Iran Tuduh AS Dukung Israel Terus Serang Lebanon, Langgar Gencatan Senjata

Chandra Wijayanto Chandra Wijayanto 10 Apr 2026 04:12 WIB
Iran Tuduh AS Dukung Israel Terus Serang Lebanon, Langgar Gencatan Senjata
Seorang diplomat Iran menyampaikan pernyataan pers di Teheran pada Maret 2026, menyoroti ketegangan regional dan tuduhan terhadap Amerika Serikat terkait konflik di perbatasan Israel-Lebanon. (Foto: Ilustrasi/Net)

TEHERAN — Iran secara tegas menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata di kawasan, menyusul serangkaian serangan udara dan darat Israel yang berkelanjutan di wilayah selatan Lebanon selama pekan terakhir bulan Maret 2026. Washington, melalui juru bicaranya, dengan cepat menolak tuduhan tersebut, menegaskan komitmennya terhadap stabilitas regional serta hak Israel untuk membela diri.

Pernyataan keras dari Kementerian Luar Negeri Iran ini disampaikan menyusul eskalasi ketegangan signifikan di perbatasan Israel-Lebanon, yang dikhawatirkan banyak pihak dapat menyeret kawasan itu ke dalam konflik berskala lebih besar. Teheran berpendapat bahwa dukungan militer dan diplomatik tanpa henti dari AS secara langsung memfasilitasi agresi Israel.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, dalam sebuah konferensi pers pada Selasa, 25 Maret 2026, di Teheran, menyatakan bahwa AS memiliki tanggung jawab moral dan politik atas setiap pelanggaran kedaulatan Lebanon. "Washington tidak dapat bersembunyi di balik dalih netralitas sementara secara aktif mempersenjatai dan melindungi entitas Zionis," tegas Kanaani.

Kanaani lebih lanjut menyoroti bahwa gencatan senjata rapuh yang disepakati melalui mediasi internasional beberapa waktu lalu, kini terancam runtuh total akibat tindakan provokatif. Ia menyebut, serangan yang menargetkan infrastruktur sipil di Lebanon selatan merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.

Di sisi lain, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat merespons tuduhan tersebut dengan sanggahan tegas. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller, menyatakan bahwa Washington senantiasa menganjurkan de-eskalasi dan perlindungan warga sipil di semua pihak.

"Amerika Serikat tidak pernah dan tidak akan pernah melanggar kesepakatan gencatan senjata apa pun. Peran kami selalu sebagai fasilitator perdamaian," ujar Miller dalam sebuah taklimat pers daring dari Washington. "Israel memiliki hak fundamental untuk mempertahankan diri dari ancaman teroris yang berasal dari wilayah Lebanon."

Miller merujuk pada serangan-serangan lintas batas yang dilancarkan oleh kelompok milisi yang beroperasi dari Lebanon, yang menurut AS memicu respons defensif dari pasukan Israel. Ia menekankan perlunya seluruh pihak menghormati kedaulatan negara lain dan mencegah tindakan yang dapat memicu eskalasi.

Situasi di perbatasan selatan Lebanon memang telah memanas secara intermiten sepanjang tahun 2025 dan berlanjut hingga kuartal pertama 2026. Pertukaran serangan artileri dan roket kerap terjadi, menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan organisasi kemanusiaan.

Analis politik internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Karina Wulandari, menilai tuduhan Iran mencerminkan frustrasi mendalam atas dinamika kekuatan di Timur Tengah. "Narasi ini adalah bagian dari perang proksi regional yang lebih luas, di mana Iran berusaha menggalang dukungan melawan pengaruh AS dan Israel," jelas Dr. Karina kepada Cognito Daily.

Menurutnya, Washington berada dalam posisi dilematis, harus menyeimbangkan dukungannya terhadap Israel dengan upaya menjaga stabilitas regional. "Setiap langkah AS di kawasan ini akan selalu ditafsirkan melalui lensa kepentingan geopolitik yang kompleks oleh para aktor regional," tambahnya.

Pemerintah Lebanon sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi yang secara langsung mengomentari tuduhan Iran atau pembelaan AS. Namun, PBB telah berulang kali menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB terkait.

Pada Februari 2026, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, telah menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi kemanusiaan di perbatasan dan menyerukan akses tanpa hambatan bagi bantuan kemanusiaan.

Konflik yang tak kunjung usai ini juga memiliki implikasi serius terhadap stabilitas ekonomi dan sosial di Lebanon, yang sudah bergulat dengan krisis internal multidimensional. Warga sipil di kedua sisi perbatasan terus menanggung beban akibat ketegangan militer.

Pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB kemungkinan akan diadakan dalam waktu dekat untuk membahas tuduhan Iran dan situasi keamanan di Lebanon. Dunia menantikan resolusi diplomatik guna mencegah gejolak lebih lanjut di wilayah yang sudah rentan ini.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Chandra Wijayanto

Tentang Penulis

Chandra Wijayanto

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!