan Argentina dan kekecewaan mendalam bagi skuad Swiss yang telah berjuang maksimal.
Kemenangan ini bukan hanya sekadar tiket ke semifinal, tetapi juga menegaskan mental baja tim Argentina dalam menghadapi tekanan tertinggi. Mereka kini akan mempersiapkan diri untuk menghadapi lawan berikutnya, dengan harapan besar dapat mempertahankan gelar juara dunia yang mereka raih pada tahun 2022. Jalan menuju final masih panjang, namun satu rintangan besar telah berhasil mereka taklukkan dengan penuh drama dan semangat juang.