TEHRAN — Pejabat tinggi pertahanan Iran pada awal tahun 2026 mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, menyatakan bahwa Teheran "bahkan belum memulai" potensi respons terhadap peningkatan kehadiran militer Washington di Selat Hormuz. Pernyataan ini sontak memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik di salah satu jalur pelayaran minyak terpenting dunia.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, merupakan choke point strategis tak terbantahkan. Melalui jalur air sempit ini, sekitar seperlima dari total pasokan minyak global diangkut setiap harinya, menjadikannya arteri vital bagi ekonomi dunia dan pasar energi internasional.
Ketegangan di kawasan ini telah memuncak sepanjang tahun 2025 hingga memasuki 2026, menyusul serangkaian insiden maritim dan retorika agresif antara kedua negara. Washington bersikeras pada hak navigasi bebas, sementara Teheran memandang kehadiran militer asing sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan keamanannya.
Pernyataan tersebut, yang disampaikan oleh Jenderal Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, diwartakan media lokal dan internasional. Bagheri menegaskan Iran memiliki kemampuan tak terbatas untuk mempertahankan diri dan kepentingan nasionalnya di kawasan Teluk Persia. "Kami telah melihat manuver mereka, kami telah mendengar ancaman mereka. Biarlah mereka tahu, kami bahkan belum memulai," ujarnya.
Kalimat "belum memulai" ini mengindikasikan potensi kapasitas Iran untuk melancarkan respons yang jauh lebih signifikan dari yang telah teramati. Ini dapat mencakup taktik asimetris, seperti penggunaan kapal cepat, ranjau laut, atau rudal anti-kapal, yang secara drastis dapat mengganggu lalu lintas maritim.
Sebagai respons, Departemen Pertahanan AS melalui juru bicaranya mengulangi komitmen mereka terhadap kebebasan navigasi dan keamanan mitra regional. "Kehadiran kami di kawasan adalah untuk memastikan stabilitas dan deterensi terhadap agresi," kata juru bicara Pentagon dalam konferensi pers virtual dari Washington.
Analisis intelijen pada awal 2026 menunjukkan peningkatan pengerahan aset angkatan laut AS, termasuk kapal induk dan kapal perusak berpeluru kendali, di perairan dekat Selat Hormuz. Langkah ini dinilai oleh sebagian pengamat sebagai upaya demonstrasi kekuatan yang justru berpotensi memprovokasi Iran.
Negara-negara importir minyak utama, seperti Cina, Jepang, dan negara-negara Eropa, telah menyuarakan keprihatinan mendalam. Harga minyak mentah global melonjak tajam setelah pernyataan Iran tersebut, mencerminkan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan dan stabilitas harga energi.
Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan tampak menemui jalan buntu. Pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington, yang sempat diupayakan beberapa negara penengah pada akhir 2025, gagal menghasilkan terobosan berarti dalam mengurangi eskalasi.
Dr. Arsyad Malik, seorang analis geopolitik dari Universitas Indonesia, menyoroti risiko salah perhitungan. "Retorika keras dari kedua belah pihak meningkatkan peluang insiden kecil berkembang menjadi konflik skala penuh," jelasnya. "Selat Hormuz adalah titik picu geopolitik yang sangat sensitif, dengan konsekuensi global yang signifikan."
Sejarah menunjukkan bahwa Selat Hormuz kerap menjadi arena ketegangan. Insiden-insiden di masa lalu, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan penyitaan kapal, membuktikan betapa rapuhnya keseimbangan di wilayah ini dan pentingnya kehati-hatian dalam setiap tindakan.
Dengan potensi konfrontasi yang semakin nyata dan diplomasi yang mandek, dunia menahan napas menyaksikan dinamika di Selat Hormuz. Peringatan Iran menegaskan bahwa krisis ini masih jauh dari penyelesaian, dan setiap langkah selanjutnya dari kedua pihak akan diawasi dengan cermat oleh komunitas internasional, mengingat dampak ekonominya yang luas.