BEIRUT — Dua prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Kontingen Garuda XXXIX-F yang bertugas dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon gugur dalam insiden baku tembak di Lebanon Selatan pada Jumat, 12 Juni 2026. Insiden tragis ini juga menyebabkan satu prajurit lainnya menderita luka parah, memicu kutukan keras dari PBB dan seruan untuk investigasi mendalam terhadap serangan tersebut.
Serangan terjadi saat konvoi patroli rutin Kontingen Garuda XXXIX-F melintasi area yang relatif tenang di dekat garis demarkasi, dikenal sebagai Garis Biru. Baku tembak mendadak pecah dari arah tidak terduga, menargetkan kendaraan lapis baja yang ditumpangi pasukan Indonesia. Meskipun respons sigap telah diberikan, dua prajurit atas nama Sersan Satu (Sertu) Rahmat Setiawan dan Prajurit Kepala (Pratu) Adi Nugroho dinyatakan meninggal di tempat kejadian.
Kepala Misi dan Panglima Pasukan PBB di Lebanon (UNIFIL), Mayor Jenderal Marco Rossi, segera menyampaikan duka cita mendalam. “Kami mengutuk keras serangan pengecut ini yang merenggut nyawa para prajurit pemberani yang mengabdi untuk perdamaian,” ujar Mayor Jenderal Rossi dalam pernyataan resminya. “UNIFIL akan melakukan investigasi menyeluruh bekerja sama dengan Angkatan Bersenjata Lebanon untuk mengidentifikasi pelaku dan membawa mereka ke hadapan hukum.”
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan duka cita mendalam atas gugurnya dua prajurit terbaik bangsa. “Bangsa Indonesia berduka atas kehilangan putra-putra terbaiknya yang gugur dalam menjalankan amanah mulia perdamaian dunia,” kata Presiden Prabowo dalam pidato singkatnya dari Istana Negara. Beliau juga menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendukung misi perdamaian PBB, sembari memastikan setiap upaya akan dilakukan untuk melindungi personel yang bertugas.
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, menyatakan telah berkomunikasi dengan Sekretaris Jenderal PBB dan Pemerintah Lebanon untuk memastikan investigasi berjalan transparan dan akuntabel. “Indonesia menuntut keadilan bagi para prajurit yang gugur. Keamanan pasukan perdamaian harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak,” tegas Menlu Retno.
Panglima Tentara Nasional Indonesia, Jenderal (TNI) Budi Santoso, menginstruksikan peningkatan kewaspadaan bagi seluruh personel Kontingen Garuda di Lebanon. “Insiden ini tidak akan menyurutkan semangat kami untuk menjaga perdamaian,” ujar Jenderal Budi Santoso. “Kami akan memastikan dukungan penuh diberikan kepada keluarga pahlawan yang gugur dan kepada prajurit yang terluka.”
Kontingen Garuda Indonesia telah menjadi bagian integral dari UNIFIL sejak tahun 1978, memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di Lebanon Selatan. Ribuan prajurit TNI telah silih berganti mengabdi di wilayah bergejolak tersebut, membangun jembatan persahabatan dengan masyarakat lokal melalui berbagai program sipil dan militer.
Namun, medan tugas di Lebanon senantiasa menyimpan risiko tinggi. Insiden ini bukanlah yang pertama kali menimpa pasukan perdamaian Indonesia. Beberapa tahun sebelumnya, pasukan perdamaian dari berbagai negara juga menghadapi ancaman serius, termasuk serangan ranjau darat dan baku tembak lintas batas, menegaskan betapa gentingnya situasi di kawasan tersebut.
Insiden terbaru ini menyoroti kerapuhan situasi keamanan di Lebanon Selatan dan perlunya penguatan mekanisme perlindungan bagi pasukan perdamaian. Organisasi-organisasi kemanusiaan dan kelompok masyarakat sipil internasional juga menyuarakan keprihatinan, mendesak semua pihak di Lebanon untuk menghormati mandat UNIFIL dan menjamin keselamatan personelnya.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers di Markas Besar PBB di New York, menyampaikan belasungkawa atas nama Sekretaris Jenderal. “Sekretaris Jenderal menegaskan kembali pentingnya perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian PBB dan menekankan bahwa serangan terhadap mereka tidak dapat dibenarkan,” kata Dujarric. “PBB akan bekerja tanpa lelah untuk memastikan keadilan ditegakkan.”
Proses investigasi yang akan melibatkan tim gabungan UNIFIL, Angkatan Bersenjata Lebanon, dan perwakilan Indonesia diharapkan dapat segera mengungkap motif serta pelaku di balik serangan keji ini. Hasil investigasi krusial untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang dan memastikan akuntabilitas penuh.
Meskipun insiden ini menyisakan duka mendalam, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa penarikan pasukan bukan merupakan pilihan. Komitmen pada misi perdamaian PBB tetap teguh, namun dengan evaluasi dan adaptasi strategi pengamanan yang lebih ketat guna meminimalisir risiko bagi prajurit yang mengemban tugas negara di garis depan perdamaian dunia.