Bos EVP: Ancaman AfD Memicu Seruan Pembentukan Tentara Eropa Bersatu

Chris Robert Chris Robert 11 Jul 2026 13:00 WIB
Bos EVP: Ancaman AfD Memicu Seruan Pembentukan Tentara Eropa Bersatu
Ilustrasi: Bos EVP: Ancaman AfD Memicu Seruan Pembentukan Tentara Eropa Bersatu

BRUSSEL – Manfred Weber, Ketua Partai Rakyat Eropa (EVP), menyerukan pembentukan tentara Eropa bersatu menyusul KTT NATO 2026. Desakan ini muncul sebagai respons langsung atas kekhawatiran mendalam terhadap bangkitnya kekuatan politik ekstrem kanan di Eropa, terutama potensi pemerintahan Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) di masa mendatang.

Dalam wawancara eksklusif, Weber secara blak-blakan menyatakan, “Para neo-Nazi, seperti Höcke di dunia ini – mereka adalah musuh kita.” Pernyataan keras ini menggarisbawahi urgensi bagi negara-negara anggota Uni Eropa untuk menyelaraskan kebijakan pertahanan mereka dan membangun kekuatan militer yang kohesif.

Pasca-KTT NATO yang baru saja berakhir, negara-negara Eropa memang tengah berjuang keras merumuskan kembali arsitektur pertahanan di benua itu. Diskusi berkisar pada peningkatan kapasitas, interoperabilitas, dan pembagian beban yang adil, namun gagasan tentara bersama memberikan dimensi politik yang jauh lebih mendalam.

Kekhawatiran Weber bukan tanpa dasar. AfD, sebuah partai dengan akar di sayap kanan jauh, terus menunjukkan peningkatan dukungan signifikan di Jerman. Pertumbuhan AfD, yang dipimpin salah satunya oleh figur kontroversial Björn Höcke, memicu alarm di kalangan elit politik Eropa tentang potensi pergeseran fundamental dalam nilai-nilai demokrasi dan stabilitas regional.

Konsep tentara Eropa telah lama diperdebatkan, namun jarang mendapatkan momentum sekuat sekarang. Para pendukungnya berargumen bahwa kekuatan bersenjata yang terintegrasi akan memperkuat kedaulatan strategis Eropa, mengurangi ketergantungan pada sekutu eksternal, dan menciptakan daya tangkal yang lebih kredibel terhadap berbagai ancaman.

Fokus Weber pada “neo-Nazis” dan “Höcke” mencerminkan persepsi bahwa ancaman terhadap Eropa tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari erosi internal nilai-nilai inti Uni Eropa. Ideologi ekstrem kanan, dengan sentimen anti-imigran dan nasionalisme sempitnya, dianggap dapat merusak fondasi kerja sama dan integrasi.

Fenomena AfD bukan insiden terisolasi; beberapa negara anggota Eropa lain juga menyaksikan gelombang dukungan terhadap partai-partai populis sayap kanan. Kondisi ini memperumit upaya untuk mencapai konsensus dalam isu-isu krusial, termasuk kebijakan pertahanan dan keamanan kolektif.

Pembentukan tentara Eropa bersatu menghadapi tantangan besar, baik dari segi politik, logistik, maupun keuangan. Perbedaan doktrin militer, anggaran pertahanan nasional, dan keinginan untuk mempertahankan kedaulatan merupakan hambatan signifikan yang harus diatasi melalui negosiasi rumit.

Seruan untuk tentara bersama juga berpotensi memengaruhi dinamika hubungan transatlantik dan peran NATO. Meskipun Weber menekankan pentingnya kerja sama dengan Amerika Serikat, langkah menuju otonomi pertahanan Eropa yang lebih besar menandai pergeseran prioritas strategis di tengah situasi geopolitik yang tidak stabil.

Para pemimpin Eropa kini berada di persimpangan jalan, di mana masa depan pertahanan benua dan identitas politiknya akan dibentuk oleh keputusan-keputusan strategis yang diambil dalam beberapa tahun ke depan. Wacana yang dilontarkan oleh Ketua EVP ini jelas menjadi pemicu diskusi yang krusial tentang arah Uni Eropa di tengah ketidakpastian global dan ancaman domestik.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.welt.de
Chris Robert

Tentang Penulis

Chris Robert

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Ad