INDRAMAYU — Anto (42), seorang ayah asal Jakarta, bersama putranya, Rio (9), memulai perjalanan mudik Lebaran 2026 lebih awal. Mereka melintasi Arteri Pantura Indramayu dengan sepeda motor pada Kamis sore, 19 Maret 2026, menghindari prediksi puncak arus lalu lintas yang padat menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Strategi "curi start" ini ditempuh demi kenyamanan dan keamanan perjalanan anak di tengah potensi kemacetan.
Anto menjelaskan keputusannya untuk berangkat lebih cepat merupakan refleksi pengalaman buruk tahun-tahun sebelumnya. "Kami tidak ingin terjebak antrean panjang lagi. Dengan Rio yang masih kecil, perjalanan harus lebih santai dan aman," ujarnya saat ditemui di sebuah rest area. Ini menjadi upaya antisipasi terhadap beban perjalanan mudik Lebaran yang kerap menghadirkan tantangan besar bagi pengendara roda dua.
Perjalanan yang dimulai dari wilayah Jakarta Timur ini direncanakan memakan waktu dua hari dengan istirahat yang cukup. Jalur Arteri Pantura dipilih karena dinilai memiliki infrastruktur yang lebih baik dibandingkan beberapa rute alternatif, meskipun tetap memerlukan kewaspadaan ekstra terhadap kendaraan besar. Mereka singgah di sejumlah posko peristirahatan yang mulai dibuka oleh otoritas terkait.
Kondisi lalu lintas di sepanjang Indramayu pada sore itu terpantau ramai lancar, jauh berbeda dari suasana hiruk pikuk yang diperkirakan terjadi pada H-3 atau H-2 Lebaran. Beberapa pemudik motor lain dengan tujuan serupa juga terlihat, menunjukkan fenomena "curi start" mulai menjadi tren di kalangan pemudik sepeda motor.
Kementerian Perhubungan, melalui Direktur Jenderal Perhubungan Darat, sebelumnya telah mengimbau masyarakat untuk mudik lebih awal guna mengurai kepadatan. Imbauan ini sejalan dengan perkiraan lonjakan pemudik pada Lebaran 2026 yang diperkirakan mencapai angka 190 juta orang secara nasional.
"Pemerintah telah menyiapkan berbagai skema rekayasa lalu lintas, namun keberangkatan lebih awal tetap menjadi pilihan bijak," kata Juru Bicara Kemenhub. Imbauan ini menekankan pentingnya perencanaan perjalanan yang matang.
Meskipun berangkat lebih awal, Anto mengakui perjalanan menggunakan sepeda motor bersama anak tetap memiliki tantangan tersendiri. Angin kencang, perubahan cuaca mendadak, serta risiko kelelahan menjadi perhatian utama. Ia selalu memastikan Rio mengenakan perlengkapan keselamatan lengkap, termasuk helm berstandar SNI dan jaket tebal.
Persiapan fisik dan kendaraan menjadi kunci bagi Anto. Beberapa hari sebelum keberangkatan, sepeda motornya telah menjalani servis menyeluruh. Barang bawaan pun dibatasi agar tidak mengganggu keseimbangan dan kenyamanan Rio di jok belakang. "Prioritas utama adalah keselamatan dan kesehatan anak selama di perjalanan," tegasnya.
Destinasi akhir keluarga Anto adalah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tempat sanak saudara menanti. Mereka berharap dapat merayakan Idul Fitri dengan tenang dan gembira setelah menempuh perjalanan yang direncanakan matang. Anto berharap strategi mudik lebih awal ini dapat menginspirasi pemudik lain untuk mempertimbangkan opsi serupa.
Fenomena mudik "curi start" tidak hanya merefleksikan keinginan pribadi untuk menghindari kemacetan, tetapi juga menandakan adaptasi masyarakat terhadap dinamika arus mudik yang semakin kompleks setiap tahunnya. Dengan informasi yang mudah diakses, pemudik kini lebih strategis dalam menentukan waktu keberangkatan.
Pola perjalanan seperti yang dilakukan Anto dan Rio diprediksi akan semakin sering terjadi pada tahun-tahun mendatang, terutama bagi pemudik dengan kendaraan pribadi. Ini juga menjadi tantangan bagi pemerintah untuk terus meningkatkan fasilitas dan keamanan jalur mudik agar dapat mengakomodasi berbagai preferensi waktu keberangkatan masyarakat.